NEWS UPDATE

Rayakan HUT Ke-20, Ameks Berkomitmen Kawal Pembangunan Di Maluku

Syukuran HUT Harian Ambon Ekspres ke-20

HARIAN Pagi Ambon Ekspres, Jumat 12 Juli 2019,  hari ini, berusia 20 tahun,  usia yang tergolong mapan sebagai sebuah media cetak terbesar di Maluku.

Dalam sambutan saat syukuran HUT Ameks (Ambon Ekpres) ke-20, Komisaris Utama Ameks Machfud Waliulu mengatakan di usia ke-20 ini Ameks tetap berkomitmen mengawal pembangunan di Maluku.

“Sebagai sebuah media besar di Maluku, Ameks tetap berkomitmen untuk mengawal pembangunan di Maluku,” ujar Waliulu.

Menurutnya Ameks sejak diterbitkan hingga  saat ini telah menjadi bagian dari pembangunan di Maluku dan selalu berkontribusi untuk kemajuan di Maluku.

“Ameks berkontribusi juga bagi daerah ini, sejak kelahiran Ameks saat konflik lalu, Ameks tetap memberikan yang terbaik bagi Maluku,”  tandas Waliulu, yang juga Komisaris Utama Harian Rakyat Maluku.

Hal senada juga dikemukakan Direktur Harian Ambon Ekpres, Nasri Dumula, bahwa kehadiran Ameks seiring dengan berbagai dinamika pembangunan di Maluku  akan terus menjadi bagian dari sejarah Ameks itu sendiri.

“Berbagai pembangunan di Maluku pasca konflik merupakan bagian dari sejarah Ameks itu sendiri. Karenanya Ameks akan tetap berkomitmen untuk mengawal pembangunan di Maluku tentunya dengan berbagai dinamika yang terjadi,” tandas Nasri.

Pada kesempatan syukuran HUT Ameks ke-20 juga dilakukan doa bersama anak yatim untuk mempercepat kesembuhan Chairman Fajar  Bapak H.M. Alwi Hamu dan tahlilan untuk almarhumah Hj. Nuraini Gani Ottoh.

SEJARAH LAHIRNYA AMEKS 

Sementara itu dalam sejarah lahirnya Ameks, koran terbesar di Maluku yang ditulis mantan Pimpinan Redaksi Harian Ambon Ekspres, Ahmad Ibrahim,  menuturkan malam itu menjelang pukul 19.00 WITA saya mendapat telepon dari Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VII/Wirabuana Mayor Inf. TNI Joko Warsito, SIP untuk menyampaikan kesiapannya menjemput kru Ambon Ekspres terdiri atas saya, Ongki Anakoda, Harun Husein, Hamid Kasim (alm), dan Titin. Tempat kumpulnya di Kantor Harian Fajar, Jl.Racing Center, Makassar.

Kedatangan Mayor Joko Warsito ini tak lain untuk menepati janjinya seminggu sebelumnya guna memfasilitasi pertemuan kami dengan Pangdam VII/Wirabuana Mayjen TNI Suaidi Marasabessy di rumah dinas Jl.Sungai Tangka, Makassar, dalam rangka wawancara untuk persiapan pemuatan edisi perdana Ambon Ekspres tanggal 12 Juli 1999. 

Untuk persiapan rencana penerbitan Ambon Ekspres ini sejumlah rekan baik wartawan, layouter, pemasaran, maupun tenaga percetakan dikirim dari Ambon ke Harian Fajar sebagai bagian dari proses pemagangan. 

Selain wartawan, ada tenaga layouter bernama Martsalan “Alan” Pelupessy, tenaga percetakan Trisno Silehu, dan Jamal Silehu. Tenaga pemasaran ada Ahmad “Eko” Zaki. Di Ambon sendiri ada Pemimpin Umum/Perusahaan Machfud “Ade” Waliulu. 

Rasanya tidak lengkap jika di edisi pertama ini tidak ada wawancara khusus dengan tokoh-tokoh Maluku. Karena itu saya pun berinisiatif dan menugaskan teman-teman untuk mewawancarai beberapa tokoh Maluku yang ada di Makassar. Dengan harapan kelak ini bisa menjadi catatan sejarah.

Selain Pak Suaidi, ada tokoh Maluku lainnya yang menjadi narasumber utama di terbitan perdana itu. Ada mantan Rektor IAIN Alauddin Makassar yang juga adalah putera Desa Iha-Luhu, Pulau Seram yakni Prof. DR. H.M.Saleh Putuhena, ada dosen Filsafat dan Kebudayaan UNHAS yang berasal dari Pulau Tanimbar, Maluku Tenggara Barat yakni Prof. Ishak Ngeljaratan, Pemimpin Redaksi Pedoman Rakyat LE.Manuhua, dan wartawan senior Pedoman Rakyat Pak Sahertian.

Untuk menemui Pak Suaidi memang tidaklah muda. Apalagi beliau saat itu merupakan salah satu putera Maluku terbaik di pusaran TNI yang lagi bersinar. Karena itu kita harus membuat janjian lebih dulu. Itu pun bukan sehari atau dua hari tapi harus seminggu sebelumnya. Lalu, untuk bisa menembus beliau kita harus mencari orang yang mempunyai akses dengannya.  

Saya kemudian mencoba mendekati Wakil Pemimpin Redaksi Harian Fajar Pak Hazairin Sitepu. Hazairin Sitepu adalah putera Desa Illath, Pulau Buru, alumni Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, yang kini telah menjadi bos besar yakni CEO di Grup Radar Bogor. 

Setelah saya menyampaikan maksud tersebut, ia pun langsung menghubungi Pak Suaidi. Jenderal Bintang Dua yang putera terbaik dari Desa Kailolo, Pulau Haruku, Maluku, itu pun bersedia menemui kami menunggu setelah beliau tiba dari Jakarta. 

Tadinya ia menolak untuk tidak mau bertemu wartawan karena beliau sedang diberi tanggung jawab besar oleh Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto untuk berkonsentrasi melakukan penanganan masalah konflik komunal di Ambon/Maluku tanggal 19 Januari 1999.

Saat itu sorotan terhadap TNI memang begitu kencang dari sejumlah kalangan LSM karena mereka menilai adanya ketidaknetralan aparat keamanan dalam penanganan konflik di Maluku.

Namun, karena terus diyakinkan oleh senior dan guru kami Hazairin Sitepu, Pak Suaidi pun bersedia menemui. Melalui Kapendam Joko Warsito, saya dan teman-teman akhirnya  dijemput dan diantar ke kediaman Pangdam. 

Tiba di kediaman terlihat di sisi kiri dan kanan sejumlah pengawal dengan senjata lengkap berdiri tegap di pintu masuk. Kami akhirnya diterima di ruang tamu utama Pangdam. Tak lama kemudian datanglah sosok yang ditunggu-tunggu itu. 

Menggunakan pakaian batik dipadu celana panjang hitam nan necis. Memakai sepatu hitam hak tinggi. Terlihat sorot matanya yang tajam. Intonasi bicaranya sangat tegas diikuti oleh tatapan matanya yang jarang berkedip itu memperkuat persepsi kita jika Pak Suaidi adalah seorang tentara sejati.

Setelah mendapatkan penjelasan soal penerbitan Ambon Ekspres suasana pun mencair. Dengan dialek Ambon yang khas Pak Suaidi mengutarakan pandangannya tentang Maluku kedepan termasuk soal penanganan konflik, kepemimpinan hingga soal membangun rasa saling percaya di antara sesama orang Maluku. 

Ia tadinya menolak diwawancarai wartawan karena takut statemennya itu bisa dianggap oleh sebagian orang di Maluku sebagai bagian dari pesanan yang berbau sponsor. 

Pernyataan Pak Suaidi itu kemudian kami jadikan sebagai topik tulisan khas di rubrik: Dari Meja Redaksi berjudul: “Pesan Sponsor dari Ambon”. “Orang Maluku kalau mau maju tidak boleh menggunakan falsafah katang (kepiting) dalam loyang. Kepiting kalau diletakkan dalam loyang tak ada yang mau mengalah. Kalau ada yang naik sebagian yang lain mau menurunkan atau menjatuhkan,” ujar Pak Suaidi kala itu.

Ia harus mengatakan hal itu, sebab sebagai orang Maluku dia kerab menjumpai bila ada tokoh Maluku yang ingin diorbitkan di pusat banyak di antara kita orang Maluku tidak saling mendukung sebaliknya kita saling menjatuhkan. “Bagaimana orang pusat mau percaya kalau kita sendiri belum bersatu,” ujarnya.

Pak Suaidi termasuk satu di antara jenderal asal Maluku yang ditunjuk oleh Jenderal Wiranto sebagai Ketua Tim 19. Tim ini terdiri atas lima orang jenderal dan 14 perwira menengah asal Maluku yang dibentuk tanggal 7 Maret 1999 untuk melakukan investigasi menyusul adanya tudingan sejumlah LSM atas keberpihakan aparat keamanan dalam konflik Maluku.

Bersamaan Tim 19 dibentuk tak lama kemudian dikirim satu brigade plus setara dengan empat batalion yang berkekuatan 4.000 personel militer dari Pulau Jawa menggantikan pasukan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dari Makassar yang diprotes karena dituduh berpihak pada salah satu kelompok yang bertikai di Ambon itu. 

Tak lama setelah menjabat sebagai Pangdam Wirabuana dan digantikan oleh Mayjen TNI Agus Wirahadikusuma, ia kemudian ditarik ke Jakarta dengan jabatan baru sebagai Pangkostrad TNI dengan pangkat Bintang Tiga yakni Letnan Jenderal (Letjen).

Pada edisi pertama itu, selain memuat wawancara Pak Suaidi berjudul: Pesan Sponsor dari Ambon, juga pada berita utama (headline) dimuat pernyataan dukungan dari Ketua ICMI Letjen TNI (Purn) Ahmad Tirtosudiro yang menyoal presiden wanita dan belakangan terbukti Megawati Soekarnoputri menjadi presiden. 

Kedua, pernyataan Prof M.Saleh Putuhena terkait pentingnya pemekaran Provinsi Maluku menjadi dua provinsi baru dan terbukti pada Oktober 1999 berdirilah Provinsi Maluku Utara. Tinggal satu yang belum terwujud yakni provinsi Maluku Tenggara. (RM) 

======================
--------------------

Berita Populer

To Top