OPINI

Tarung Bebas: “Debat Capres Season II 2019”

Abubakar Solissa

Oleh : Abubakar Solissa, Direktur Executive Partner Politik Indonesia

Saya belum menemukan dalam literatur manapun soal siapa yang pertama kali menggunakan istilah tarung bebas sebagai sebuah kata yang menjelaskan tentang dinamika pertarungan politik dalam konteks debat capres-cawapres.

Kata ini menjadi populer ketika Fahri Hamzah, inisiator Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) itu sering mengucapkannya dalam setiap wawancara terbuka dengan media. Puncaknya ketika Indonesia Lawyers Club (ILC) mengangkat tema “Babak Pertama Debat Capres 2019: Siapa Yang Menang?”, dan Fahri mempertegas pendapat dia soal mekanisme debat yang dianggapnya terlalu kaku dan mengecewakan. 

Padahal menurut Fahri, para paslon ini harus diberikan ruang yang seluas-luasnya untuk mereka bertarung gagasan secara terbuka biar publik bisa tahu isi kepala dari para calon presiden dan wakil presiden yang akan menjadi pemimpin buat mereka lima tahun kedepan. 

Menghadapi dinamika menjelang debat kedua yang hanya mengikutkan para kandidat calon presiden (capres) rasanya penting juga untuk mempertimbangkan berbagai opini publik yang selama ini berkembang di masyarakat. Ekspresi kekecewaan dari para penonton saat debat perdana harus dilihat sebagai sikap protes atas penampilan kedua paslon yang terlalu membosankan.

Padahal debat perdana yang ditayangkan secara langsung oleh beberapa TV nasional bisa dimaksimalkan oleh para kandidat baik capres maupun cawapres untuk menyampaikan gagasan-gagasan politiknya dalam memimpin republik ini. 

Mereka harus tampil powerfull dengan membonceng argumentasi-argumentasi mutakhir soal cara penyelesaian persoalan kebangsaan. 

Dari kubu petahana harus bisa meyakinkan publik bahwa mereka telah melakukan banyak hal tapi tidak bisa menyelesaikan semua hal dalam kurun waktu yang relatif terlalu singkat. 

Kubu penantang juga demikian: harus berani menyampaikan fakta bahwa kubu petahana gagal memaksimalkan kesempatan yang sudah diberikan oleh rakyat pada pilpres 2014 dengan menggunakan premis dari capaian-capaian pemerintah hari ini yang dianggap jauh dari ekspektasi publik, serta apa tawaran kongrit dari penantang sebagai solusi penyelesaian masalah atas kegagalan petahana, sehingga publik merasa puas dengan dialektika debat yang dipertunjukan oleh kedua kubu. 

Mestinya momentum semacam ini yang seharusnya dipertunjukan oleh kedua paslon saat debat argumentasi yang mampu memecah kebuntuan dari sejuta persoalan yang hari ini masih menyelimuti bangsa ini yang harus dituntaskan. 

Hadirkan narasi-narasi terbaik yang menggelorakan harapan publik sehingga mereka itu bisa yakin kalau kandidat capres-cawapres hari ini punya potensi, dan layak untuk mandat politik rakyat itu dititipkan sebagai amanah politik yang harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. 

Debat Capres Itu Adalah Show Paling Prestisius 

Layaknya sebuah pertunjukan dipanggung hiburan yang tujuannya adalah menghibur: maka debat capres ditanggal 17 Februari nanti adalah sebuah pertunjukan (show) paling prestisius dan mutakhir dibangsa ini.

Ini pertunjukan yang levelnya paling tertinggi, karena menampilkan aktor-aktor terbaik dengan proses seleksi yang ketat dengan tingkat kualifikasi leadership yang mumpuni. 

Dari 260 juta lebih penduduk Indonesia, hanya dua orang yang terpilih sebagai kandidat calon presiden, dan dua orangnya lagi menjadi kandidat calon wakil presiden. Artinya, keempat orang ini adalah yang paling agung diantara manusia-manusia lainnya di republik ini. 

Berangkat dari asumsi diatas, maka dinamika debat capresnya juga harus kompatibel dengan kelasnya. Para capres ini tidak boleh menghadirkan narasi debat yang kontradiksi, yang ujung-ujungnya adalah membuat para penonton kecewa, karena keduanya gagal mempertunjukan penampilan terbaik mereka sebagai kandidat orang nomor satu di negeri ini. 

Mestinya, baik petahana maupun penantang bisa belajar dari debat-debat maha penting di Amerika Serikat. Seperti Jhon F. Kennedy dan Richard Nixon (1960), Gerald Ford dan Jimmy Carter (1976), George HW. Bush dan Bill Clinton (1992), Barack Obama dan Jhon McCain (2008) serta Barack Obama dan Mitt Romney diperiode kedua (2012).

Pun halnya dengan perdebatan yang melibatkan politisi perempuan Partai Demokrat, Hilary Clinton dan Donal Trump yang diusung oleh Partai Republik dipilpres Amerika Serikat tahun 2016 yang mengundang duskursus politik global sampai dengan hari ini. (***)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top