NEWS UPDATE

Debat Publik Pilkada Maluku Jadi Arena Saling ‘Serang’ Kandidat

RakyatMaluku.com – DEBAT kandidat pasangan calon gubernur-wakil gu­ber­nur Maluku periode 2018-2023 memang tidak memberikan kesan yang optimistis kepada masyarakat dalam kerangka membangun Ma­luku kedepan.

Maluku terpuruk, miskin dan tertinggal adalah fakta. Sejatinya, eksplore gagasan dari setiap pasangan calon kepala daerah sebagai for­mula dalam meramu birok­rasi dalam strategi pem­bangunan ke­depan adalah solusi yang dinanti masyarakat, bukan aksi unjuk ‘jago’, ‘topu dada’, atau lebih tren saling serang personal dipanggung debat kandidat.

Karena essensi debat kandidat adalah adu strategi dan program kerja yang efektif dan effi­sen dalam lima tahun kedepan guna mengatasi problematika sosial-ekonomi dan pembangunan yang ada di Maluku.

Akademi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (F-ISIP) Universitas Pattimura Ambon, Amir Kutarumalos, mengaku tidak melihat adanya dina­mika debat yang ‘sehat’, dimana para kandidat meng­eksplore secara mendalam program dan strategi pembangunan Maluku dalam mengedukasi masyarakat di pentas demokrasi lima tahunan ini.

Bahkan terkesan, yang tampak adalah aksi saling ‘serang’ para kandidat, dengan menyalahkan satu sama lainnya. Ini sangat tidak baik dalam kualitas demokrasi yang mestinya berimplikasi pada kebijakan (policy) kedepan.

“Saya kira point adalah bagimana kebijakan pemerintah kedepan mengetasi kondisi kemiskinan, dan keterbelakangan di Maluku yang menjadi sorotan nasional ini. Tapi yang tampak dalam debat tadi malam adalah para kandidat saling serang, bahkan menyerang personal. Tentunya sangat tidak etis dalam ruang publik. Karena mereka adalah calon pemimpin yang seyognya apa yang disampaikan dalam panggung debat tersebut menjadi edukasi dan alternative bagi pemilih yakni masyarakat,” kata Amir saat dikonfirmasi Rakyat Maluku, Selasa 7 Mei 2018.

Menurutnya, para kandidat harus bisa menam­pilkan sikap negarawan, dengan tidak melakukan aksi-kasi ‘pembullyan’ satu dengan lainnya. Tetapi focus untuk beradu gagasan, beradu strategi dan beradu program kerja. Ini sangat terlihat jika terjadi ‘perang’ emosional antar para kontestan pilkada Maluku.

Padahal problem di Maluku butuh solusi, bagimana para kandidat ini, bisa mengeluarkan Maluku dalam lingkaran setan kemiskinan, keterlambatan pembangunan, kondisi pengangguran dan masalah lainnya. Ini adalah point interest yang dibutuhkan dalam kualitas debat semala. Tetapi, justru ekspekatasi tersebut tergerus dengan ‘emosi’ para kompetitor.

“Saya kira para kandidat harus bisa menampilkan sikap negarawan, dengan tidak melakukan aksi-aksi ‘pembullyan’ satu dengan lainnya. Tetapi focus untuk beradu gagasan, beradu strategi dan beradu program kerja. Ini sangat terlihat jika terjadi ‘perang’ emosional antar para kontestan pilkada Maluku.

Padahal problem di Maluku butuh solusi, ba­gimana para kandidat ini, bisa mengeluarkan Maluku dalam lingkaran setan kemiskinan, keter­lambatan pem­bangunan, kondisi pengangguran dan masalah lainnya. Ini adalah point interest yang dibutuhkan dalam kualitas debat semala. Tetapi, justru ekspekatasi tersebut tergerus dengan emosi para kompetitor,” ucapnya.

Bukan itu saja, Amir juga mengkritik pihak pen­yelenggara. Dengan memberikan waktu 1.30 menit kepada peserta pilkada untuk mengeksplore gagasan dan membangun konstruksi konsepsional pembangunan Maluku sangat tidak cukup. Waktu yang singkat tersebut, bagi Amir seolah mendikte para kandidat. Selain itu, para MC hanyalah pemantik, terkesan waktu lebih banyak habis ditangan para MC di debat kandidat tersebut.

“Bagi para pihak penyelenggara. Dengan mem­berikan waktu 1.30 menit kepada peserta pilkada untuk mengeksplore gagasan dan membangun kons­truksi konsepsional pembangunan Maluku sangat tidak cukup. Waktu yang singkat tersebut, bagi Amir seolah mendikte para kandidat. Selain itu, para MC han­yalah pemantik, terkesan waktu lebih banyak habis ditangan para MC di debat kandidat tersebut,” kritiknya.

Amir menyarankan agar penyelenggara bisa mempertimbangkan kembali kualitas debat kandidat dengan memberikan ketersediaan waktu yang cukup kepada pasangan calon untuk memberikan pemahan dan langkah strategis dan taktis dalam menyelesaikan problem Maluku.

“Saya sarankan kedepan, agar penyelenggara bisa mempertimbangkan kembali kualitas debat kandidat dengan memberikan ketersediaan waktu yang cukup kepada pasangan calon untuk memberikan pemahan dan langkah strategis dan taktis dalam menyelesaikan problem Maluku,” tutupnya. (ASI)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top