NEWS UPDATE

Sidang Caleg DPRD Maluku Hermina Saija, Dakwaan JPU Dinilai Kabur

Hermina Saija

TERDAKWA  Hermina Saija alias Ice (47) melalui Penasehat Hukumnya (PH) Anthoni Hatane, SH.,MH, mengajukan keberatan (eksepsi) atas pembacaan surat dakwaan perkara penipuan dan penggelapan uang bisnis minyak jenis solar, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku. Sebab, surat dakwaan JPU dinilai kabur.

“Kami eksepsi,” kata PH terdakwa, Anthoni Hatane, kepada majelis hakim, menanggapi isi surat dakwaan JPU yang dibacakan Awaluddin dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Senin, 8 April 2019.

Usai mendengar tanggapan PH terdakwa, Ketua Majelis Hakim R.A Didi Ismiatun, didampingi dua hakim anggota Christina Tetelepta dan Amaye M. Yambeyapdi, kemudian menutup persidangan dan akan melanjutkan persidangan hingga Kamis, 11 April 2019 , dengan agenda sidang eksepsi oleh PH terdakwa.

JPU dalam dakwaannya menguraikan, terdakwa Hermina Saija alias Ice yang adalah calon anggota legislatif (Caleg) DPRD Provinsi Maluku daerah pemilihan (dapil) Kota Ambon dari Partai Demokrat tahun 2019 bersama-sama dengan saksi Junus Sairlela, saksi Andri Purnomo, saksi Husainy Harun dan saksi Hengky Kurniawan (berkas terpisah) diduga telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan uang bisnis minyak jenis solar milik saksi korban Bayu Mustafa sebesar Rp 369 juta.

Awalnya saksi korban Bayu Mustafa datang ke Ambon untuk membeli BBM jenis Solar lndustri untuk diisi pada kapal milik saksi korban yang sementara berlabuh di Kepulaun Aru. Kemudian saksi korban menghubungi saksi Junus Sairlela untuk menanyakan apakah ada setok BBM jenis Solar yang akan dibeli oleh saksi korban. Lalu dijawab oleh saksi Junus Sairlela bahwa datang saja ke Ambon, nanti setelah tiba di Ambon saya pertemukan dengan bos minyak.

Kemudian pada Kamis, 3 Mei 2018 sekitar pukul 09.00 Wit, saksi bertemu dengan anaknya yang bernama Komarudin dan Saudara Andri Purnomo, lalu mereka bersama sama berangkat dari Desa Mranak Kabupaten Demak menuju Kota Ambon. Setibanya di Ambon, mereka langsung menuju Penginapan Royal, Jalan Anthoni Reebok, sekitar pukul 18.00 Wit, sesuai arahan saksi Junus Sairlela.

Bahwa setelah saksi korban Bayu Mustafa, Komarudin dan Andri Purnomo tiba dipenginapan itu lalu dia bertemu dengan saksi Junus Sairlela dan temannya yang benama Hesly, kemudian saksi Junur Sairlela mengatakan kepada saksi korban nanti selesai magrib saya pertemukan saksi korban dengan bos minyak di Cafe Ocean.

Sekitar pukul 19.00 Wit, saksi korban bersama Komarudin menuju ke Cafe Ocean, disana sudah ada Saudara Andri Purnomo, Hesly dan saksi Junus Sairlela, dan 30 menit kemudian datang Saudara Husen dan mengatakan kepada saksi korban minyak saya lagi kosong, nanti saya pertemukan dengan pengurus kapal yang ada koneksi minyak. Lalu saksi Junus Sairlela mengatakan kepada saksi korban besok pagi kita ketemu disini lagi.

Keesokan harinya, Jumat, 4 Mei 2018 sekitar pukul 09.00 Wit, saksi korban bersama Komarudin dan Andri Purnomo datang ke Cafe Ocean dan bertemu dengan Husen dan Hengki (pengurus kapal yang ada koneksi), lalu sudara Hengki mengatakan kepada saksi korban sebentar lagi pemilik barang ibu Ice (terdakwa ) datang.

20 menit kemudian terdakwa datang dan langsung mengatakan kepada saksi korban “minyak ada di Dobo, nama kapal BA 01, suruh kapal nelayan bapak merapat ke BA 01 karena sudah koordinasi dengan Pak Lukman” katanya terdakwa. lalu saksi korban mengatakan kepada terdakwa “saya akan bayar minyak solar itu setelah diisi dikapal saya” jawab saksi korban kepada terdakwa.

Tidak lama kemudian saksi Junus Sairlela dan Hesly menghampiri saksi korban sambil mengatakan “pak haji (Bayu MustofA) tunjukkan bukti dana”, dijawab oleh saksi korban “ia saya tunggu dana saya masuk” sambil saksi korban meminta nomor handphone terdakwa, dan terdakwa memberikan saksi korban nomor handphonnya.

Bahwa sekitar pukul 12.00 Wit, setelah selesai solat Jumat, saksi korban menerima SMS dari anaknya yang bernama Komarudin yang mengatakan bahwa uang sudah masuk rekening bapak, lalu saksi korban bersama Hesly dan terdakwa datang ke Bank BCA Ambon untuk menarik uang tersebut dari rekeningnya, namun pihak bank mengatakan tidak bisa kalau menarik uang dalam jumlah banyak, sebelumnya harus ada pemberitahuan dulu.

Lalu saksi korban menyampaikan kepada terdakwa bahwa uang itu tidak bisa diambil, kemudian terdakwa langsung melakukan lobi kepada pihak Bank BCA Ambon, akhirnya saksi korban bisa mengambil uangnya itu dalam dua tahap. Pertama, saksi korban mengambil uangnya itu sebesar Rp 1 miliar yang diisi dalam dua kantong plastic, satu kantong plastic diserahkan kepada saksi Junus Sairlela dan satu kantong lagi diserahkan kepada anak saksi korban yang bernama Komarudin.

Lalu uang tersebut dibawa oleh saksi Junus Sairlela, terdakwa dan Komarudin ke Bank Mandiri Cabang Ambon, sementara saksi korban masih menunggu pengambilan kedua uang itu sebesar Rp 547 juta. Setelah saksi korban selesai mengambil uang itu, lalu dia bersama Andri Purnomo, Hengki Kurniawan, Husen, Hesly dan Saudari Stela menuju ke Bank Mandiri mengikuti terdakwa, Junus Sairlela Dan Komarudin.

Sesampainya di Bank Mandiri, uang Rp 1 miliar yang dibawa oleh Junus Sairlela dan anaknya itu, sudah ditransfer oleh terdakwa kepada orang yang saksi korban tidak tahu namanya. Kemudian saksi Junus Sairlela mengatakan kepada saksi korban “Pak haji ini kapal sudah ada didobo, minyak sudah jelas, tunggu apa lagi waktu kita mepet, setor lagi”. Dijawab oleh saksi korban “Pak ini uang sudah masuk Rp 1 milair tapi minyak belum jelas”.

Kemudian saksi Junus Sairlela mengatakan kepada terdakwa “Bu blokir uang Rp 1 miliar itu”. Namun terdakwa tidak menghiraukan perkataan saksi Junus Sairela tersebut, akhirnya saksi Junus Sairlela marah-marah kepada terdakwa, dan akhirnya terdakwa masuk kedalam Kantor Bank Mandiri dan keluar membawa uang sebesar Rp 631 juta.

Lalu uang tersebut diberikan kepada saksi korban, sementara sisanya sebesar Rp 369 juta, terdakwa berjanji kepada saksi korban akan diberikan minyak solar pada 5 Mei 2018 pada kapal Nelayan KM Dua Putra Perkasa 1-7. Dan apa bila terdakwa tidak bisa melakukan pengisian minyak solar pada kapal saksi korban pada 5 Mei 2018, maka uang saksi korban sebesar Rp 369 juta itu akan dikembalikan oleh terdakwa.

Kemudian pada Sabtu, 5 Mei 2018, terdakwa belum juga melakukan pengisian minyak solar ke kapal milik saksi korban, lalu saksi korban menelpon terdakwa sambil bertanya “kanapa belum diisi kapal saya Bu (terdakwa)”, dijawab oleh terdakwa “kapal dalam perjalanan”.

Lalu pada Minggu, 6 Mei 2018, saksi korban kembali menghubungi terdakwa dengan mengatakan “Ko tidak ada pengisian minyak pada kapal saya”, dijawab oleh terdakwa “kapal masih dalam perjalanan, ada gelombang besar”.

Akhimya saksi korban melaporkan terdakwa ke Polda Maluku untuk diperoses sesuai dengan hukum yang berlaku. Akibat dari perbuatan terdakwa tersebut, saksi korban Bayu Mustofa mengalami kerugian sebesar Rp 369 juta atau setidak-tidaknya lebih dari Rp 250 juta.

Perbuatan terdakwa Hermina Saija alias Ice, warga RT 003, RW 008, Jalan Perumtel Keramat Jaya, Kelurahan Benteng, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, itu diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP (dakwan kesatu), dan Pasal 372 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP (dakwan kedua). (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top