HUKRIM

Serobot Lahan Ahli Waris Cornelles Sarimanella, JPKP Siap Pidanakan PT Maluku Transhipmen

RakyatMaluku.com – AHLI waris dari keluarga Cornelles Sarimanella melalui kuasanya, Jaringan Pendamping Kebijakan Pembanguan (JPKP) Provinsi Maluku, akan mempidanakan PT Maluku Transhipmen atas dugaan penyerobotan lahan seluas 8,6 hektar yang terletak di Dusun Ori Amaori, Negeri Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon.

Selain memproses hukum, JPKP yang adalah organisasi relawan milik Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu juga akan melaporkan langsung dugaan penyerobotan lahan itu kepada Presiden Jokowi dan Menteri Pertanahan melalui Ketua Umum DPP JPKP Maret Samuel Sueken untuk diketahui.

“Kami dari JPKP Maluku merasa terpanggil untuk membantu kaum lemah dalam hal ini ahli waris dari keluarga Cornelles Sarimanella. Untuk itu kami akan menempuh jalur hukum guna mendapatkan kembali hak-hak ahli waris, yakni tanah pusaka seluas 8,6 hektar yang sudah bertahun-tahun dikuasai PT Maluku Transhipmen tanpa mengantongi surat pelepasan hak dan akta jual beli yang sah,” tegas Ketua DPD JPKP Maluku Edwin L. Akihary, dalam jumpa pers, di Ambon, beberapa hari lalu.

Langkah awal yang sudah dilakukan JPKP Maluku, kata Edwin, telah melayangkan Somasi kepada PT Maluku Transhipmen pada Desember 2017, namun tidak ditanggapi. Bahkan, pihak perusahaan memasang papan larangan diatas lahan seluas 8,6 hektar itu.

Selain itu, kuasa Hukum DPP JPKP juga telah menyurati Badan Pertanahan Nasional (BPN) terkait pengukuran tanah milik ahli waris keluarga Cornelles Sarimanella tahun 2009 lalu, namum sampai saat ini BPN belum juga membalas surat DPP JPKP.

“Dalam Somasi itu kami meminta pihak PT Maluku Transhipmen untuk segera mengembalikan tanah seluas 8,6 hektar kepada pemiliknya, yakni ahli waris dari keluarga Cornelles Sarimanella, berdasarkan bukti-bukti kepemilikan hak tanah yang sah, namun juga tidak digubris pihak perusahan hingga saat ini.

Dijelaskan, pada tahun 1980 ada kesepakatan jual -beli sebidang tanah dengan luas 33,580 Hektar seharga Rp 161.208.000 antara PT Jati Maluku Timber yang diwakili oleh Direktur Utamanya Tan Liong Le bersama anak cucu keluarga Cornelles yang di wakilkan oleh Lamberthus Sarimanella dan Paulus Lesiasel yang mengaku bahwa tanah tersebut adalah miliknya.

Surat dari PT Jati Maluku Timber Pada 29 Januari 1981 dengan Nomor : 116/I/JTM/DN/81, Perihal Pembebasan Tanah, dan Surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Maluku tertanggal 5 Juli 1980 NomorEk. 034/252 Perihal Rekomendasi Pendirian Pembangunan Industri Perkayuan Di Pulau Ambon daerah Tingkat I Maluku.

Kemudian pada 30 Mei 1981, dibuat surat pelepasan hak atas tanah seluas 33,580 Hektar dari keluarga Sarimanella yang ditandatangani oleh Lamberthus Sarimanella serta Paulus Lesiasel dengan Direktur Utama PT Jati Maluku Timber Tan Liong IE, dan diketahui atau disaksikan oleh Panitia Pembebasan Tanah Kotamadya Ambon atas nama Drs. TH. W. Tuhumury, pada Senin 11 Mei 1981.

“Setelah persetujuan penandatanganan kedua belah pihak itu, kemudian dilakukan proses pembongkaran dan penggusuran untuk pembuatan Pabrik Pleiwud (Tripleks) dengan nama PT Jati Maluku Timber berdasarkan Surat Keputusan Pembebasan Tanah Nomor: 06/PDT/KMA/1981 ditetapkan pada 27 Maret 1981 dan di Ketuai oleh Drs. TH. W. Tuhumury dengan NIP. 010025754,” jelas Edwin.

“Dalam proses pembebasan lahan dan penggusuran itu mengakibatkan bayak sekali tanaman yang menjadi mata pencaharian dari masyarakat atau anak cucu keluarga Cornelles yang hancur, sehingga pihak PT Jati Maluku Timber bersedia untuk mengganti rugi dengan cara membayar tanaman-tanaman tersebut kepada yang berhak,” tambahnya.

Pada saat ahli waris keluarga Cornelles Sarimanella melakukan Gugatan melawan Pemerintah Propinsi Maluku (sengketa tanah yang lain) di Pengadilan Negeri Ambon, barulah di ketahui bahwa PT Jati Maluku Timber telah berganti nama menjadi PT Maluku Transhipmen.

Yang mengherankan, lanjut Edwin, tanah pusaka yang dijual kepada PT Jati Maluku Timber pada tahun 1981 seluas 33,580 Hektar itu, kini telah dikuasai oleh PT Maluku Transhipmen dengan luas tanah menjadi 62,580 Hektar.
Yang lebih mengherankan lagi, pada tahun 1981 ahli waris dari keluarga Cornelles Sarimanella yang di wakili oleh Lambertus Sarimanella (Almarhum) tidak pernah menjual tanah melewati sebuah kali yang benama kali Wai Ori.

Belakangan diketahui oleh ahli waris dari keluarga Cornelles bahwa tanah seluas 8,6 Hektar yang berada di seberang kali Wai Ori itu di ambil juga oleh PT Jati Maluku Timber yang dipunyai oleh Keluarga Cendana pada saat itu.

Setelah PT Jati Maluku Timber bangkrut, Direktur PT Jati Maluku Timber kemudian menjual aset perusahannya kepada PT Maluku Transhipmen. Bahkan, tanah seluas 8,6 Hektar yang berada di seberang Kali Wai Ori yang tidak pernah dijual oleh ahli waris keluarga Cornelles juga di ambil oleh PT Maluku Transhipmen, dengan alasan tanah seluas 8,6 Hektar itu milik PT Maluku Transhipmen karena telah membeli seluruh aset dari PT Jati Maluku Timber.

“Jadi, apabila PT Maluku Transhipmen yang gugat kami terkait 8,6 hektar, maka langkah yang diambil DPP JPKP akan mengungkap keseluruhan tanah yg diambil, termasuk tanah seluas 62, 580 hektar,” beber Edwin. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top