NEWS UPDATE

Data Korban Meninggal Akibat Kelaparan Suku Mausuane Tidak Jelas

RakyatMaluku.com – BENCANA kelaparan yang melanda Suku Mausuane yang tinggal di pedalaman hutan Pulau Seram tepatnya di Kecamatan Seram Utara Kabupaten Maluku Tengah, telah menarik perhatian pusat. Sudah banyak bantuan yang diturunkan kepada warga suku terasing yang menjadi korban kelaparan, ada paket logistik dari TNI, juga Polri, Kementerian Kesehatan, Pemerintah Kabupaten, Peme­rintah Provinsi, dan Kementrian Sosial termasuk paket bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Tapi sampai sekarang belum ada informasi resmi dari pemerintah yang menyebutkan identitas para warga suku terasing yang disebutkan sebagai korban meninggal dunia akibat kelaparan dan busung lapar.

“Yang kami tau itu, satu lansia, dan diantara dua balita terkena busung lapar, satu berusia tiga tahun,” ujar Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Maluku Tengah, Haradji Patty, Kamis 26 Juli 2018.

Kabar meninggalnya warga suku terasing itu diperoleh saat tim kaji cepat yang dibentuk peme­rintah bersama BPBD Kabupaten Maluku Tengah mengunjungi dan mendata warga Suku Mausuane sebagaimana permintaan Kepala Desa Maneo Rendah kepada Bupati Maluku Tengah tentang kondisi krisis pangan yang dihadapi warga suku pedalaman.
“Saat tim ke lapangan, yang mereka dapatkan hanya informasi seperti itu,” ujarnya.

Sementara soal nama, dimana dan kapan para warga yang meninggal itu dikebumikan, tim kaji cepat tidak lagi mengetahuinya.

Menurut Haradji, data pasti para korban yang meninggal dunia akibat kelaparan dan busung lapar memang masih dicari, tim juga telah ke lapangan membawa bantuan, kesempatan itu akan digunakan tim untuk mendata lagi korban yang telah meninggal dunia.

“Tim saat ini sudah di lokasi, saya akan menan­yakan lagi informasi dari mereka,” tuturnya.

Guna menyelamatkan hidup warga suku terasing yang sampai sekarang masih mendiami hutan Pulau Seram, BPBD Kabupaten Maluku Tengah telah mengusulkan kepada pemerintah agar suku-suku tersebut dimasukan dalam program transmigrasi.

Jika dengan program transmigrasi maka akan sangat menguntungkan para warga suku terasing, apalagi sudah ada lahan yang disediakan Pemerintah Desa Maneo Rendah kepada warga suku asing.

Haradji menjelaskan, usai kebakaran hebat di pedalaman hutan Pulau Seram 2015 lalu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial agar warga suku terasing yang disebut Komunitas Adat Terpencil (KAT) direlokasi ke dataran rendah tapi sampai saat ini usulan itu mentok.

“Salah satu solusi untuk relokasi mereka adalah dengan program transmigrasi, itu sudah saya usulkan tahun 2016,” ujarnya.

Jika dipindahkan ke dataran rendah, keselamatan warga suku terasing memang lebih terjamin, mereka akan tersentuh pembangunan pemerintah.

“Mereka selalu berpindah-pindah, itu yang menyulitkan pendataan dan kontrol. Upaya relokasi sudah pernah kami usulkan dengan cara masuk program transmigrasi, bahkan pendataan warga suku terasing sudah pernah dilakukan, tapi saya tidak tau kelanjutannya, dan semoga saja ke depan usulan ini bisa berjalan lagi,” kata Haradji.

Sementara Tim Kementerian Sosial RI telah melakukan penjangkauan terhadap Warga Suku Mausu Ane, Negeri Maneo Rendah, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis.

“Tim ini diterjunkan sebagai respon cepat kejadian bencana kelaparan akibat perkebunan mereka diserang babi dan tikus. Tugas Tim Kemensos di antaranya mengidentifikasi warga yang sakit, mendata keluarga korban meninggal, menyusun kronologi kejadian, menyalurkan bantuan logistik, serta mengidentifikasi kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang mereka,” tutur Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI Harry Hikmat di Jakarta, Kamis 25 Juli 2018.

Ia menuturkan tim bergerak dari Posko Terpadu Penanganan Wabah Kelaparan di Desa Morokai menuju titik kumpul sementara warga Maneo. Jalan menuju lokasi ditempuh menggunakan kendaraan double cabin melewati medan yang terjal, jalanan tanah dan sungai setinggi lutut orang dewasa.

Desa Morokai merupakan desa terdekat dengan lokasi pemukiman warga Negeri Maneo Rendah. Posko Terpadu yang didirikan di desa ini merupakan pusat koordinasi lintas sektor sekaligus titik menurunkan berbagai bantuan untuk disalurkan ke warga Maneo.

Berangkat dari Desa Morokai menuju ke titik kumpul memerlukan waktu tempuh tiga jam perjalanan menggunakan kendaraan roda 4.

Dari titik kumpul menuju ke Pemukiman warga Negeri Maneo Rendah memerlukan waktu tempuh dua hari satu malam yang ditempuh dengan berjalan kaki. Selain Tim Kemensos, juga turut dalam rombongan adalah personel dari TNI, Polri, BPBD Maluku, berbagai unsur relawan, serta Kepala Desa Morokai yang bertindak sebagai penerjemah bahasa lokal setempat.

Harry mengatakan Tim Kemensos sebanyak tujuh orang terdiri dari beberapa unit kerja yakni Komunitas Adat Terpencil (KAT), Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam, Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial, dan Pusat Penyuluhan Sosial. Ditambah personel dari Dinas Sosial Provinsi Maluku, Dinas Sosial Kabupaten Maluku Tengah, serta Taruna Siaga Bencana (Tagana).

“Sebagaimana yang Bapak Menteri Sosial selalu tekankan apabila terjadi bencana warga terdampak harus mendapat prioritas utama penanganan, maka untuk jangka pendek bantuan logistik sudah disalurkan oleh tim TAGANA Provinsi Maluku bersama dinas sosial setempat. Langkah ini merupakan bantuan jangka pendek,” tegasnya.
Seperti diketahui sebanyak 10 personel TAGANA Provinsi Maluku bersama Dinas Sosial Provinsi Maluku dan Dinas Sosial Kabupaten Maluku Tengah menyalurkan bantuan logistik.

Bantuan berupa 1 ton beras, 190 lembar matras, 270 lembar selimut, 35 paket mainan untuk anak-anak, 60 paket untuk lansia, 45 paket perlengkapan bayi, 90 paket lauk pauk, peralatan dan perlengkapan memasak (panci, wajan, piring, gelas), 45 unit tenda gulung.

“Bantuan logistik dari Kementerian Sosial sudah mulai dibagikan. Kami juga meminta Petugas KAT dari Pusat dan Tagana untuk membimbing dan membantu warga dalam mengolah makanan seperti beras dan lauk pauknya,” tutur Harry.

Ia menjelaskan setelah bantuan jangka pendek ini berjalan, selanjutnya pada jangka menengah Kemensos akan memberikan santunan bagi anggota keluarga yang meninggal dan mengidentifikasi jumlah mereka untuk mendapatkan bantuan pangan tanggap darurat selama tiga bulan berupa makanan pokok.

Sementara untuk jangka panjang, Kementerian Sosial melakukan penjajakan terhadap pelaksanaan Program Pemberdayaan KAT yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi warga sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) 186 Tahun 2014 Tentang Penanganan KAT dan Permensos Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pemberdayaan Sosial KAT. (ARI)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top