ADVETORIAL

Silaturahmi Ke Keuskupan Bupati Malra Minta Dukungan

Bupati Maluku Tenggara M Taher Hanubun, saat bersilaturahmi dengan Uskup Diosis Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi, di Kantor Keuskupan Amboina, Minggu 27 Januari 2019. (MOHAS AMIR)

Uskup Minta Umat Katolik Marla Dukung Pemerintah

BUPATI Maluku Tenggara (Malra) M. Taher Hanubun bersama beberapa staf pemerintahan Kabupaten Malra menyambangi kantor Keuskupan Amboina di Jalan Pattimura No.26, kelurahan Uritetu, kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Minggu, 27 Januari 2018.

Kedatangan  Bupati Malra itu diterima langsung oleh Uskup Amboina, P. C Mandagi bersama sejumlah staf keuskupan. Kedatangan M Taher Hanubun itu dalam rangka silaturahmi dan meminta dukungan Keuskupan Amboina dalam penyelenggaraan pemerintahan di Malra.

Uskup Amboina, P. C Mandagi kepada wartawan menyampaikan, pihaknya memberikan dukungan kepada Pemerintah Kabupaten Malra di bawah pemerintahan M. Taher Hanubun dalam periodeisasi penyelenggaraan pemerintahan di Malra.

Dukungan yang diberikan oleh Uskup Amboina itu karena Bupati Malra M Taher Hanubun telah diakui negara sebagai kepala pemerintahan di Malra. 

“Saya sebagai uskup menyatakan dukungan 100 persen kepada bapak Bupati Malra M Taher Hanubun. Karena bagi saya bapak Taher Hanubun sudah resmi diangkat oleh negara untuk menjadi pemimpin kita. Tetapi sekaligus juga menjadi mitra,” ujar Uskup Amboina usai pertemuan. 

Dalam kesempatan tersebut, Uskup menghimbau kepada umat Katolik untuk tidak lagi terpecah-belah karena emosi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang berlangsung beberapa waktu lalu. Semuanya harus menentukan langkah gerak untuk mendukung pemerintahan Malra untuk membawa Malra menjadi yang lebih baik.

“Ada beberapa hal yang sudah saya sampaikan, bahwa Bupati boleh perhatikan umat Katolik, tetapi jangan lupa memperhatikan umat Muslim, Ptotestan dan lainnya agar tetap adil, namun tentu secara proporsional dan jangan karena ambil hati orang Katolik dan melawan keadilan. Sebab keadilan adalah segalanya,” tuturnya.

Menurutnya, keadilan harus betul-betul ditegakkan. Sebab, kalau tidak ada keadilan maka bisa menimbulkan konflik di tengah masyarakat dan merusak tatanan hidup yang ada. 

“Saya tidak mau ada konflik di masyarakat. Semua umat beragama yang ada harus diperhatikan,” tegasnya.

Uskup juga memberikan dukungan untuk Maluku Tenggara menjadi daerah yang unggul dalam bidang pariwisata. Karena baginya Malra mempunyai potensi yang sangat besar dalam konteks pariwisata. “Pariwisata itu murah, tapi punya nilai yang besar. Untuk itu harus tetap menjaga kebersihan lingkungannya. Dan saya mendukung penuh Malra ebagai daerah pariwisata,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Malra, M. Taher Hanubun menambahkan, kedatangannya di Keuskupan itu dalam rangka silaturahmi untuk meminta dukungan dalam penyelenggaraan pemerintahan di Malra.

“Saya berterimakasih telah mendapat pelayanan dari Keuskupan dan itu sesuatu yang luar biasa bagi saya. Karena prinsip hidup kami di Malra itu ada tiga tungku yang menjadi kekuatan kita, yakni adat, pemerintah dan juga agama,” jelasnya.

Dia memastikan akan tetap berdiri dan berada di tengah-tengah tiga tungku kekuatan tersebut. Sehingga dapat menyatu. Artinya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. ”Kita ikat menjadi satu kekuatan untuk Malra yang lebih baik kedepan,” tandasnya. (R1/ADV)

 

Mandagi Sebut Hanubun Sebagai Sosok Negarawan

Uskup Diosis Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi, didampingi Bupati Maluku Tenggara, M. Taher Hanubun, saat diwawancarai sejumlah wartawan, Minggu 27 Januari 2019. (Mohas Amir)

USKUP  Amboina, P. C Mandagi, mengaku salut dengan sosok Bupati Maluku Tenggara M. Taher Hanubun karena pasca Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Malra dan setelah resmi dilantik,  Ia mampu menghimpun semua pihak yang berkepentingan untuk membangun daerah.

“Saya salut dengan Bupati Malra karena setelah Pilkada, dia mampu merangkul semua pihak tanpa melihat yang memilihnya saja yang dia pakai, tapi mampu menghimpun semua. Ini jiwa negarawan,” ujar P. C Mandagi kepada Rakyat Maluku, Minggu 27 Januari 2019.

Menurutnya, contoh sosok negarawan itu mampu merangkul semua pihak untuk membangun daerah atau negara. Sehingga orang-orang yang berkompeten itu yang di pakai, bukan berdasarkan suka atau tidak suka terhadap seseorang.

“Itu yang saya senang dari bapak bupati Malra. Saya juga sudah melihat tindak-tanduknya selama beberapa pekan ini. Kepala daerah yang lainnya juga mungkin harus belajar dari sosok Bupati Malra,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Malra M. Taher Hanubun,  yang dikonfirmasi soal tanggapan tersebut mengatakan, berterima kasih terhadap apa yang disampaikan Uskup Amboina. Baginya, apa yang dikatakan menjadi sebuah motivasi untuk membangun Malra dengan selalu mengedepankan hati nurani.

“Saya punya istilah adalah tebarkan kasih kepada semua orang tanpa membedakan siapa dia. Karena itu adalah ajaran dari semua agama yang dalam bahasa Kei adalah Fagnanan. Saya melakukan sesuatu itu dengan kasih sayang,” terangnya.

Menurutnya, kalau melakukan sesuatu dengan dasar kasih sayang, maka tidak akan ada dendam dan benci. Dia berharap setelah semua tokoh agama  mendoakan, saya yakin Malra kedepan akan lebih baik,” tandasnya. (R1/ADV)

 

Peduli Lingkungan, Pemda Malra Bakal Berlakukan Perda Lingkungan

M. Taher Hanubun, Bupati Maluku Tenggara

PEMERINTAH Daerah Maluku Tenggara (Malra) bakal memberlakukan Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan lingkungan di daerah setempat, baik itu perda lingkungan hidup di darat maupun lingkungan wilayah perairan.

Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Taher Hanubun kepada wartawan mengatakan, pihaknya akan segera membuat rancangan peraturan daerah (Ranperda) tentang kebersihan lingkungan untuk ditetapkan dan diberlakukan di Malra.

“Iya, kita akan segera membuat perda terkait kebersihan lingkungan di Malra. Bukan tentang lingkungan di daratan saja tapi juga lingkungan perairan juga harus diberlakukan,” ujarnya.

Menurutnya, Peraturan daerah terkait kebersihan laut itu harus diberlakukan di Malra. Selain untuk menjaga habitat atau biota laut, juga membatasi warga untuk membuang sampah secara sembarangan di laut.

Selain itu juga, peraturan tersebut diberlakukan agar juga membatasi masyarakat untuk memperoleh ikan dengan cara-cara yang tidak benar, seperti meracun dan juga dengan cara bom yang nantinya dapat merusak kerang-kerang yang ada di laut. Sebab, kerang dan karang itu adalah tempat bertelur dan berkembangbiaknya ikan.

Kebersihan wilayah perairan di Malra juga harus diperhatikan. “Hal ini diperlukan agar mengatasi masyarakat yang sering mengambil ikan dengan cara memberi racun, bom dan lainnya,” tandasnya. (R1/ADV)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top