NEWS UPDATE

Yayasan Ar Rahmah Ambon Berangkatkan Tiga Santri Ke Yaman

Habib Rifqi Alhamid (kiri) berpose bersama ketiga santri yakni Abdullah Latukau, Abdi Rahim Khaliq, dan Mubasirun.

DUA putera terbaik Maluku dan satu dari Merauke, Papua, akan segera memasuki bangku pendidikan tinggi di Institut Darul Musthafa di Kota Yaman. Ketiga santri itu adalah Abdullah Latukau, (17), asal Desa Morela, Abdi Rahim Khaliq, (18), asal Kota Masohi, Maluku Tengah, dan Mubasirun, (25), asal Merauke, Papua.

Ketiga santri berprestasi ini merupakan siswa yang duduk di Pesantren Ma’had Ar Rahmah Ambon, yang berada di bawah Yayasan Ar Rahmah, Ambon. “Mereka adalah para hafidz (penghafal Al Quran). Abdullah Latukau asal Morela sendiri adalah penghafal 30 Juz Al-Quran,” ujar Pembina Yayasan Ar Rahmah Ambon Habib Rifqi Alhamid, kepada RakyatMaluku.com,  Kamis 20 Juni 2019.

Sebelumnya, ketiga santri ini lebih dulu mengikuti tes bersama 183 santri lainnya yang digelar oleh Majelis Muassalah Bainal Ulama Walmuslim Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua, di bawah penanggung jawab Habib Rifqi Alhamid.

Setelah dinyatakan lolos mereka pun diterbangkan ke Solo untuk memperdalam pengetahuan pendidikan agama selama sebulan di Pondok Pesantren Darul Musthafa Solo, Jawa Tengah.

Sebelum bertolak ke Yaman, di Pondok Pesantren Asuhan Al Habib Sholeh bin Muhammad Aljufri mereka digodok. Habib Muhammad Aljufri sendiri merupakan angkatan pertama dari santri Alhabib Umar Alhafidz.

“Dari ke-183 santri yang tes tersebut tiga orang dari Pesantren Ma’had Ar Rahmah, Ambon, dinyatakan lulus. Satu berasal dari Papua. Namanya Mubasirun,” ujar Habib Rifqi.

Ini untuk kesekian kalinya Yayasan Ar Rahmah Ambon mengirimkan putera terbaik Maluku untuk belajar pendidikan agama di Kota Yaman. Ia berharap, pengiriman dua santri asal Maluku ke Yaman, Hadratulmaut, ini akan melahirkan para ulama hebat dari Maluku. 

“Kami berharap, ini langkah terbaik kami untuk kelak bisa melahirkan banyak generasi ulama dari Maluku,” ujarnya.

Menurut Habib Rifqi, selama di Yaman mereka akan dibina untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Kota Yaman sendiri diketahui merupakan salah satu kota pencetak ulama terkemuka di dunia. 

“Kota Yaman itu pusat perdaban Islam. Di sini banyak ulama hebat digodok. Inilah kota yang disebut-sebut dengan Kota Seribu Wali itu,” ujar Habib Rifqi yang juga alumni Institut Darul Musthafa, Yaman, itu.

Melalui yayasan ini pula Oktober 2017 lalu pernah mendatangkan ulama terkemuka dunia yang juga adalah guru besar pada Institut Darul Musthafa yakni Alhabib Umar Alhafidz ke Kota Ambon. Selama beberapa hari di Ambon, ulama penghafal 150 ribu hadis itu mengunjungi dan berdialog dengan civitas akademika di Kampus Unpatti, Ambon, mengadakan Tabliq Akbar di Lapangan Merdeka, dan khotbah Jumat di Masjid Raya Al-Fatah, Ambon.

Ia mengatakan, sengaja memilih anak daerah dari asal kampung halaman di Maluku untuk dikirim ke Yaman tak lain adalah kelak mereka nantinya bisa menjadi panutan di daerahnya. Selama ini, banyak kita jumpai adanya konflik antarkampung di Maluku karena tidak adanya tokoh-tokoh panutan di daerah tersebut. 

“Nah, mereka inilah kelak kita harapkan sekembalinya dari Yaman bisa menjadi ulama dan mereka bisa menjadi duta-duta di daerahnya,” ujarnya.

Di tengah ancaman dan derasnya perubahan pola hidup masyarakat, tantangan generasi muda kedepan juga semakin tajam. Di sini, kata Habib Rifqi, peran pemerintah perlu dimaksimalkan melalui pemberdayaan lembaga-lembaga pendidikan agama.

Penciptaan generasi muda di Maluku yang paham tentang nilai-nilai agama, adab, akhlak, dan dakwah perlu dikembangkan agar kelak bisa meminimalisir tindakan-tindakan negatif yang menghancurkan nilai-nilai dan tatanan hidup dalam masyarakat.

Melalui pengiriman sejumlah santri ke Kota Yaman ini tentu merupakan bagian dari tanggungjawab kita semua untuk menyelamatkan generasi kita di Maluku. 

Ia berharap kelak sekembalinya mereka menimba ilmu di sana, mereka bisa menjadi ulama terpandang sebagaimana visi Institut Darul Musthafa Yaman yakni: Berilmu, Beradab, dan Berdakwah.

“Saya yakin, insyaAllah, barakah Kota Yaman nantinya bisa menjadi cahaya bagi mereka yang menuntut ilmu di sana sehingga kelak bisa menjadi berkat untuk Maluku yang cinta damai,” ujarnya.

Diakui, langkah kerjasama melalui lembaga pesantren yang dibinanya itu memerlukan kepedulian yang sama dari pemerintah daerah di Maluku. Untuk membangun generasi Maluku kedepan lembaga-lembaga pendidikan agama perlu dibantu. 

Diakui, untuk pengiriman santri ke Kota Yaman per orang bisa menghabiskan dana Rp 50 juta. “Mudah-mudahan bila ada donatur yang ingin membantu pendidikan anak didik kita ini berapapun besarnya bantuan tersebut bisa menjadi ladang amal zariah. Amal yang tak pernah putus hingga di akhirat kelak,” ujarnya.

Kedepan, Habib Rifqi berharap, harus ada subsidi silang dari pemerintah daerah untuk membantu putera-puteri Maluku yang hendak menempuh pendidikan di Yaman atau kota lainnya. 

Jadi, kata Habib Rifqi, subsidi pemerintah tidak saja untuk pelaksanaan haji tapi pendidikan agama bagi putera-puteri Maluku ini juga harus mendapat prioritas.

“Kami berharap, sekembalinya mereka ini dari Yaman kelak bisa menjadi duta-duta pemerintah di daerah. Bila ada konflik dan masalah di daerah mereka yang nantinya menjadi ulama itu bisa menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah. Selama ini kita jumpai bila ada trouble di daerah tak ada tokoh panutan. Inilah mengapa sering terjadi konflik antarkampung,” ujarnya.(DIB)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top