LINTAS DAERAH

Waspada, Radikalisme dan Terorisme Sasar Remaja

RAKYATMALUKU.COM – AMBON,- Gerakan radikalisme dan terorisme yang berkembang saat ini telah menyasar banyak kelompok masyarakat tanpa kecuali di kalangan anak-anak dan remaja. Untuk mewaspadai dan meminimalisir gerakan ini peran orang tua dan semua pihak tanpa kecuali para penyuluh agama mulai dari ormas, majelis taklim, dan akademisi sangat dibutuhkan. Sebab sebagai sebuah gerakan global, radikalisme dan terorisme kini telah merambah dengan memanfaatkan media sosial atau internet sebagai sarana untuk menanamkan paham tersebut.


“Jaringan terorisme yang ada di Indonesia saat ini berhubungan dengan kelompok mereka di luar negeri. Diantaranya Jama’ah Islamiyah, Jama’ah Anshoru Tauhid, Jama’ah Anshoru Daulah, dll. Boleh jadi, induknya di luar negeri tapi operatornya di Indonesia,” kata Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Maluku DR.Abdul Rauf di hadapan lebih 100 orang penceramah agama dari kalangan Ormas, majelis taklim, akademisi, dan penyuluh agama dalam acara: “Bimtek Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Angkatan I” yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku di Aula Swiss Bell Hotel, Ambon, (15/10/20).

Mengutip The Concise Oxford Dictionary (1987), DR.Abdul Rauf mengatakan, istilah radikal berasal dari kata radic. Kata ini memiliki arti kata dasar akar, sumber, atau asal-mula.

Mengacu pada kata dasar tersebut, kata dosen IAIN Ambon itu, bisa dimaknai lebih luas bahwa istilah radikal menunjukkan pada hal-hal yang sifatnya mendasar, prinsip, fundamental, pokok soal, dan esensial atas bermacam gejala, atau juga bisa bermakna tidak biasanya (unconventional).

“Jadi, orang yang radikal adalah orang yang berpikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya. Yakni mampu membaca dan menganalisa secara menyeluruh setiap permasalahan yang ada sampai ke akar-akarnya sehingga pemecahan masalahnya pun bisa tuntas,” ujarnya.

Sayang, kata dia, kata radikal yang semula dimaknai sebagai kata yang indah kini menjadi kata yang menyeramkan.

“UU Terorisme No.8 Tahun 2018 yang terbaru ini sangat represif mengatur tentang radikalisme dan terorisme. Jangan sampai kita ditangkap gara-gara berada di waktu dan tempat yang salah,” ujarnya.

Dikatakan, di Maluku sudah ada 20 orang yang ditangkap. “Dengan UU Terorisme yang baru ini, jangankan menjadi pelaku, berhubungan saja dengan mereka kita sudah diangggap berafiliasi dengan kelompok terorisme,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut ia juga menjelaskan kedudukan dan tugas Badan Nasional Penganggulangan Terorisme (BNPT) di pusat dan FKPT di daerah. “BNPT di pusat bersifat penanggulangan, sedangkan FKPT di daerah bersifat pencegahan,” katanya.

Jadi tugas FKPT di daerah, katanya, bersifat pencegahan atau soft aproach dan mengkoordinasikan bagaimana masyarakat Maluku tercegah memasuki wilayah-wilayah yang dianggap berbahaya bagi tatanan kehidupan bermasyarakat.

Ia juga menghimbau orang tua untuk selalu waspada dengan tingkah laku anak-anak, karena kebanyakan anak kita sedang mencari jati diri sehingga mereka lebih banyak berada di wilayah rawan dimana kelompok teroris sekarang lebih banyak merekrut orang-orang yang usia remaja.

Ciri-ciri umum orang yang terlibat radikal menurut DR.Rauf yakni pertama, kadang meninggalkan rumah atau sekolah karena aktif di salah satu organisasi, Kedua, perubahan siginfikan pada sikap mental yang mendua

“Ketiga, cenderung menjadi pribadi tertutup dan tertekan jiwanya. Keempat, mudah mengkafirkan orang diluar kelompoknya. Kelima, resistensi terhadap pemerintah dianggap kafir,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut ia juga menjelaskan program FKPT Maluku mulai dari pelibatan pelajar, guru-guru pendidikan agama, aktivis perempuan, dan aparatur kelurahan/desa.(DIB)


======================
--------------------

Berita Populer

To Top