AMBONESIA

Warga Liang Produksi Buah Sukun Jadi Mie Instan

 – Dari PKM LP2M Unpatti Ambon

RakyatMaluku.com – KEDEKATAN Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon dengan masyarakat tak hanya isapan jembol. Selain menjadi kampus favorit bagi masyarakat di Maluku, kampus jas biru tersebut juga intens menggali potensi masyarakat lewat sumber daya alam yang dimiliki. Salah satunya, melalui Program Kemitraan Maysarakat (PKM) yang digagas oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Unpatti Ambon.

Di mana, lewat PKM, sejumlah dosen Unpatti Ambon turun langsung ke lapangan untuk melakukan penyuluhan, pelatihan, dan pembinaan terhadap masyarakat, seperti di Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Salah satu program yang langsung dirasakan oleh kelompok masyarakat di Negeri Liang, yakni pengolahan buah sukun menjadi mie instan, tepung terigu dan stik. Setelah melalui pelatihan dan pembinaan selama beberapa hari lalu, hasilnya masyarakat yang terdiri dari para ibu-ibu tersebut, berhasil memproduksi buah Sukun menjadi mie instan, tepung terigu, dan stik.

Kelompok ibu-ibu tersebut mendapatkan pembinaan langsung dari Tim PKM LP2M Unpatti Ambon, yang terdiri dari Deli Wakano, S.Pd., M.Si., Efraim Samson, S.Si., M.Si., dan Lady D Tetelepta, S.Si., M.Si.

Deli yang dimandatkan sebagai Ketua Tim PKM LP2M Unpatti Ambon, kepada wartawan mengungkapkan, sumber daya alam di Maluku sangat melimpah. Tak hanya di darat berupa bahan makanan seperti umbi-umbian, pisang, hingga sukun, tapi, di laut juga banyak. Persoalan mendasar di masyarakat itu, menurut Deli, belum ada pembinaan secara intens untuk bagaimana masyarakat mengolah atau memproduksi sumber alam tersebut menjadi kebutuhan primer.

Sebab itu, lewat kegiatan Program Kemitraan Masyarakat LP2M Unpatti Ambon ini, pihaknya lantas melakukan pelatihan dan pembinaan kepada kelompok Tani Sukun di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Alhasil, kata dia, setelah mewati pembinaan dan pelatihan selama beberapa hari, warga kelompok tani Sukun tersebut, telah mampu memproduksi buah sukun menjadi makanan siap saji, seperti mie instan, stik, hingga tepung terigu.

Selama ini, menurut hasil temuan di lapangan, kata Deli, buah sukun baru sebatas diproduksi secara tradisional, misalnya menjadi gorengan, kemudian dijual kepada warga setempat. Setelah mengetahui bahwa buah sukun juga dapat diproduksi menjadi mie instan maupun tepung terigu, warga kemudian menjadi semangat untuk merawat tanaman sukun, karena dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan atau peningkatan ekonomi.

Deli menguraikan, Tanaman Sukun merupakan salah satu jenis tanaman penghasil buah yang mempunyai komposisi gizi yang relatif tinggi. Dalam 100 gram berat basah, buah sukun mengandung karbohidrat 35,5 persen, protein 0,1 persen, lemak 0,2 persen, fosfor 35,5 persen, kalsium 0,21 persen, besi 0,0026 persen, kadar air 61,8 persen, dan serat atau fiber 2 persen. “Nilai gizi yang tinggi ini belum diimbangi dengan pengetahuan masyarakat akan pentingnya nilai gizi tersebut. Selain itu, masyarakat masih bertumpu pada satu komoditas, yaitu beras. Budaya mengonsumsi nasi bagi penduduk di negeri ini sangat tinggi, bahkan sebagian besar masyarakat merasa belum makan, jika belum mengkonsumsi nasi,” urai Deli.

Sebab itu, pangan lokal yang tumbuh di masyarakat, kiranya dapat dimanfaatkan baik untuk kebutuhan makanan sehari-hari, maupun dapat menjadi sumber pendapatan untuk meningkatkan ekonomi warga.

Persoalan yang dijumpai hampir di seluruh tempat, termasuk di Liang, kata Deli, masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pengolahan buah sukun sebagai tepung, mie dan stik. Sehingga, buah sukun yang ada di desa-desa di Maluku, seperti di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, masih belum dimanfaatkan secara optimal, alias baru sebatas produksi tradisional mengikuti tradisi warga.

Deli berharap, setelah pengabdian ini, buah sukun dapat dimanfaatkan dengan baik dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, dan juga dari segi pendapatan dapat mengurangi biaya kebutuhan rumah tangga.

Apalagi, setelah pelatihan beberapa waktu lalu, pihaknya telah mendapatkan laporan dari lapangan, bahwa warga telah mampu memproduksi mie, stik maupun tepung terigu, yang kualitasnya sama dengan di pasaran. Sebagai penutup, Deli mengakui, setelah ini, pihaknya akan mencoba untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan distribusi ke masyarakat atau pangsa pasar, terhadap hasil produksi warga tersebut, termasuk membuat lebel dan izin dari pihak wewenang, seperti BPOM dan MUI. (WHL)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top