NEWS UPDATE

Status Bencana Maluku Harus Ditingkatkan Ke Siaga Darurat

Rapat Koordinasi lintas pimpinan kabupaten/kota dan UPT se-Provinsi Maluku untuk penanganan tanggap darurat kebencanaan, yang berlangsung di Lantai 6 Kantor Gubernur Maluku, Selasa, 11 Juni 2019.

SEJUMLAH daerah di Provinsi Maluku mulai diguyur hujan. Bencana alam berupa banjir, patahan tanah hingga longsor yang menyebabkan kerusakan material milik masyarakat dan pemerintah kian banyak. Jembatan-jembatan penghubung ambruk dan rusak total, perumahan warga ditimpa longsor, hingga bangunan pemerintah yang menjadi pendukung akses masyarakat.

Bencana terjadi tidak hanya di Kota Ambon, tapi terjadi juga di Kabupaten Seram Bagian Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kota Tual, hingga Kabupaten Buru. Sebab itu, dibutuhkan adanya penanganan tanggap darurat yang melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah kabupaten/kota, provinsi hingga pemerintah pusat. Kalau hanya mengharapkan pemerintah daerah saja, maka proses tanggap darurat untuk menyelamatkan masyarakat dan fasilitas negara dari bencana alam sulit dilakukan. Sebab, daerah memiliki keterbatasan dalam penganggaran untuk bencana, tidak hanya di kabupaten/kota, tapi juga di provinsi.

Di sisi lainnya, intensitas curah hujan, angin dan badai yang terjadi di Maluku justru baru permulaan, dan akan terus berlangsung serta mengalami peningkatan.

Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maluku, intensitas curah hujan yang terjadi sejak tanggal 1 hingga 10 Juni 2019, masih permulaan. Justru, curah hujan akan mengalami peningkatan hingga di atas rata-rata normal di antara bulan Juni hingga Agustus 2019 mendatang. Baru permulaan saja, curah hujan harian saat ini telah mencapai angka prosentasi analisis pada 112 poin 9 untuk wilayah Kota Ambon, atau dengan kata lain di atas curah hujan menengah. Sementara wilayah Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Maluku Tengah dan Pulau Buru, telah memasuki hujan ekstrim dengan debit 100 mm per hari.

Demikian dipaparkan pimpinan BMKG Maluku, W. Paays, dalam Rapat Koordinasi lintas pimpinan kabupaten/kota dan UPT se-Provinsi Maluku untuk penanganan tanggap darurat kebencanaan, yang berlangsung di Lantai 6 Kantor Gubernur Maluku, Selasa, 11 Juni 2019.

Ditambahkan Pimpinan BMKG Maluku, Oral, bahwa curah hujan terparah akan terjadi di Kota Ambon. Sebab, intensitas debitnya di atas rata-rata penilaian normal dengan presentasi analisis 112 poin 9. Sebab itu, harus dilakukan antisipasi dari sekarang, berdasarkan pengalaman bencana yang pernah terjadi di daerah ini.

Rapat yang dipimpin langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku, Farida Salampessy, melibatkan seluruh unsur pimpinan yang berkaitan dengan penanganan bencana dan bencana di tingkat provinsi, maupun kabupaten/kota se-Maluku, termasuk pihak TNI/Polri, BNPB, BPBD, Tagana, Basarnas, BMKG, Dinas PU Provinsi Maluku, IAIN Ambon, Palang Merah Indonesia Daerah Maluku, hingga pihak kesehatan.Salah satu poin penting dalam pertemuan ini, yakni menyatukan seluruh persepsi pimpinan mulai dari provinsi hingga kabupaten/kota, agar segera dikeluarkan warning status bencana.

Kepala BPBD Maluku, Farida Salampessy, setelah mendapatkan laporan atas bencana yang terjadi di Maluku, maka bencana yang menimpa sejumlah kawasan di Maluku, sudah harus ditingkatkan menjadi Status Siaga Darurat Bencana. Sebab itu, lanjut dia, dibutuhkan adanya persepsi yang sama dari seluruh pimpinan kabupaten/kota dan UPT dan lembaga teknis yang menangani masalah bencana, untuk sama-sama melaporkan kondisi bencana di daerahnya masing-masing sebagai bahan rujukan dikeluarkannya status siaga bencana tersebut.

Pembahasan lainnya, pembentukan Tim Penanggulangan Bencana bersama mulai dari tingkat provinsi, hingga kabupaten/kota maupun UPT dan lembaga teknis, dalam rangka melakukan penanganan tanggap darurat bencana, atas beberapa lokasi bencana yang kian parah, seperti di pergerakan tanah yang menyebabkan longsor dan rusaknya fasilitas negara di kampus IAIN Ambon, banjir yang menyebabkan kemiringan parah di jembatan Waikaka, Desa Tala, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, maupun bencana alam lainnya yang membutuhkan penanganan darurat.

Sementara untuk kondisi bencana di kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, dijelaskan Kadis Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Maluku, Ismail Usemahu, bahwa harus dilakukan penanganan tanggap darurat segera. Pasalnya, kontur tanah di lingkungan kampus IAIN Ambon berada pada daerah kemiringan. Selain itu, merupakan daerah resapan air, yang kapanpun dapat menyebabkan adanya pergerakan tanah dan longsor. Atas kondisi yang kian parah itu, maka lanjut, Ismail Usemahu, oleh Kapolda Maluku, telah dibentuk tim penanganan bencana kedaruratan di IAIN Ambon, yang dipimpin langsung oleh dirinya.

Salah satu langkah penting yang dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi pergerakan tanah, yakni dengan membuka jalur air yang terus mengalir di daerah bencana. Di mana, selain telah titik sumber masuknya air hujan telah ditutup dengan terpal, juga tengah disiapkan bahan material berupa bronjong untuk dipasang di area bencana. Rencana lainnya, dengan cara merobohkan bangunan yang sudah rusak namun harus dilakukan secara hati-hati, sehingga tidak menimbulkan efek domino terhadap bangunan lainnya yang ada di kampus IAIN Ambon.

Senada juga diungkapkan perwakilan BNPT Pusat, bahwa untuk IAIN Ambon, dibutuhkan adanya prioritas penanganan darurat. Sebab, selain merupakan akses masyarakat umum, terkhususnya di bidang pendidikan, daerah tersebut setelah ditinjau, juga sangat rawan dengan bencana tanah longsor atau pergerakan tanah.

Lebih mendalam ditekankan oleh Kepala BPBD Kota Ambon, D Paays, bahwa, setelah pihaknya memantau langsung kondisi bencana di IAIN Ambon, maka harus ada penanganan bencana secara terstruktur, sistematis, hati-hati dan secepatnya untuk mencegah adanya bencana susulan. Ia bahkan mengusulkan pentingnya dipikirkan untuk relokasi aktifitas IAIN Ambon secara umum, termasuk untuk kegiatan belajar-mengajar.

Sebab, kondisi tanah di IAIN Ambon menurut dia, sangat memungkin untuk terjadinya bencana longsor hingga pergerakan tanah yang dapat menyebabkan runtuhnya bangunan-bangunan bertingkat di kampus tersebut.

Lebih detil dijelaskan peneliti dari Unpatti Ambon, bahwa, berdasarkan hasil penelitian terhadap kontur tanah di IAIN Ambon, maka tidak ada alasan selain memindahkan sementara seluruh aktifitas di gedung-gedung yang berada di atas bukit, terutama di gedung Rektorat IAIN Ambon. Sebab, apabila intensitas curah hujan terus meningkat, maka tanah yang ada di daerah bencana tersebut dapat bergerak dari atas lereng ke bawah.

Sebab, kontur tanahnya bukan bebatuan yang saling terikat, tapi berupa tanah lempung atau tanah kandungan liar seperti pasir, yang terpisah dan halus. Di mana, ketika cuaca panas, pori-pori tanah akan mengalami kekosongan, dan saat hujan, pori-pori tanah tersebut terisi oleh air dan mengalami pengembangan, hingga terjadi pergerakan tanah. Dan, tegas dia, hal ini sangat rentan ketika berada di daerah lereng bebukitan, seperti di IAIN Ambon.

“Tanah itu terakumulasi dari waktu ke waktu, dan pada saatnya mengalami jenuh dan akan bergerak menuju lereng bukit,” jelas peneliti FPT-PRB Unpatti Ambon.

Sementara Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta, M.Ag, menjelaskan, semua kesimpulan terhadap kondisi bencana di IAIN Ambon akan terus dievaluasi sambil menunggu keputusan tertinggi dari Tim yang sudah dibuatkan dan sedang bekerja.

Terhadap kondisi bencana di IAIN Ambon, ia juga secara intens melaporkannya kepada Kementerian Agama di Pusat, dalam hal ini Dirjen, sehingga ada langkah-langkah penanganan bersama secara cepat dan tepat.

Lebih detil, jelas dia, pada pekan ini, akan ada tim Ahli Geologi dari Jakarta, yang dimediasi oleh Pemprov Maluku, untuk meninjau kondisi bangunan dan mengalisa kondisi tanah di IAIN Ambon, apakah dapat digunakan atau seperti apa. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat dan seluruh pimpinan di lingkup Pemprov Maluku, termasuk TNI/Polri, atas kebijakan penanganan darurat yang sudah dilakukan di IAIN Ambon.

Untuk aktifitas pegawai di gedung Rektorat dan Perpustakaan, lanjut Rektor, saat ini telah dievakuasi ke Gedung Training Centere, dan beberapa unit lainnya ke gedung-gedung yang tidak terdampak bencana. Untuk aktifitas kuliah, Rektor menjamin, tetap akan berjalan normal pada gedung-gedung kuliah, yang jauh dari area bencana. Saat ini, berbagai langkah antisipasi untuk mencegah adanya korban dari bencana tersebut juga telah dilakukan, dengan menginstruksikan seluruh aktifitas civitas untuk menjauh dari area bencana. (WHL)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top