NEWS UPDATE

Wartawan Rekonsiliasi Kisah Kuli Tinta Beta

Jonathan Madiuw

Catatan: Jonathan Madiuw
Wartawan Hr. Rakyat Maluku


SUATU
saat di awal Bulan April 2018, pada malam menjelang larut, secara tidak sengaja, beta ketemu dengan Rudi Fofid, wartawan senior yang juga seorang budayawan Maluku. Beta sering sekali ketemu dengan pria berambut kribo yang selalu menginspirasi anak-anak muda Maluku dan yang selalu keren disapa Opa oleh banyak orang ini. Tapi perjumpaan pada malam di rumah kopi Mekar saat itu sedikit beda dengan biasanya.

Di rumah kopi yang terletak di bilangan Jl A.J Patty itu, Rudi tantang beta for biking tulisan sedikit tentang kisah perjalanan beta dan beberapa rekan seprofesi saat kerusuhan melanda daerah ini.

‘’Nathan (begitu biasa Rudi menyapa beta), dulu saat kerusuhan, ale deng beberapa teman selain biking berita untuk Suara Maluku, juga kirim berita ke Ambon Ekspres ka? Yang ale dong biking itu betul karena Ameks dan Sumal (akronim dari Ambon Ekspres dan Suara Maluku) saat itu satu group di bawah naungan Jawa Pos. Itu kisah yang bagus. Kenapa ale seng pernah biking tulisan tentang akang,’’ tanya Rudi.

Dari pada mencari alasan lain. Beta hanya bilang, kaka, beta seng mau, nanti ada yang bilang katong sombong lai. Apa lae saat itu ada teman-teman yang bilang katong pengkhianat karena menyuplai berita dan akhirnya diketahui bergabung dengan Harian Ambon Ekspres.

Tapi Rudi ngotot. ‘’Beta mau ale biking tulisan tentang itu sebelum ale mati dan kisahnya ikut mati deng ale,’’ tantang Rudi dengan matanya yang sedikit melotot.

Kalimat terakhir wartawan senior yang juga beta anggap sebagai guru di Suara Maluku dan kemudian hijrah ke Tabaos itu kemudian terus mengusik kalbu, jadi seperti amanat yang terus menggugah beta untuk membuat goresan ini.

Tapi, ketika duduk di depan komputer kerja di kantor Harian Rakyat Maluku, saat mau mulai mengetik, ada beberapa pertimbangan yang memantik. Beta lalu putuskan, ada baiknya beta biking saja sedikit kisah perjalanan tentang aktifitas sebagai wartawan.Aktifitas sebagai kuli tinta ini dimulai sejak terjun di dunia ini awal 1999 lalu, ketika konflik menyengsarakan, konflik sosial bernuansa SARA yang merenggut ribuan jiwa di daerah ini mulai berkecamuk. Dengan begitu, beta bukan saja menulis tentang beta, tetapi juga tentang beberapa rekan wartawan, termasuk beberapa senior yang beta kenal.

Semoga saja bisa jadi kisah yang menarik.
Di awal tahun 1999, Harian Suara Maluku memuat sebuah pengumuman menerima tenaga kerja. Saat itu memang beta sangat butuh pekerjaan karena sudah menikah dan punya anak. Penerimaan karyawan di Suara Maluku ini dikarenakan media ini kekuarangan karyawan. Saat itu, banyak karyawan muslim sudah tidak bisa lagi beraktifitas di kantor di jalan PHB Halong Atas.

Dari belasan calon wartawan yang diseleksi, hanya dua orang yang dinyatakan bagus dan akhirnya diterima. Jonathan Madiuw dan Petrus Oratmangun. Pekerjaan sebagai wartawan dimulai dari situ.

Di Harian Suara Maluku, ada beberapa senior yang dekat dengan beta sehingga beta banyak belajar dari dorang. Diantaranya, Darmosius Sosebeko, Demy Hattu, Frits Ohoiulun, Novi Pinontoan, Polly Joris dan Max Apono serta Agus Latumahina.

Beta cerita sedikit soal Max Aponno. Antua ini senior yang memang luar biasa. Saat itu, antua pegawai di Kodam XVI/Pattimura tapi juga seorang wartawan handal. Kalo biking berita kriminal saja, seng ada yang bisa lawan antua di era tahun sembilan puluhan sampai dua ribuan. Selain om Max yang berprofesi ganda, PNS dan wartawan, Demmy Hattu dan Frits Ohoiulun juga begitu.

Demmy adalah salah satu guru di Sekolah Teknik Menengah (STM). Dia jarang sekali mengajar, apa lagi setelah kerusuhan pecah.

Tapi gaji sebagai seorang guru selalu diterimanya. Tak ada yang berani sama sosok yang biasa disapa DH oleh kami ini. Sementara Frits Ohoiulun pegawai di Dinas Pertanian dan Perkebunan, terakhir dia hijrah ke Dinas PU, karena memang hoby Frits yang kini sudah almarhum itu, menulis berita-berita tentang proyek pembangunan.

Kembali ke om Max, antua selain pegawai dan wartawan, juga seorang yang aktif di dunia olahraga. Tak heran, antua juga jago biking berita-berita olahraga. Antua nih pernah bertinju, bahkan berprofesi sebagai seorang wasit tinju yang punya sertifikasi nasional. Om Max juga sering disapa Tuna oleh beberapa kawan jurnalis, terutama Bertje Minanlarat wartawan RRI dan Alex Sariwating wartawan Antara.

Om max pernah punya sasana tunju bernama Salawaku, melatih beberapa pemuda lalu kemudian diasuh oleh menantunya, Roby Sajory, almarhum yang juga mantan Ketua PWI Maluku seperti om Max, mertuanya. Para petinju dari sasana ini cuku luar biasa.

Om Max juga hoby barmaeng kartu. Apa lae barmaeng tutup buka. Antua bisa maeng jam-jam. Karna hobynya ini antua sempat digelandang ke kantor polisi karena ketangkap bermain kartu di kantor PWI. Antua sempat ginap semalam bersama beberapa rekannya di Polres Pulau Ambon dan PP Lease. Subuh, mereka langsung dipulangkan, He he he he.

Om Max kini punya koran sendiri. Koran Metro Maluku dan masih aktif menjadi pemimpin sekaligus editor di sana, kendati umurnya mulai uzur.

Bagi beta, ada satu sosok wartawan muda yang kini sudah bisa juga dibilang senior yang luar biasa dan mirip deng om Max. Dia adalah Ronny Samloy.

Ronny bergabung dengan Suara Maluku di tahun dua ribuan awal. Ia menyusul beta, Etus Oratmangun, kehadiran Rony ikut memperkuat Suara Maluku bersama senior-senior lain saat itu seperti Darmosius Sosebeko, Novi Pinontoan, Polly Joris, Demmy Hattu, Febby Kaihattu, Jafry Taihuttu, Thony Luturmas, Agus Latumahina dan beberap rekan lain, termasuk almarhum Frits Ohoiulun dan Om Katje Mayaut, fotografer Suara Maluku yang kini masih mengabdi di koran itu kendati umurnya sudah delapan puluhan.

Febby kini sudah di Belanda, Jafry jadi anggota DPRD Kota Ambon, Demmy Hatu jadi Wakil Ketua DPRD Maluku Tengah, sementara Thony Luturmas jadi pegwawai di Pemkab Maluku Tenggara Barat (MTB).

Suara Maluku adalah koran yang sempat jaya di provinsi ini era itu. Era sebelum konflik bernuansa SARA dan selama konflik berkecamuk. Oplah cetak koran ini tercatat bisa sampai 16 ribuan ekslempar. Hingga kini belum ada koran di Maluku yang mencapai rekor itu.

Sedikit lagi yang beta tahu soal om Katje, di jamannya, tidak ada fotografer yang bisa menyaingi antua. Ditunjang penampilan rapihnya, kamera rol dengan bantuan blits membuat om Katje selalu menawan. Tak ada ivent yang lewat dari jepretan om Katje.

Antua juga ahli dalam memotong rol negative film. Habis jepret, rolnya dipotong, dicuci dan kemudan om Katje menulis keterangan gambar di belakang foto. Sisa rolnya masih bisa dipakai lagi untuk jepret pada hari-hari berikutnya. Foto-foto itu bakal discan untuk dimuat di Suara Maluku besoknya.

Sosok yang selalu menyebut huruf F dan V sebagai P, misalnya Novi sebagai Nopi, Febby sebagai Pebby, foto sebagai poto dan lain-lain ini terkenal cukup flamboyan.

Om Katje juga jago dansa. Aktifitas dansa ini masih dilakoninya sampai saat ini. Kalau ada pesta dansa atau pesta penarian dana, om Katje masih saja selalu hadir.

Ada kisah lucu soal om Katje. Satu kali, tahun 2004 jelang natal, di bulan Desember, Polda Maluku membagi bingkisan Natal kepada wartawan. Sebagai seorang yang senior, om Katje didaulat maju dan menerima bingkisan secara simbolis. Saat itu ada rekan dari TVRI Maluku yang mengabadikan dengan kamarea video untuk dijadikan berita. Pas keluar dari Polda Maluku, ada salah satu kawan perempuan yang sudah jemput om Katje. Om Katje langsung kasih bingkisan berisikan kue kaleng dan minuman botol serta susu dan gula itu ke sang nona.

Pulang ke rumah, sore harinya, om Katje bersantai bersama isteri di ruang tamu. Jelang malam, sang isteri yang bekerja di kantor Deparetmen Penerangan itu menyetel TV dan mendengar berita Seputar Maluku di TVRI. Ada berita tentang penyerahan bingkisan Natal dari Polda Maluku kepada wartawan. Ada adegan om Katje menerima bingkisan. Isteri om Katje lantas bertanya dimana bingkisan yang diterima di Polda Maluku. Tak mau tiduding macam-macam, om Katje langsung jawab sudah dibagikan kepada Nathan Madiuw dan Etus Oratmangun. Esoknya saat ketemu di lokasi peliputan, om Katje langsung cerita ke beta deng Etus, sekedar mawas kalau-kalau kami main ke rumah om Katje dan ditanyai isterinya.

Om Katje sering juga dipanggil beta dengan sebutan nyong Ka, sekedar untuk menjaga jiwa mudanya sampai saat ini. He he he he.

Lain halnya dengan om Katje, Senior Agus Latumahina adalah juga seorang sosok wartawan sejati. Dia sempat menjabat sebagai redaktur pelaksana di Rakyat Maluku. Om Agus lebih banyak berada di kantor. Ia terkenal sebagai penikmat kopi yang bisa dikategorikan sudah candu.

Kopi om Agus bisa setengah gelas baru ditambahkan air. Gulanya sedikit saja. Jika sudah habis, antua biasa tambah air panas lagi dan selanjutnya menjadi teman mengedit berita.

Kembali ke Ronny Samloy. Lulusan Fakultas Hukum Unpatti itu memang sedikit menonjol dibanding wartawan lain yang saat itu ikut bergabung setelah kami. Rony kini juga berprofesi rangkap. Selain wartawan dia juga adalah pengacara, berpraktek di Pengadilan Negeri Ambon.

Ronny adalah sosok orang Kisar sepenuhnya. Orang tuanya memang dari pulau itu. Ia punya sopan santun, menghargai orang lain dan sosok pekerja keras.

Bersama beta, Ronny kini wartawan koran Rakyat Maluku yang juga group Jawa Pos seperti Ameks. Beta yang paksa dia masuk di Rakyat Maluku ketika dia break sebentar dari Ambon Ekspres karena sebuah persoalan terkait berita.

Ronny adalah redaktur halaman olahraga. Dia menangani dua halaman sekaligus, tapi setiap hari kendati selalu beracara, tak pernah ada pekerjaannya yang terbengkalai. Dia memang luar biasa. Jadi wartawan beralatarbelakang sarjana hukum tapi selain menulis berita hukum, juga seorang wartawan olahraga handal dan berprofesi sebagai pengacara.

Kisah tentang wartawan rekonsiliasi ini beta awali dengan Ronny. Di akhir tahun 2004 itu, beta deng Rony yang beragama Kristen berinisiatif pindah dari Suara Maluku ke koran Ambon Ekspres.

Ambon Ekspres adalah koran yang lahir saat kerusuhan melanda Maluku, di awal tahun 2000-an. Pendirinya, bahkan krunya adalah orang-orang Suara Maluku juga. Saat konflik, mereka tidak bisa ngantor di Harian Suara Maluku yang saat itu terletak di Jl. PHB Halong Atas karena beragama Muslim.

Macfud Waliulu yang akrab disapa pak Ade yang merintisnya bersama Ahmad Ibrahim yang kini menjadi bos di Rakyat Maluku, juga Ongky Anakoda yang kini menjadi bos di Harian Kabar Timur serta beberapa rekan lain seperti, almarhum Hamid Kasim, Allan Pelupessy dan beberapa lagi.

Asal tahu saja, saat konflik berkecamuk, Suara Maluku seperti mewakili komunitas Kristen, sementara Ambon Ekspres mewakili komunitas Muslim. Kendati dua-duanya bernaung di bawah Jawa Pos Group, pemberitaannya selalu kontroversial.

Akhirnya, segmen pembaca pun menjadi terdikotomi. Semacam ada alergi kalau orang Kriseten membeli Ambon Ekspres, sebaliknya, orang Islam terhadap Suara Maluku.

Koran Siwalima yang dibentuk oleh beberapa tokoh gabungan Muslim-Kristen dengan harapan bisa netral pun akhirnya dinilai lebih berpihak ke komunitas Kristen. Mungkin karena semua wartawannya beragama Kristen saat itu.

Ide bergabung dengan Ambon Eskpres ini sebenarnya dari beta. Beta yang mengajak Ronny. Katong dua lalu ketemu dengan Bos Ameks, pak Ade, di daerah netral, di rumah kopi Trikora. Saat ketemu, bahkan sempat ada kejadian saling serang di situ dan akhirnya kita pisah.

Pak Ade menyatakan kesiapan menerima kami berdua. Namun di luar dugaan beta, Ronny lantas menawarkan lagi nama Etus Oratmangun untuk sama-sama gabung.

Beta masih ingat, pak Ade bilang, beliau hanya butuh dua orang, dan Ronny yang bilang kalau dua orang saja katong seng jadi gabung. Pak Ade langsung menyanggupinya.

Beta, Rony dan Etus pun bergabung secara diam-diam dengan Ambon Eskpres. Nama katong belum tercantum dalam box di koran itu, tapi tiap hari katong berkontribusi berita.

Awalnya, katong seng kerja di kantor Ambon Eskpres yang saat itu terletak di Jl Sultan Baabullah, depan Masjid Raya Al Fatah, karena memang kondisi tidak memungkinkan.

Rutinitas kami setiap hari, selain membuat berita di Suara Maluku, kami mengetik berita di warnet yang saat itu menjamur di sepanjang trotoar di beberapa wilayah Kota Ambon. Berita disimpan di disket dan kemudian disket itu diantarkan ke daerah netral antara Kantor PU Maluku dengan PHB (dulunya Korem) untuk ditukarkan dengan disket baru . Redpel Ambon Eskpres, almarhum Hamid Kasim yang selalu datang bertransaksi.

Setiap hari kami terus mengirimkan berita-berita tentang kegiatan Natal, mewawancarai tokoh-tokoh Kristen dan dimuat. Oplah Ambon Ekspres mulai bergerak naik karena mulai dibeli juga oleh warga Kristen.

Sebagaimana kata Rudi Fofid di atas, sebagai sesama group semestinya apa yang katong tiga bikin ini bukan sebuah pelanggaran, tetapi ada beberapa rekan yang justeru menyebut katong sebagai pengkhianat.

Tapi bagi katong, yang penting tujuan dari apa yang dilakukan adalah sebuah kebaikan. Apa lagi Suara Maluku saat itu mulai kolaps karena managemen yang tidak teratur. Tak lama, Jawa Pos melalui CEO-nya di Makassar memutuskan hubungan dengan Suara Maluku. Katong bertiga ikut menyayangkan hal ini.

Selain Rudi Fofid yang memuji tindakan katong bertiga bergabung dengan Ambon Eskpres, saat itu beberapa orang termasuk Richard Louhenapessy, Walikota Ambon saat ini, yang ketika itu masih menjadi anggota DPRD Maluku ikut memberikan apresiasi. ‘’Itu langkah yang tepat,’’ kata Louhenapssy kepada beta deng Etus pada sebuah kesempatan.

Berita di Ambon Ekspres akhirnya menjadi akurat dan terpercaya, karena ketika ada kontak massa, sumbernya jelas dari dua belah pihak.

Beta deng Etus bahkan pernah diwawancarai majalah Pantau karena dinilai melakukan langkah rekonsiliasi mula-mula di kalangan wartawan di Maluku.

Ambon Ekspres akhirnya menjadi satu-satunya koran berjaringan di bawah naungan Jawa Pos di Maluku. Mendapat suntikan dari katong bertiga, Ambon Ekspres yang awal-awalnya hanya koran mingguan dan akhirnya harian dengan cetakan hitam putih, mulai bergeliat dan menunjukkan taringnya. Managemen Jawa Pos pun akhirnya memberikan mesin cetak warna kepada koran ini sering semakin meningkat oplah cetaknya.

Pak Ade sempat memuji katong bertiga dalam rapat umum di koran itu. Nama katong bertiga pun remsi dimasukan dalam box di koran sebagai wartawan. Kendati hanya sekali-kali ke kantor, karena kondisi yang belum kondusif kami tetap bekerja berkontribusi berita.

Agar menjamin keselamatan, katong bertiga sempat berkoordinasi dengan saudara-saduara muslim Maluku Tenggara khususnya dari Banda Eli yang ada di wilayah Jalan Baru dekat kantor Harian Ambon Eskpres saat itu. Mereka menjamin akan ikut menjaga keselamatan kami bertiga.

Yang menarik, jika sementara berkerja dan konlik terjadi, rekan-rekan di Ambon Eskpres cepat-cepat memberitahu dan menganjurkan agar kami segera pulang.

Lutfi Heluth, fotografer Ambon Eskrpes yang sempat keliling bekerja di beberapa koran dan akhirnya kembali lagi ke induk semangnya itu yang selalu mengantar katong melewati kawasan rawan sampai ke perbatasan kawasan Kristen.

Lutfi beberapa kali mengatarkan beta deng Etus lewat Batumerah dan Galunggung ke tempat tinggal katong berdua di Galala jika situasi tidak kondusif. Saat itu memang jarang sekali ada warga Kristen yang bisa melewati kawasan ini.

Langkah katong ini kemudian menjadi cikal bakal dibentuknya Maluku Media Centre (MMC) sebuah organisasi wartawan lokal yang beranggotakan wartawan Muslim dan Kriseten untuk menyatukan presepsi.

Waktu pun berjalan, seiring keamanan yang semakin kondusif, mulai banyak wartawan kirsten yang bergabung ke Ambon Eskrpres, begitu pula sebaliknya, wartawan Muslim bergabung ke Suara Maluku yang hingga kini masih aktif cetak di bawah kendali pak Etty Manduapessy dan Novi Pinontoan, juga ke Harian Siwalima.

Stigma koran Muslim dan koran Kristen, atau wartawan Muslim dan wartawan Kristen perlahan sudah hilang. Apalagi, pada Boks Redaksi Suara Maluku juga terdapat nama Muhammad Tan Reha, Hamja Tomia dan Rohim Markalim.

Suara Maluku berusaha memperbaiki citra di hadapan pembaca Muslim, sedangkan Ambon Ekspres juga mengambil hati pembaca Kristen. Dari segi isi dan pilihan narasumber, Ambon Ekspres juga makin sering memuat wajah uskup dan pendeta, sedangkan Suara Maluku makin sering memuat wajah nara sumber Muslim seperti Thamrin Ely, Abidin Wakano, dan sebagainya.

Kini jumlah koran di Maluku sudah banyak. Muncul lagi koran baru seperti, Spektrum Maluku, Kabar Timur, Metro Maluku, Maluku Ekspos dan Mimbar Rakyat. Jumlah wartawan pun bertambah banyak, berikut bermunculan belasan penerbitan online.

Satu harapan, semoga Pers di Maluku tetap berjaya dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan mengawal pembangunan di negeri seribu pulau ini. (**)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top