AMBONESIA

Warga Hitumesing-Wakal Sepakat Berdamai

RakyatMaluku.comWARGA dari Negeri Hitumesing dan Negeri Wakal, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) berjanji serta sepakat untuk hidup rukun dan damai tanpa pertikaian. Janji hidup berdamai oleh warga dua negeri tetangga di Kecamatan Leihitu ini dibuat dalam kesapahaman bersama di Polres Pulau Ambon dan Pp Lease, Senin, 7 Mei 2018.

Penandatangan surat kesepakat damai dilakukan oleh Pejabat Negeri Hitumesing, Edwin Slamet, dan Raja Wakal Ahaja Suneth, serta tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda kedua negeri juga keluarga korban bentrok tahun 2017 lalu. Kesepakatan damai ini diprakarsai Polsek Leihitu, pimpinan Iptu Djafar Lessy.

Wakil Bupati Malteng, Marlatu L Leleury, yang ikut menyaksikan penandatanganan kesepamahaman bersama untuk hidup damai ini, mengaku bangga kepada masyarakat dari dua negeri, yang sudah bersedia untuk mengakhiri pertikaian yang kerap terjadi. Tentu, pertikaian tidak lain hanya akan merugikan semua pihak. Sebab itu, masyarakat sekiranya tidak boleh lama-lama membiarkan masalah yang menimpa mereka.

“Langkah-langkah ini lebih baik, sehingga ke depan kedua negeri dapat bersama-sama. Kita harus berterima kasih kepada Kapolres Pulau Ambon dan Pp Lease. Ada beberapa desa yang selalu terlibat konflik, dan ini dapat diselesaikan baik-baik. Di Saparua, kami minta membangun Salib di perbatasan kedua negeri yang bertikai.

Bila terjadi pertikaian, mereka bersama-sama datang ke Salib dan berdoa seraya meminta ampun. Ini satu model yang bisa dikembangkan sehingga terjadi sesuatu, bisa sama-sama datang, berkumpul dan berdoa bersama. Model seperti apa kita harus bicarakan bersama,” kesan Wakil Bupati.

Sementara untuk para korban, Marlatu mengaku, Pemkab Malteng lewat Dinsos, akan menyiapkan bantuan baik kepada keluarga korban meninggal, maupun korban yang mengalami kerugian harta benda. “Nanti kita beri bantuan kepada keluarga korban. Saya mendukung agar terciptanya keamanan yang abadi. Saya peringatkan juga, karena masuk bulan puasa, marilah berjanji buang hal-hal itu,” pesan Marlatu.

Senada disampaikan Kapolres Ambon, AKBP Sutrisno Hady Santoso, bahwa, pihaknya melakanakan acara ini karena menjelang Pilkada. Tentu, keamanan dan ketertiban harus diutamakan untuk membangun daerah ini. Apalagi, tidak lama ke depan, masyarakat di Maluku akan mengadakan Pilkada untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru.

Tak hanya itu, Kapolres juga mengimbau warga dari dua desa tersebut, agar lulusan SMA yang ingin menjadi anggota polisi, disilahkan mendaftar, dan pihaknya siap memfasilitasi dalam bentuk pembinaan. “Perdamaian ini merupakan inisiasi rekan-rekan Intelkam. Mari kita sama-sama iklas, membuka diri. Bukan hanya di atas kertas saja (perdamaian), tapi betul-betul dilakukan dari hati. Kalau ada yang mau masuk Polri atau TNI, kita akan beri pembinaan,” pesan Kapolres.

Tak ubahnya dengan Dandim 1504/Ambon Letkol Inf Fendri Navyanto Raminta, yang menjelaskan, agar perdamaian yang sudah disepakati bersama, tidak hanya sebatas penandatanganan di atas kertas. Tapi, kiranya lewat kesepahaman bersama ini, kehidupan masyarakat dari dua negeri tersebut kembali membaik dalam kerukunan satu-sama lainnya. “Pak Danrem (Kolonel Inf Christian Kurnianto Tehuteru) tidak mau hanya di kertas ini saja, tapi harus dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Saling menghargai, menyayangi, memaafkan dan jangan terprovokasi. Kita tidak mau Wakal dan Hitumesing bentrok lagi,” pesan Dandim.

Olehnya, Raja Negeri Wakal, Ahaja Suneth, pada kesempatan ini menyatakan, pasca bentok, warganya bisa saja melewati Hitu, namun mereka mengkhawatirkan akan terjadi sesuatu, sehingga perdamaian yang didambakan kedua negeri selama ini tidak terwujud.

“Kita mau lewat-lewat aja, tapi tidak enak, sehingga saya menghindari. Sebelum ada pembicaraan dengan para keluarga korban. Level kita (para pimpinan) lewat aman, tapi kasihan yang di bawah. Dengan penandatangan ini (kesepakatan damai), saya berharap situasi harus tetap dijaga bersama,” pesan dia.

Sedangkan Pjs Raja Hitumesing, Edwin Slamet, juga di tempat yang sama menjelaskan, perdamaian itu harus di mulai dari hati. Saling memaafkan satu sama lain. “Itu yang terpenting.” Pihaknya juga ingin semua konflik antar kedua negeri cepat selesai. Kesepakatan damai yang dibuat ini, lanjut dia, harus ditanamkan bersama, untuk meminimalisir setiap konflik.

Sebabnya, ia meminta pemerintah daerah untuk memberdayakan para pemuda di kedua negeri, dengan melakukan pelatihan-pelatihan tentang pembangunan perdamaian yang sejati. “Saya harap para pemuda diberi pelatihan. Ini salah satu cara menghindarkan mereka dari konflik. Kalau terjadi sesuai yang menjurus ke kerawanan, para pemuda yang memiliki potensi kerawanan, bisa segara dikumpulkan di satu tempat, dan diberi pelatihan. Miras juga harus diberantas, karena Miras merupakan sumber masalah. Mari kita lakukan secara perlahan-lahan proses ini agar tercipta kedamaian,” tutup dia. (AAN)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top