NEWS UPDATE

Suara Petahana Bobol Di “Kandang’, Kinerja Louhenapessy Dan Umasugi Dipertanyakan

RakyatMaluku.com – PETAHANA kalah telak. Salah satu penyumbang kekalahan sang petahana Said Assagaff-Anderias Rentanubun di Pilkada Maluku 27 Juni 2018 lalu karena dua basis suara unggulan Partai Golkar yakni Kota Ambon dan Kabupaten Buru ‘bobol’. Padahal, sejumlah kalangan menilai dua wilayah tersebut menjadi daerah penyumbang atau penyuplai angka kemenangan signifikan bagi petahana namun fakta politiknya yang terjadi justeru berbeda sangat jauh. Petahana tersungkur di ‘‘kandang’-nya sendiri.

Suara Golkar di Kota Ambon yang selama ini dikenal sebagai basis PDI Perjuangan namun meredup setelah ‘dikuasai’ Golkar memasuki 10 tahun terakhir itu mendadak ‘lost control’. Nasib suara petahana Said Assagaff di periode kedua sebagai gubernur Maluku di pusat ibukota Maluku itu pun ‘nyungsep’ di tangan Richard Louhenapessy yang juga adalah Ketua DPD Golkar Kota Ambon dan juga Walikota Ambon, itu.

Uniknya, suara pemilih pertama justeru diraih oleh kandidat dengan nomor urut 3 Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath (HEBAT) dan urutan kedua diraih sang pemenang pasangan nomor urut 2 Murad Ismail-Barnabas Orno (BAILEO).

Menanggapi hal ini Direktur Eksekutif Indonesia Research and Strategy (IRS) Djali Gafur menilai, tidak bisa meletakkan kesalahan seutuhnya kepada kader Golkar yang menjabat sebagai kepala daerah baik di Kota Ambon maupun Kabupaten Buru. “Terjungkalnya petahana di Pilgub Maluku ini disebabkan banyak faktor. Ini menjadi warning yang harus dilihat petahana,” kata Djali.

Menyusul kekalahan petahana itu saling lempar kesalahan pun terjadi. Pasca sejumlah lembaga survei merlis hasil Quick Count terkait kekalahan petahana dari pendatang baru Murad Ismail-Barnabas Orno, menurut Djali, karena mesin partai pengusung ‘mati’. Itu terjadi lantaran saluran komunikasi dan konsolidasi tersumbat.

Di Kabupaten Buru, misalnya. Kota penghasil minyak kayu putih yang selama ini menjadi basis partai Pohon Beringin ini justru menuai hasil yang sangat mengecewakan. Padahal, sebelumnya pada kampanye terbuka Ramli Umasugi yang adalah Ketua DPD Partai Golkar Buru dan juga menjabat sebagai Bupati Buru itu di hadapan petahana menjaminkan suara Golkar di Kabupaten Buru akan diraih di atas angka 70 persen. Namun pada Pilgub 27 Juni 2018 lalu suara Golkar justeru merana.

Sejumlah kabar menyebutkan Ramli Umasugi menjelang Pilkada Maluku berlangsung memang telah ‘menghindar’ dari Assagaff. Sinyalemen itu boleh jadi karena terkait dua bulan menjelang Pilgub Maluku sejumlah kepala daerah di Maluku yang selama ini menjadi basis Golkar disebut-sebut tersangkut dengan persoalan hukum terkait dugaan korupsi.

Tak heran suara dukungan yang selama ini menjadi basis Partai Golkar tempat dimana para kepala daerah itu memimpin seolah memilih jalan “aman”. Bahkan ada kepala daerah yang sebelumnya menjadi sahabat Said Assagaff beralih dukungan setelah tahu kasus hukumnya dipersoalkan oleh aparat.

Bahkan kabar yang diterima menyebutkan Umasugi kepada sejumlah pihak telah berjanji memenangkan calon gubernur lainnya di Kabupaten Buru ketimbang Assagaff. Entah apa penyebab yang terjadi antara Assagaff – Umasugi, tapi faktanya komunikasi Umasugi dan Assagaff putus jelang Pilkada Maluku memasuki tahapan kampanye.

Tak beda dengan Umasugi, Richard Louhenapessy juga disinyalir tidak bekerja maksimal memenangkan Assagaff. Buktinya hasil perolehan suara yang diperoleh Assagaff jauh dari harapan. Anehnya, Louhenapessy dipercayakan sebagai Ketua Tim Pemenangan Said Assagaff – Anderias Rentanubun. Richard Louhenapessy sendiri beberapa minggu menjelang Pilgub juga sempat diperiksa polisi di Polres Pulau Ambon karena dugaan korupsi terkait SPPD fiktif di kantor walikota.

Mirisnya lagi, saat Assagaff yang juga adalah Ketua DPD Golkar Maluku sementara terpuruk, Louhenapessy dikabarkan terbang ke Belanda bersama sejumlah pejabat Pemkot Ambon.

Menanggapi kekalahan petahana itu, Djali menuturkan mestinya petahana memperkuat kerja-kerja tim. Tidak hanya mengandalkan kepala daerah dengan situasi ketatnya pengawasan pelaksana pilkada. Optimalisasi kerja tim penting guna menekan opini yang buruk terhadap citra petahana dalam memimpin Maluku.

“Dengan kondisi yang begitu mestinya diperkuat kerja-kerja tim. Tidak hanya mengandalkan kepala daerah di tengah situasi ketatnya pengawasan pelaksanaan Pilkada,” paparnya.

Bukan itu saja, sehari setelah duketahui kekalahan dalam hitungan quick qount atas Said Assagaff , muncul wacana digelarnya Musdalub DPD Golkar Maluku untuk mengganti Assagaff. Wacana itu muncul setelah dikethaui suara Golkar anjlok.

Djali menilai, effect kekalahan Said Assagaff di Pilkada Maluku tidak hanya berimplikasi bagi evaluasi kinerja Ramli Umasugi dan Richard Louhenapessy tetapi juga mencuat wacana Musdalub) DPD Golkar Maluku untuk melengserkan Assagaff. ‘‘Boleh jadi, kongsi di tubuh Partai Golkar Maluku semakin pecah. Friksi kepentingan atas kekalahan Assagaff akan semakin mengkristal,” paparnya.

Djali memastikan, friksi di Partai Golkar ini akan menajam. ‘‘Dan hal itu akan terakumulasi dari saling curiga dan menyalahkan sesama kader Partai Golkar,’’ ujarnya. (ASI)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top