NEWS UPDATE

AHY: Jangan Halalkan Segala Cara Untuk Menang Pilkada

AGUS Harimurti Yudhoyono

RakyatMaluku.com – AGUS Harimurti Yudhoyono (AHY) me­mang pemimpin masa depan yang cerdas dan kritis. Dalam orasi politik yang digelar di Jakarta Convention Centre (JCC) Sabtu, 10 Juni 2018 kemarin, AHY sempat mengkritisi para petinggi Polri yang sudah terjun ke politik, bahkan tengah bertarung di Pilkada, namun masih aktif menjadi polisi karena belum dipensiunkan.

Orasi politik AHY yang juga disiarkan langsung oleh beberapa stasiun TV na­sio­nal itu disampaikan dengan tema “Mendengarkan Suara Rakyat”.
Suara rakyat itu didapat AHY setelah mengunjungi ratusan kabupaten kota di 22 provinsi di Indonesia.

AHY mencontohkan dirinya yang ken­­dati masih muda tapi sudah mem­berikan panutan yang baik, dimana ia rela meninggalkan institusi TNI yang sangat dicintainya demi terjun ke dunia politik.

Ia mengisahkan, dalam sebuah ke­sem­­patan di forum peringatan revormasi yang digelar ICMI, dirinya satu panggung bersama anak-anak mantan presiden lainnya, diantaranya Puan Maharani, Yenni Wahid dan mas Ilham Habibie.

“Saat itu kami diminta memyampaikan refleksi 20 tahun reformasi berdasarkan prespektif kami masing-masing,” kata Ketua Kogasma Pemenangan Pilkada Partai Demokrar ini. Ia lalu menceriterakan, saat itu dirinya secara khsus berbicara tentang keberhasilan reformasi TNI/Polri.

“Saya menekankan bahwa TNI sudah memenuhi amanat reformasi untuk meninggalkan politik prakts dan bisnis militer serta memisahkan Polri dari ABRI. Saya juga mengemukakan bahwa TNI saat ini fokus dalam tugas dan fungsinya sebagai tentara rakyat, pengawal bangsa dan negara,” ujar AHY di depan ribuan pengurus dan kader Partai Demokrat.

Dalam moment ICMI itu, AHY juga mencontohkan dirinya bahwa keluarnya dirinya dari institusi TNI yang amat sangat dicintainya adalah wujud dan konsekuensi seorang perwira terhadap semangat revormasi TNI.

“Jika ingin berpolitik, keluar dari TNI. Jika ingi tetap di TNI, jangan berpolitik,” katanya dengan ken­cang. Nah, lanjut AHY, apa yang dilakukannya itu diharapkan dapat ditiru juga oleh seluruh aparat Polri.

Pasalnya, sikap ini merupakan bagian dari pendidikan politik yang baik kepada masyarakat.

“Ya, meskipun usia saya relatif masih muda, tapi sedapat mungkin ingin memberikan contoh yang baik dalam etika berpolitik.”

AHY melanjutkan, etika berpolitik juga terkait de­ngan kebesaran jiwa dalam menerima hasil kompetisi dalam proses politik.

“Sangat sering kita mendengar deklarasi siap menang dan siap kalah dalam kontestasi politik. Kenyatan yang terjadi banyak yang justru sangat siap menang, tetapi sangat tidak siap untuk kalah. Padahal mengakui kemenangan pasangan lain dan menerima kekalahan kita adalah bagian dari etika politik itu sendiri “ ujarnya.

Menurutnya, persoalan etika politik yang paling fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini adalah dalam berdemokrasi mestinya bukan saja soal menang atau kalah, tetapi mesti juga soal patut atau tidak patut, soal baik dan buruk serta soal hak dan kewajiban.

Ia juga mengingatkan bahwa cara-cara curang yang saat ini tengah dipraktekan termasuk imtimidasi hukum dengan melibatkan institusi Polri serta institusi lainnya untuk memenangkan kontestasi politik harus dilawan oleh rakyat. “Jangan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Ingat rakyat kita perlu diberikan pendidikan politik dan etika politik yang baik,” ajaknya.

AHY juga menilai bahwa etika-etika itu sangat ditentukan oleh karakter bangsa.
Dalam pandangannya, saat ini nilai-nilai karakter bangsa sudah mulai mengalami pergeseran, di­mana egoisme sangat menonjol dan mudah selali menyalahkan antara satu dengan yang lain. Hal ini berbeda dengan nilai-nilai luhur para pejuang bangsa ini yang rela meninggalkan egoisme suku, agama, ras dan antargllongan demi kepentinga bangsa dan negara, mulai dari kebangkitan bangsa, sumpah pe­muda, kemerdekaan sampai pada reformasi di jaman kemer­dekaan.

“Karenanya, untuk memperbaiki semua itu, pem­bangunan karakter bangsa adalah hal yang sangat penting selain pembangunan infrastruktur,” katanya.

AHY kemudian mengutip serta menyanyikan bagian dari lagi Indonesia Raya, “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.”

Karena karakter bangsa terus merosot belaka­ngan ini, AHY kemudian mengatakan bahwa masya­rakat perlu mempertanyakan refolusi mental yang menjadi program presiden Joko Widodo sejak awal pemerintahannya.

“Kita patut mempertanyakan apa kabar refolusi mental,” ujarnya disambut riuhan tepuk tangan hadirin. (NAM)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top