NASIONAL

2017, Kementan Kembali Raih WTP dari BPK

Andi Amran Sulaiman

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) kembali meraih Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). WTP sebelumnya baru pertama kali diraih Kementan sejak 2006, kemudian diraih lagi di 2016 dan kini 2017 pun kembali diraih.

Hal ini terungkap dari hasil pemeriksaan lapo­ran keuangan pemerintah pusat tahun 2017 No.64/LHP/XV/05/2018 tanggal 21 Mei 2018. Pemeriksaan tersebut atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2017 oleh Badan Pemeriksa Keuangan berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan, dan UU Nomor 18 Tahun 2016 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2017, sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 8 Tahun 2017.

Hasil Pemeriksaan atas LKPP Tahun 2017 terdiri dari ringkasan Eksekutif, Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas LKPP Tahun 2017 yang memuat Opini, LHP atas Sistem Pengendalian Intern (SPI), LHP atas Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan dan laporan tambahan berupa laporan hasil review atas Pelaksanaan Transparansi Fiskal Tahun 2017.

Merujuk alasan WTP yang diraih 2016, Anggota IV BPK RI, Prof Rizal Djalil mengatakan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang dicapai dengan kerja keras dan berdarah-darah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga tidak ada yang melanggar hukum dan etika. Kemudian, melewati proses yang alot melalui proses cek dan ricek data yang panjang di lapangan.

“Proses pemeriksaan laporan keuangan Kemen­tan sangat clear. Jangan ada keraguan tentang itu dan kami bertanggung jawab,” tegasnya.

Ia mengungkapkan perhatian Presiden Jokowi sangat luar biasa yakni menempatkan pangan sebagai sektor utama, karena pangan menyangkut segala hajat hidup manusia. Untuk itu, Ia menilai jika pangan tidak ada, maka akan terjadi gejolak.

“Yang penting upaya Kementan meningkatkan produksi tercapai. Saya komit menjelaskan kepada publik masalah pangan ini,” tegas Rizal.

“Tugas Kementerian Pertanian dalam mening­katkan produksi pangan sudah selesai. Produksi pangan seperti padi, jagung, kedelai, bawang merah, gula dan cabai meningkat. Masalah dis­tri­busi pa­ngan urusannya beda, bukan Kementerian Per­tanian,” imbuhnya.

Sekjen Kementan, Syukur Iwantoro menga­takan perolehan WTP Kemetan di tahun 2017 merupakan opini tertinggi. Prestasi ini terkait keberhasilan Kementan meningkatkan produksi pangan bahkan telah melakukan ekspor beberapa komoditas pangan yang sebelumnya rutin dilakukan impor, sehingga mampu menekan im­por pangan.

“Ini kerja kita semua, seluruh jajaran pegawai Kementan di lapangan sangat merasakan peme­riksaan BPK yang tidak main-main dan tanpa kompromi. Hasil yang luar biasa karena Kementan meraih WTP dua tahun berturut. Ini prestasi besar sshingga menjadi sejarah,” katanya.

Syukur Iwantoro menyebutkan terobosan ke­bi­­­ja­­kan Kementan yang tepat diantaranya melalui refocusing anggaran dan bantuan kepa­da masyarakat petani bisa ditingkatkan serta dilaksanakan melalui upaya khusus (UPSUS), maka dampaknya terhadap peningkatan produksi sangat nyata. Peningkatan anggaran APBN 2014-2017 sebesar Rp 6,9 triliun pun telah dimanfaatkan secara fokus dan optimal, sehingga produksi padi 2014-2017 naik sebesar 10,5 juta ton GKG setara Rp Rp 42 triliun.

“Naiknya produksi padi ini mampu mencukupi kebutuhan konsumsi penduduk Indonesia yang bertambah sejak 2014-2018 sebanyak 12,8 juta jiwa, buktinya 2016-2017 tidak impor beras umum,” sebutnya.

Karena itu, Syukur menegaskan pembangunan pertanian saat ini sudah on the right track menuju kedaulatan pangan. Ini terlihat dari ekspor komoditas pertanian yang semakin meningkat dan impor turun.

“Selama tiga tahun membangun telah berhasil mengerem impor padi umum, jagung pakan ternak, cabai segar dan bawang merah. Bahkan pada 2017 telah ekspor beras khusus sekitar 4 ribu ton, bawang merah 7.700 ton dan jagung ke beberapa negara,” sebutnya.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor pertanian 2017 sebesar USD 33,1 miliar naik 24 persen dibandingkan ekspor 2016 sebesar USD 26,7 miliar. Demikian pula impornya semakin menurun, kinerja 2017 ini diperoleh surplus USD 15,9 miliar atau naik 45,8 persen dibandingkan tahun 2016 surplus USD 10,9 miliar. (FJ)­

======================
--------------------

Berita Populer

To Top