I Like MONDAY

Teroris Domestik

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

Aksi para pendukung Presiden Donald Trump menerobos Gedung Kongres di Capitol Hill, Washington, DC, AS, Rabu, (6/1/21), memperkuat dugaan adanya polarisasi antar kelompok di Negeri Paman Sam itu kian menajam.

Perlakuan aparat keamanan yang seolah membiarkan aksi itu merangsek gedung parlemen tempat dimana akan diumumkannya penetapan presiden terpilih AS Joe Biden oleh anggota kongres yang berujung rusuh pada hari yang sama membuktikan perpecahan berbau rasial antara kulit putih dan hitam semakin menguat.

Alih-alih untuk mengamankan pendemo petugas seolah membiarkan pendukung Donald Trump itu. Kondisi berbeda justeru terjadi saat demo atas tewasnya warga kulit hitam George Floyd di tangan polisi di Washington 2 Juni 2020 lalu dimana aparat begitu sigap dengan menurunkan ribuan petugas lengkap dengan senjata, dan membarikade sejumlah fasilitas penting di ibukota negara adidaya itu.

Bahkan organisasi Black Lives Matter Global Network menyebut perbedaan perlakuan kedua demo ini menunjukkan adanya double standard kemunafikan (hypocrisy) dan ketidakadilan dari penegak hukum dalam menghadapi aksi demo.

Itulah yang membuat presiden AS terpilih Joe Biden yang akan dilantik 22 Januari 2021 menganggap aksi demo pendukung Trump tersebut tak ubahnya dengan “teroris domestik”.

Bahkan dalam beberapa media setempat menuliskan aksi tersebut sebagai ulah para “pemberontak”.

“Jangan menyebut mereka pemrotes. Mereka gerombolan pengacau, pemberontak, teroris domestik. Itulah aslinya,” kata Biden dari Partai Demokrat, itu.

AS yang selama ini dianggap sebagai kampiun demokrasi kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Paling tidak sejak Presiden Donald Trump dari kubu Partai Republik memerintah — AS berada di ambang perpecahan berbau rasial yang meletup dimana-mana di seluruh negara bagian.

Negara yang selama ini dianggap sebagai kiblat demokrasi dan HAM pun tercoreng akibat ulah Trump yang kerab mengundang kontroversi itu.

“Empat tahun terakhir kami telah memiliki presiden yang menghina demokrasi kami, konstitusi, supremasi hukum, jelas dalam segala hal ia telah lakukan,” kata Biden berbicara soal Trump, Kamis, (7/1/21), waktu AS.

Dan, tentu aksi ribuan demonstran di Gedung Kongres itu telah memalukan dan mencederai demokrasi AS yang telah dibangun 245 tahun hanya karena ulah Trump yang tak mengakui kemenangan Joe Biden pada hasil Pemilu, 3 Nopember 2020, lalu.

Insiden di Gedung Kongres ini membuat tudingan atas AS sebagai bagian dari hukum karma. Sikapnya menduduki dan menyerang beberapa negara terutama di Timur Tengah dengan beragam dalih kemanusiaan, demokrasi, dan HAM justeru kini berbalik arah dan terancam dari dalam.

Rakyat AS kini justeru berbalik menyerang pemerintahannya sendiri. Sementara konflik antar ras sudah berada dalam ambang yang memprihatinkan.

Slogan sebagai kampiun demokrasi dan HAM justeru hanya kamuflase dan sesama rakyatnya kini terancam perang saudara.

Kita tentu tak ingin hal itu terjadi. Tapi, bertolak pada kasus yang ada selama ini, AS tentu harus melakukan reevaluasi atas sikap politiknya baik ke dalam maupun luar negeri.

Tudingan presiden terpilih Joe Biden atas adanya “teroris domestik” dan kelompok “pemberontak” kepada pendukung Trump memperlihatkan begitu banyak kebencian terhadap kebijakan politik pemerintahan pada kubu pendukung Partai Republik yang umumnya didominasi warga kulit putih itu.

Polarisasi yang menajam itulah membuat Joe Biden bersuara keras. Tuduhan atas Trump yang telah menyulut tindakan kekerasan itu secara tak langsung telah menyerang demokrasi paling kelam dalam sejarah panjang AS.

Tugas berat kini menanti Joe Biden setelah dia dilantik 22 Januari 2021 nanti. Salah satunya yakni menormalisasikan kembali polarisasi di masyarakat, berikut menormalkan kembali kondisi politik ke dalam dan luar negeri agar popularitasnya sebagai negara adidaya kembali pulih.

Jika ini tak mampu dilakukan oleh seorang Biden maka boleh jadi sinyalemen yang selama ini dikhawatirkan oleh banyak pihak terkait polarisasi akibat perpecahan antarras dengan —meminjam istilah Joe Biden kelompok “teroris domestik” dan “pemberontak”— akan semakin menambah kenyataan.(*)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top