OPINI

SARI

Oleh : M.J. Latuconsina, S.IP, MA, Pemerhati Sosial Politik

PADA  hari Rabu 21 Maret 2019 lalu, tatkala melewati Jalan Kebun Kacang Raya menuju Grand Indonesia Mall, yang berada di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta pusat di sore hari, saya berpapasan dengan pasangan suami istri berkewarganegaraan India, saya terkesima melihat pakain sang istri, yang mengenakan sari pakaian tradisional India, yang hingga kini masih dikenakan para kaum perempuan di negeri Hindustan itu, dimana tidak lekang oleh perkambangan zaman yang semakin modernis ini.

Pikiran saya pun tertuju pada gagasan Swadesi, yang dianjurkan oleh Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948), yang populer dengan sebutan Mahatma Gandi, seorang tokoh pergerakan kemerdekaan India. Suatu ajakan dari Gandi, agar rakyat India mampu mencukupi kebutuhan sendiri dengan hasil dan usaha sendiri. Hal ini dikarenakan, produk India juga tidak kalah dengan produk-produk Inggris kala itu.

Sehingga rakyat India dianjurkan untuk memenuhi kebutuhannya dengan produk negaranya, salah satunya dengan mengenakan pakaian tradisional khas India, yang sesuai dengan karakteristik sosial budaya India, yang mengarah pada spirit nasionalisme dan menolak westernisasi, sebagai protes atas kolonialisme Inggris.

Tidak saja pakaian tradisional sebagai sikap nasionalisme mereka, tapi sebagai suatu bentuk penghargaan rakyat India terhadap budaya mereka yang adilihung, meskipun modernisasi melanda negara itu dengan begitu gencar, tapi mereka tidak menanggalkan budaya mereka begitu saja. Pasalnya, mereka menyadari budaya adalah identitas kebangsaan, yang membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lainnya di level global.

Hal serupa juga dilakukan Jepang, dimana meskipun merupakan salah satu negara maju, namun tidak meminggirkan budaya mereka. Meminjam ungkapan Stephen William Hawking (1942-2018), seorang fisikawan teoretis, kosmologi, pengarang, dan Direktur Penelitian Centre for Theoretical Cosmology di Universitas Cambridg bahwa, “mengapa kita disini? Darimana kita berasal? Secara tradisional, ini adalah pertanyaan untuk filsafat, tetapi filsafat sudah mati.”

Tentu bukan pada substansi diksi filsafat yang menjadi jawabannya, tapi diksi tradisional itu yang harus menjawab modernisasi melanda suatu negara, dan dampaknya pada indentitas kebangsaan sebagaimana pakaian tradisioanal India tersebut.Berbeda dengan Mustafa Kemal Atatürk (1881-1938), yang menggagas westernisasi bagi Turki, dengan menganjurkan rakyat Turki menggunakan pakaian sebagaimana orang-orang Barat (berjas dan bertopi) sejak tahun 1925.

Harapannya westernisasi itu, dapat memajukan Turki untuk setara dengan tetangga negara-negara baratnya, seperti Jerman, Perancis, Belgia, Italia, dan Belanda. Justru kenyataannya Turki sejak dahulu kala, tidak semaju negara-negara tetangga baratnya. Bahkan dibandingkan dengan India, Turki ternyata tidak semaju India dalam berbagai aspek strategis. Buruknya lagi Turki seringkali dilanda krisis ekonomi. Swadesi yang digagas Gandi, dalam konteks Indonesia lebih dikenal dengan Berdirkari (berdiri di kaki sendiri).

Suatu jargon, yang dipelopori oleh Bung Karno (1901-1970), yang nasionalistik berdasarkan karakteristik sosial budaya Indonesia. Hanya saja di Indonesia pakaian tradisonal ciri khas tanah air seperti batik dan kebaya dikenakan pada acara-acara formal seperti ; pelantikan, kawinan, dan kantor. Tidak dikenakan sehari-hari layaknya pakaian tradisonal India sari dan kurta, yang digunakan sehari-hari untuk pria dan wanita, pada acara-acara formal dan pada acara-acara non formal. (***)

 

 

======================
--------------------

Berita Populer

To Top