NEWS UPDATE

Tumpahan Minyak Cemari Lingkungan?

RakyatMaluku.com – DIKHAWATIRKAN terjadi pence­ma­ran lingkungan, PT. Pertamina Wa­yame bersama-sama dengan Dinas Ling­kungan Hidup Provinsi Maluku sementara melakukan uji laboratorium terhadap dampak lingkungan akibat tumpahan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Avtur dari tanki terminal BBM Wayame pada 15 Agustus 2018 lalu.

Pasalnya, akibat dari bocornya tanki di terminal BBM wayame itu sehingga meluap ke kali hingga kelaut, sehingga disinyalir bisa berdampak pada pencemaran lingkungan, baik dilingkungan masyarakat maupun di lingkungan perairan.

Untuk mengantisipasi terjadinya pencemaran lingkungan, maka pihak PT. Pertamina persero di kawasan wayame kecamatan Teluk Ambon telah melakukan upaya normalisasi terhadap ancaman pencemaran lingkungan di kali dan juga di laut sekitar kawasan tersebut.

Brands Marketing Pertamina Maluku Donny Brilianto usai melakukan rapat bersama Komisi B DPRD Maluku mengatakan, pihakny telah memasangkan oil Boom sebagai penahan minyak agar tidak mengalir ke luar. Sementara di laut itu sudah dipasang oil dispersan yang merupakan cairan pemecah minyak agar menjadi patikel-partikel kecil.

“Disungai tempat minyak tumpah itu sekarang sudah bersih, dan dilaut juga sudah tidak ada minyak lagi. Namun sampai dengan saat ini kami masih menunggu hasil uji sampel yang dilakukan bersama-sama dengan Dinas Lingkungan Hidup provinsi Maluku,” ujar Donny kepada wartawan di ruang komisi B DPRD Maluku, Senin (20/8).

Kepala Dinas lingkungan Hidup Provinsi Maluku, Vera Tomasoa mengatakan, hingga sat ini tim masih melakukan pengkajian jenis BBM itu sampai ke Teluk Dalam Ambon. Tingkat pencemarn itu baru bisa disampaikan jika hasil uji laboratorium terhadap sampel yang diambil itu sudah ada.

“Jadi sat ini kita belum bisa memperkirakan sebelum hasil lab itu keluar, apakah ada planton atau biota-biota laut itu berpengaruh. Kalau ada pengaruhnya, maka akan diambil tindakan terhadap pertamina untuk bagaimana kembali memulihkannya,” jelas Vera.

Dikatakan, hasil uji Laboratorium itu dilakukan selama dua minggu. Dimana sampel yang di Ambil itu dari empat titik di sungai dan juga lima titik di laut yang kemudian dibagi dua untuk diberikan ke pertamina.

Sementara itu, Anggota Komisi B, Welem Wattimena mengatakan, pihak komisi B akan tetap mengawal masalah tersebut. Pihaknya tentu menunggu hasil uji Lab yang dilakukan oleh Pertamina dan Dinas lingkungan Hidup.
“Jika Hasil Lab itu dapat merugikan lingkungan, maka pihaknya akan berupaya untuk bagaimana mengeluarkan rekomendasi terhadap Pertamina dalam rangka melakukan pemulihan terhadap lingkungan yang tercemar. Sehingga tidak merugikan masyarakat yang ada disekitar,” tegasnya. (R1)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top