NEWS UPDATE

Untung-Rugi Bisnis ‘Lendir’ Di Tanjung Batu Merah

Uang ‘Lendir’ Mengalir Ke Polres

PARA pemilik tempat karoke di kawasan Tanjung Batu Merah keberatan dengan upaya pemerintah untuk menutup aktivitas bisnis yang mereka jalankan selama ini. 

Berbagai alasan mereka utarakan, tidak hanya soal ketaatan membayar pajak kepada pemerintah Kota Ambon yang rutin dilakukan tiap tahun, tapi juga mengenai masalah ekonomi ketika kawasan itu ditutup pemerintah.

Masyarakat disekitar lokasi pun tidak pernah resah dengan keberadaan lokalisasi atau tempat karaoke, mereka juga tidak terpancing dengan isu penyakit menular. Karena mereka tahu persis keadaan disini seperti apa. Bahkan ada efek domino yang lumayan dirasakan manfaatnya serta dinikmati warga sekitar. 

Selain itu mereka juga mengaku, setiap tiga bulan sekali ada uang yang mereka setorkan ke Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease. 

“Setiap karaoke disini juga ada membayar ijin keramaian ke Polres Ambon sebesar Rp 300 ribu per tiga bulan,” beber sumber Rakyat Maluku.

Pada kesempatan wawancara, mereka juga membantah tudingan miring yang dialamatkan kepada lokalisasi Tanjung Batu Merah mengenai angka penyebaran virus HIV/AIDS yang marak dipublikasikan media.

“Buktinya setiap isu HIV AIDS dimainkan, dinas kesehatan santai-santai saja. Dan kalau memang benar ada pramuria disini ada yang terkena penyakit menular, kenapa pihak dinas kesehatan tidak mengambil sikap dan tindakan. Kan mereka yang rutin melakukan pemeriksaan kesehatan disini,” sesalnya. 

Sementara itu, Dinas Kesehatan Ambon akui selalu rutin melakukan pemeriksaan Pekerja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi Tanjung Batu Merah.

“Pemeriksaan rutin kesehatan PSK disertai pengambilan sampel darahnya untuk mendeteksi apakah di antara mereka tertular virus HIV/AIDS,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Wendy Pelupessy, Rabu 19 Juni 2019.

Pemeriksaan rutin dilakukan setiap bulan bagi 189 PSK yang beraktivitas di lokalisasi tanjung Batu Merah. 

“Bulan Juni pemeriksaan dilakukan bagi PSK yang pulang mudik dari kampung halaman, tahap awal telah dilakukan untuk 106 orang, sisanya akan dilakukan bulan Juli,” katanya.

Wendy menjelaskan, dari jumlah 189 PSK yang beraktivitas di lokalisasi enam di antaranya positif teriveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Enam penderita HIV merupakan kasus lama, tetapi selalu dalam pantauan dan pengobatan dinkes, baik tim puskesmas Rijali atau tim dari dinas yang melakukan pemeriksaan bersama.

“Mereka rutin mendapat obat antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi penderita HIV, yang dalam pantauan dan pengobatan,” ujarnya. Diakuinya, PSK di lokalisasi Batu Merah sebagaian besar berasal dari luar kota Ambon atau 90 persen merupakan pendatang yakni dari Sulawesi maupun pulau Jawa.

“Hasil pengawasan yang kami lakukan untuk 104 orang, bulan Juli akan dilanjutkan untuk PSK yang kembali ke lokalisasi,” ujarnya. 

Ia mengakui, yang menjadi masalah jika ada saat kembali membawa teman atau keluarga bisa saja jumlah penderita bertambah, sehingga harus rutin dilakukan pemeriksaan.

Selain itu jika terlokalisasi dari sisi kesehatan pihaknya bisa memantau dari sisi pengobatan atau saat melayani wajib menggunakan kondom untuk melindungi kesehatan.

“Data sebelumnya dari 189 PSK terdata delapan kasus HIV, tetapi hasil pemeriksaan yang baru dilakukan enam kasus, karena dari 189 PSK yang baru datang 104 dengan temuan enam kasus, sedangkan dua penderita lainnya belum kembali, yang selanjutnya akan dilakukan pembinaan dan pengobatan lanjutan,” tandas Wendy.(TIM)

Tiap Tahun Puluhan Juta Rupiah Disetor Ke Pemkot

BEBERAPA waktu lalu, rencana penutupan kawasan lokasilisasi Tanjung Batumerah menjadi hangat dibicangkan berbagai pihak, tapi sampai sekarang aktivitas haram masih terus ada.

Kawasan yang berada pada titik koordinat 3041’6 LS dan 128011’10 BT Pulau Ambon itu bahkan masih saja didatangi pria hidung belang berbagai usia dan latar belakang. 

Lokalisasi Tanjung Batu Merah mulai beroperasi sejak 1983, dan tercatat pada tahun 2015 ada 187-200  Pekerja Seks Komersial (PSK) yang menjajakan diri kepada pria hidung belang. 

Tiap losmen terdiri dari satu ruang karoke dan lima sampai 10 bilik kamar kost yang dipakai sebagai tempat transaksi seks. Kegiatan ini dimulai di malam hari sekitar pukul 19.00 WIB terkadang juga dibuka layanan pada siang hari. 

Salah satu pemilik losmen yang meminta agar namanya tak diberitakan mengaku, akhir-akhir ini pengunjung makin sepi, tidak lagi seramai yang dulu, bisnis yang mereka jalankan pun mengalami pasang surut, sehingga banyak pramuria yang dipekerjakan tidak digaji dengan baik. Banyak yang masih menunggak hutang di koperasi dan bank.

Sehingga keputusan pemerintah yang akan menutup aktivitas kawasan Tanjung Batumerah perlu dipertimbangkan dulu.

” Yang perlu saya pertanyakan ke pemerintah adalah jika benar karaoke-karaoke ditutup, lantas bagaimana penyelesaian pembayaran hutang piutung pramuria di sejumlah koperasi, apakah pemerintah siap membantu?” katanya, kepada Rakyat Maluku, kemarin.

Rencana penutupan kawasan Tanjung Batu Merah juga sangat tidak beralasan, mengingat bisnis yang mereka lakukan saat ini sah dan mendapatkan izin dari pemerintah Kota Ambon, para pelaku usaha pun taat membayar pajak. 

“Saya pribadi bayar pajak tahunan Rp 3 juta, yang lainnya saya tidak tahu bayar berapa,” katanya 

Menurutnya, ada 29 tempat hiburan malam yang kini beroperasi di kawasan Tanjung Batu Merah, nominal pajak tahunan yang mereka setorkan ke pemerintah Kota Ambon tergantung luasnya tempat karaoke sesuai izin yang mereka kantongi seperti tempat-tempat hiburan malam lainnya yang beroperasi di Kota Ambon. 

“Kalau memang walikota mau menutup semua karaoke di Tanjung maka seluruh karaoke di Kota Ambon juga harus ditutup, biar adil. Dan kalau yang dipersoalkan disini adalah lokalisasinya, ya silahkan pemerintah kota Ambon cukup mengambil kebijakan dengan melakukan penertiban lokalisasi saja, tanpa harus menutup ijin usaha karaoke kami,” ujarnya. (TIM)

MUI Minta Negara Tegas Tutup Lokalisasi Tanjung 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku kembali mendesak Pemerintah Kota Ambon untuk tegas mengambil sikap mengenai praktek sekes bebas di kawasan Tanjung Batu Merah.

Ketua MUI Maluku, Dr. Abdullah Latuapo mengatakan semua agama menolak seks bebas termasuk bisnis prostitusi. Seks bebas sudah menjadi penyakit masyarakat yang tidak diterima semua orang, dan sudah dilarang oleh semua agama. 

“Maka, negara juga harus tegas untuk menolak hal ini sebagai kebijakan untuk menghargai umat. Dalam Islam, seks bebas itu sangat tegas dilarangan,” kata Latuapo kepada Rakyat Maluku, kemarin.

Selain itu, MUI juga mendorong pemerintah tidak membiarkan pekerja seks ini hidup berkeliaran, tapi harus dibina. Mereka harus diberikan modal untuk membuka usaha dan sebagainya. Masyarakat yang selama ini menaruh sumber ekonominya di daerah tersebut pun harus diperhatikan. 

“Kalau usaha itu dapat dilakukan dengan baik, maka ikhtiar kita untuk menghapus tindakan-tindakan  prostitusi di daerah ini dapat terlaksana dengan baik. Semua kebijakan tegas itu harus ditempuh dengan sikap yang bijak,” tegas Abdullah, yang juga Wakil Rektor III IAIN Ambon.

Sosiolog IAIN Ambon, Dr. Abdul Manaf Tubaka, M.Si juga menekankan keberadaan lokalisasi Tanjung Batu Merah sangat tidak baik. Namun ketika ada kebijakan direlokasi, maka perlu dipertimbangkan dampak dari relokasi itu sendiri. 

“Penting sekarang yang harus dilihat adalah dampak dari relokasi itu, orang-orang itu harus diidentifikasi juga bagaimana penanganannya itu yang penting,” kata Manaf. 

Selain itu, kawasan lokalisasi Tanjung Batu Merah harusnya diubah dan dijadikan kawasan pertumbuhan ekonomi baru bagi rakyat, sehingga mengurai efek buruk dari dampak relokasi atau penutupan.

Sementara bagi para pekerja seks komersial, perlu ada skema yang baik untuk menangani mereka, pemerintah perlu melakukan pembinaan kewirausahaan bagi mereka serta melokalisir aktivitas mereka supaya mereka tidak membuka praktek secara liar.

“Dari sisi sosiologis bahwa relasi di sana itu hampir semua sudah tidak menginginkan ada lokasi semacam itu. Kita kan ingin ada Smart Solution di situ sehingga bisa menghadirkan sesuatu yang baik nantinya,” ujarnya. (TIM)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top