AMBONESIA

Sukseskan Pemilu Damai, ARMC IAIN Ambon Gelar Dialog Lawan Hoax

PEMILIHAN Umum (Pemilu) yang dirangkai dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI, pemilihan anggota DPD, DPR-RI, DPRD provinsi plus kabupaten/kota tidak lama lagi digelar. 

Hanya menghitung jari, Pemilu akan dilangsukan tepat pada tanggal 17 April 2019 mendatang. Seiring menyambut pelaksanaan Pemilu 2019 tersebut, beredar informasi yang tidak didukung dengan kualitas kebenarannya, atau yang lebih trend dikenal dengan informasi hoax. Informasi berbaur hoax ramai menghias layar kaca diskusi masyarakat terkhususnya di media sosial. 

Buruknya, informasi tersebut secara langsung dikonsumsi masyarakat, tanpa harus menguji kebenarannya. Fatalnya, selain dibaca, juga terus dibagikan secara berantai. 

Kondisi ini kian mengkhawatirkan dan dapat saja mengancam ketahanan bangsa, terutama lagi menjelang pesta demokrasi rakyat pada tanggal 17 April 2019 mendatang. 

Sebab itu, harus diantisipasi dengan berbagai cara, sehingga informasi hoax dapat segera dihentikan penyebarannya. Sebab, hoax sama dengan fitnah di dalam ajaran Islam. 

Demikian disampaikan Direktur Ambon Reconciliation and Mediation Center (ARMC) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Dr. Abidin Wakano, kepada wartawan di sela-sela Diskusi Sehari dengan tema, ‘Pengembangan Kapasitas Khatib dan Penyuluh Agama melawan Hoax’, di Hotel The City, Kota Ambon, Sabtu, 30 Maret 2019. 

Diskusi yang digagas oleh ARMC IAIN Ambon ini, menurut Abidin, merupakan bagian penting dalam usaha untuk menjaga keutuhan dan ketahanan sosial masyarakat, terkhusus untuk melawan penyebaran informasi hoax, yang kian membumi bersamaan dengan agenda pemilihan umum.

Menurut Abidin, pengembangan kapasitas untuk melawan hoax dan mewujudkan Pemilu yang demokratis, damai dan jujur perlu diintenskan. Kali ini, kegiatannya lebih difokuskan kepada para khatib dan penyuluh agama yang bersentuhan langsung dengan aktifitas Medsos. Atau, dalam bahasanya disebut ustat millenial. 

“Kegiatan ini penting, karena mengingat masalah hoax ini, dapat menjadi masalah yang bisa memecahbelahkan persatuan dan kesatuan bangsa. Hoax dalam pandangan Islam sendiri, sebagai bentuk tindakan fitnah.”

Fitnah lanjut Abidin, lebih kejam dari pembunuhan, dan Medsos menjadi salah satu ruang yang paling efektif untuk digunakan. “Digunakan untuk menyebarkan fitnah.” 

Alasan memilih khatib dan penyuluh agama millenial, karena mereka langsung bersentuhan dengan masyarakat. Mereka juga aktif di ruang Medsos, yang merupakan sumber beredarnya informasi hoax tersebut. 

Sehingga, keberadaan para khatib dan penyuluh agama, dapat menjadi penengah untuk menyampaikan kebenaran, serta mengingatkan umat untuk senantiasa selektif terhadap informasi yang disampaikan lewat Medsos. 

“Ustadz memiliki panggung, baik di masjid maupun tempat-tempat khalayak umum. Kegiatan ini memang diutamakan kepada ustadz yang bersentuhan langsung dengan aktifitas millenial, yang bisa menjadi korban penerima informasi hoax, dan juga memiliki potensi untuk melawan hoax.” 

Ustat sendiri, lanjut dia, memiliki mimbar. “Ustat memiliki mimbar yang punya kekuatan. Kalau ustat punya kapasitas yang baik, maka dia bisa menjadi kekuatan untuk menyaring berita atau informasi, selektif dan menyampaikan tentang kebenaran akan suatu informasi untuk disampaikan secara sejuk.” 

Secara substansi, tekan Abidin, dakwah harus mempersatukan, bukan mencerai-beraikan. 

“Harus merangkul, bukan meninju dan sebagainya. Dan, kita lihat bahwa hoax sudah menjalar ke semua hal, baik dalam Pileg, maupun Pemilu. Alhasil, dua tokoh bangsa yang kini menjadi Capres, justru menjadi korban dari intensitas beredarnya informasi hoax tersebut. Untuk itu, harus dilawan bersama-sama oleh seluruh komponen masyarakat,” tegas dia. 

Dari itulah, lanjut dia, ARMC IAIN Ambon merasa penting untuk menggagas kegiatan Dialog Sehari ini, yang serasa hampir dilupakan oleh publik dengan kondisi yang kian kritis saat ini. 

“Prioritasnya kepada ustat milenial ini, karena bisa menjadi korban sebagai orang yang menerima kabar hoax, dan sekaligus memiliki potensi untuk melawan hoax itu sendiri.” 

Kegiatan Dialog Sehari tentang Pengembangan Kapasitas Khatib dan Penyuluh Agama melawan Hoax yang diselenggarakan oleh ARMC IAIN Ambon ini, menghadirkan para narasumber, Dr. Abidin Wakano sendiri dengan materinya, Penguatan Komitmen Kebangsaan dan Perlawanan Tokoh Agama terhadap Hoax, Kepala Bagian Tata Usaha (TU) Kanwil Kemenag Provinsi Maluku, H. Jamaludin Bugis, mewakili Kakanwil Kemenag Maluku, dengan materinya, ‘Peran Tokoh Agama dalam Mengembangkan Khutbah dan Dakwah Damai (Peace Sermon) di Tengah Ancaman Hoax terhadap Stabilitas Pemilu 2019., Ustadz Millenial Chairuddin Talaohu, dengan materinya, Hoax dalam Pandangan Islam dan Cara Mengatasinya., serta praktisi media yang juga jurnalis Maluku, Zainudin Salampessy alias Embong dengan materinya, Hoax dan Kode Etik Pers.

Kegitan ini diikuti oleh peserta sebanyak 41 orang dari unsur khatib dan para penyuluh agama di Kota Ambon. Sejumlah isu tentang informasi hoax dibahas dalam dialog sehari tersebut, seperti, sharing pengalaman antar peserta tentang pergumulan mereka dengan ragam isu hoax yang berseliweran di media elektronik dan dalam jaringan. 

Merumuskan model pendekatan yang efektif digunakan dalam melawan ragam hoax dan apa kendala yang dihadapi dalam mengelola isu hoax. Merumuskan langkah konkrit yang dapat dilakukan untuk menciptakan Pemilu 2019 yang demokratis dan damai. (WHL/ADV)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top