OPINI

Rencanaku Yang Indah

Oleh : M.J. Latuconsina, S.IP, MA, Pemerhati Sosial-Politik

KATA ‘Rencanaku yang Indah’, tidak lain adalah tema episode ke-13 dari novel dengan judul ‘Winnetou Apache Old Shatterhand The Wild West Journy’, karya Karl Friedrich May (1842 –1912), yang populer dengan sebutan Kary May, dia merupakan penulis berkebangsaan Jerman yang sangat terkenal, yang karyanya terlaris sepanjang masa, dengan bertemakan petualangan.

Dalam dialog pada babak ini, disebutkan “rencana Sam sangat berbeda dibandingkan dengan kata-katanya. Aku cuma tidak mau semua orang melihat kartuku, hihihi !”. Suatu dialog, yang bukan bermakna tengah terjadi perjudian, tapi kisah tentang intrik-intrik antara orang kulit putih, dan pribumi Indian di Amerika Serikat.

Seperti kisah pada episode rencanaku yang indah itu, tentu kita selalu merencanakan sesuatu agar indah pada waktunya, dimana berakhir dengan sukses. Itu merupakan sesuatu yang realistis, karena dalam hidup ini, tak ada seorang pun memiliki rencana yang tidak indah. Begitu juga Pablo Emilio Escobar Gaviria (1949-1993), yang populer dengan sebutan Pablo Escobar, seorang gembong narkoba dan pengedar narkoba berkebangsaan Kolombia, yang pada puncak kariernya, menyediakan 80 persen kokain diselundupkan ke Amerika Serikat.

Semasa hidupnya, tentu Pablo Escobar memiliki rencana agar indah pada waktunya. Meskipun rencana yang indah pada waktunya itu tak pernah kesampaian, karena Pablo Escobar enggan bertobat untuk menjadi orang baik, dia lantas menerima nasib buruk dikemudian hari, dimana dia dihujani tima panas oleh Polisi Kolombia pada 2 Desember 1993, hingga akhirnya tewas, yang menandai dia pergi menghadap Sang Pencipta, untuk selama-lamanya.

Tak hanya Escobar di Kolombia saja, tapi juga terdapat Chang Chi Fu (1934-2007), yang populer dengan sebutan Khun Sa, merupakan seorang panglima militer di Myanmar pada era 1960-an, yang terkenal dengan sebutan Jendral Candu, karena dia berperan sebagai penyelundup candu di kawasan segitiga emas ; Myanmar, utara Laos, dan utara Thailand, yang pernah dituduh Pengadilan New York Amerika Serikat mengimpor 1000 ton heroin,

Dia juga memiliki rencana yang indah pada waktunya. Walapun kemudian rencana yang indah pada waktunya itu tak pernah kesampaian, lantaran dia tak mau beralih ke jalan yang benar, untuk menjadi orang baik. Hingga dia pun akhirnya menyerahkan diri pada pemerintah Myanmar pada Januari 1996, lantaran kejahatan yang dilakukannya.

Tatkala rencana yang kita buat, yang di impikan akan tercapai dengan indah pada waktunya, namun dalam perjalanannya tak kesampaikan, kadang kala membuat kita menjadi putus asa. Lantas secara subyektif menyalahkan orang-orang disekitar kita. Bahkan yang paling naif kita pun berkata Sang Maha Agung telah menutup jalan, agar tidak terwujud rencana yang indah itu pada waktunya.

Atas fenomena itu, rupanya kita tengah menuju suatu sikap kufur terhadap Sang Maha Kuasa. Padahal keimanan (faith), menjadi suatu landasan yang kokoh, untuk kita memandang rencana yang indah pada waktunya, yang belum tercapai, sebagai suatu cobaan, lantaran kita sebenarnya tengah di uji oleh Sang Maha Pencipta.

Bukankah Hasyim El-Hanan (2014) seorang penulis, yang populer melalui novel yang berjudul : ‘Merajut Rahmat Cinta: Tiga Hati, Dua Janji, Satu Takdir’, sudah mengingatkan kita bahwa, dalam kelebihan dan kekurangan, terselip ujian dan amanat Tuhan. Keduanya menjanjikan kebahagiaan bila disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik, karena kebahagiaan tidak dapat dilihat semata dari wujud yang tampak di mata, tapi juga ada di hati.

Tentu suatu kata-kata yang memiliki makna, untuk memacu kita merenungkan suatu rencana, yang belum terlaksana dengan indah pada waktunya, tapi sebenarnya hanya merupakan jalan dari Sang Khalik, untuk membuat rencana kita indah pada waktunya. Menghadapi kenytaan itu, tentu kita tetap memiliki spirit guna menggapai sukses dihari esok yang lebih baik lagi. (***)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top