HUKRIM

Setubuhi Anak Dibawah Umur, Warga Seilale Dituntut 7 Tahun Penjara

Ilustrasi

TERDAKWA Ferlando Firdolin Kailola alias Lando (22) dituntut pidana penjara selama tujuh tahun, dan membayar denda sebesar Rp 60 juta subsider tiga bulan kurungan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon. 

Sebab, perbuatan warga Seilale, RT 002/ RW 002, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana persetubuhan terhadap anak dibawah umur.

“Menyatakan, perbuatan terdakwa Ferlando Firdolin Kailola alias Lando terbukti melanggar Pasal 81 ayat (1) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” ucap JPU Junita Sahetapy, saat membacakan amar tuntutannya di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Rabu, 23 Januari 2019.

JPU dalam tuntutannya menjelaskan, terdakwa sudah menyetubuhi anak korban (12) yang duduk dibangku kelas Vll itu sebanyak tiga kali layaknya pasangan suami-istri. Pertama, bertempat di rumput-rumput dibawah tempat bilyar, Seilale Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, pada September 2018. Kedua, bertempat di bengkel kawasan Seilale pada September 2018. Dan ketiga, bertempat di tempat billiard kawasan Seilale.

Bahwa pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut diatas, ketika anak korban sedang bermain di rumah teman anak korban, kemudian terdakwa memanggil anak korban, “iko beta ka atas“, lalu anak korban menjawab,“la nanti beta jalan muka baru beta iko se lewat jalan belakang”.

Saat itu anak korban langsung pergi mengikuti terdakwa di tempat biasa anak korban dan terdakwa bertemu, yakni di rumput-rumput tinggi di belakang rumah. Saat anak korban tiba ditempat tujuan, anak korban melihat tentakwa sudah datang kemudian terdakwa berkata kepada anak korban “beta mau setubuhi ose”.

Namun anak korban tidak menjawab apa-apa, kemudian terdakwa menyuruh anak korban untuk membuka pakaian dan terdakwa langsung menyetubui anak korban layaknya pasangan suami-istri. Setelah melampiaskan nafsu bejatnya, terdakwa menyuruh anak korban menggunakan pakaian dan menyuruh anak korban pulang ke rumah dan mengatakan “awas jang se pulang carita par se mama, nanti kalo se pulang carita par se mama se liat saja apa yang terjadi par se”.

Usai mendengar pembacaan tuntutan JPU, Ketua Majelis Hakim R.A.Didi Ismiatun, didampingi dua hakim anggota, Christina Tetelepta dan Amaye Yambeyabdi, kemudian menunda persidangan hingga Rabu pekan depan, dengan agenda sidang Pleidoi (Pembelaan) oleh Penasehat Hukum terdakwa, Thomas Wattimury, SH. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top