GERBANG PENDIDIKAN

Doktor Kelautan dari IAIN Ambon

DR.H.Muhammad Thaib Hunsouw, SQ, M.Ag | Dosen IAIN Ambon

IAIN AMBON kini punya doktor baru di bidang kelautan. Kok doktor kelautan? Bukan doktor muamalah, fiqih, ekonomi Islam, ushuluddin atau tauhid, misalnya.

Inilah letak “kehebatan” doktor kita yang satu ini. Namanya DR.H.Muhammad Thaib Hunsouw, SQ, M.Ag, dosen pada Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Ambon, itu.

Ia satu-satunya doktor yang dimiliki IAIN Ambon bahkan Maluku yang telah memilih “jalur” berbeda melakukan studi tafsir Al-Quran tentang kelautan. “Saya orang pertama yang melakukan studi kelautan dengan perspektif Al-Quran,” ujar Ustad Dr.Thaib, Minggu, (26/9/21).

Doktor yang mengambil spesifikasi tafsir kelautan ini memang terbilang baru. Di hadapan tim penguji Prof.Dr. Jamaluddin, M.Sc, Pro.Dr. H.M.Rusydi Khalid, MA, Prof.Dr. H.M.Ghalib M, MA, Prof.Dr.H.A. Qadir Gassing HT, MS, dan Dr.H.Andi Anderus, MA, ia berhasil mempertahankan disertasinya setebal 270 halaman berjudul: Perspektif Al-Quran Tentang Kelautan Modern di hadapan dewan penguji yang dipimpin Prof.Dr. Mardan, M.Ag, di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, 30 Agustus 2021, dengan hasil cumlaude.

Di Indonesia hanya ada beberapa disertasi yang melihat laut dari perspektif hukum Islam. Di UIN Jakarta misalnya ada studi khusus tentang penggunaan kata Al-Bahar (laut) melalui pendekatan Tafsir Al-Misbach karya Prof.Dr. M.Qurais Syihab, MA.

Pun di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta juga ada yang melakukan pendekatan serupa tentang Al-Bahar dari perspektif hukum internasional.

Di perguruan tinggi umum lainnya banyak pula melakulan kajian yang sama membahas soal kelautan baik dari sisi pemanfaatan ekonomi, transportasi, ekologi terumbu karang, sains, dan teknologi moderen.

Namun studi yang dilakukan Dr. H.Thaib ini tentu berbeda. Bila kajian disertasi yang mereka lakukan itu hanya menemukan 32 ayat Al-Quran tentang lautan tidak demikian dengan Dr.Thaib.

Kajian ini dilakukan melalui metode penelitian kepustakaan (labrary research) dimana Al-Quran sebagai fokus utama.

Ia juga melakukan pendekatan selain Tafsir Al-Misbach karya Prof Qurais Syihab atau Tafsir Al-Qurtuby karya Abu Abdullah Muhammad Bin Ahmad Bin Abu Bakr Al-Anshari Al-Qurtuby asal Andalusia, Spanyol, yang populer itu.

Pun Kitab Al-Munir karya Ibnu Katsir, atau Tafsir Fi Tafsir Al-Kalam karya Abdul Rahman Bin Nasir Al-Safa juga dijadikan sebagai referensi.

Dengan menggunakan metode pendekatan multidisipliner dengan cara mengkaji dari beberapa disiplin ilmu atau
mengaitkannya dengan disiplin ilmu yang berbeda dengan pendekatan dialektika ekologi dan pendekatan tafsir ditemukan ada 72 fenomena ayat Al-Quran berkaitan dengan kelautan.

Laut dalam perspektif Al-Quran ternyata memiliki banyak dimensi tidak saja berkaitan dengan ekologi, oceanografi, tapi juga memiliki banyak sifat perumpaan dalam Al-Quran.

Pada Surah Lukman/31:27, misalnya. Disebutkan: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta) ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah keringnya maka niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Mengutip Tafsir Fi Tafsir Al-Kalam karya Abdur Rahman dalam Kitab Tafsir Fi Tafsir Al-Kalam itu, Dr.Thaib mengatakan ungkapan itu bukanlah hiperbolis namun demikianlah hakekatnya.

Bahwa kita dianjurkan mengenal nama dan sifat-sifat Allah, namun tidak semua kita bisa menangkap nama dan sifat Allah yang begitu banyak. “Tapi dengan mengenal nama dan sifat-sifatNya itulah sebenar-benarnya nikmat,” ujarnya.

Dari sebanyak 72 ayat tentang kelautan itu menyebutkan soal kapal yang berlayar di atas laut, ombak, kapal, dan ikan. Dari perbadingan kata yang disebutkan dalam Al-Quran yakni: “telah terjadi kerusakan di darat dan di lautan,” ternyata jumlah kata laut lebih banyak dari daratan. “Ada 30 ayat tentang daratan (Al-Barri). Dan ada 72 ayat tentang lautan (Al-Bahar),” ujarnya.

Itulah mengapa kelautan kita dalam konteks kemodernan haruslah dilihat dari berbagai dimensi. Karena itu arah dan kebijakan pembangunan Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki 70 persen laut dan lautan dan juga Maluku sebagai provinsi kepulauan haruslah memanfaatkan sebesar-besarnya potensi kelautan kita itu untuk kemakmuran.

Pentingnya kita menjaga laut tak lepas dari cara kita menjaga begitu besar nikmat Tuhan yang diberikan kepada umat manusia. Karena itu laut haruslah dipelihara dan dilestarikan. Bukan dirusak dan dieksploitasi.

Sebagai negara maritim nenek moyang bangsa kita pernah mencapai abad keemasan pada saat Kerajaan Mataram dan Sriwijaya serta kerajaan lainnya di Nusantara yang “menguasai laut” dari berbagai belahan bumi sehingga mendapatkan kemakmuran bagi rakyatnya dari pemanfaatan kelautan melalui aktivitas ekonomi maupun perdagangan global.

Zaman kejayaan maritim tersebut pudar pada masa penjajahan dan berimbas sampai sekarang. Penyebabnya orientasi kita kurang mengintegrasikan pembangunan darat dan laut sebagai sebuah kekuatan pembangunan yang mensejahterakan bangsa Indonesia.

Itulah pentingnya kita mengimplementasikan ilmu dan pengalaman dalam mengeksplorasi sumber daya laut. Di satu sisi kita dapat mengambil manfaat dari laut. Di sisi lain kita harus tetap menjaga dan melestarikan ekosistemnya dengan baik.

Dalam konteks ini maka paradigma Al-Quran tentang kelautan modern haruslah diimplementasikan untuk menjaga kelestarian laut dan kelautan kita agar tidak dirusak dan dieksploitasi oleh para cukong atas hasil perikanan, minyak, dan gas.

“Ini juga merupakan bagian penting dari upaya kita untuk mengentaskan kemiskinan bagi masyarakat pesisir nelayan khususnya dan masyarakat secara umum,” ujar Dr. H. Thaib yang juga adalah Pimpinan Pondok Pesantren Ishaka, Ahuru, Kota Ambon, itu.

Dalam Al-Quran banyak cerita tentang laut. Laut juga bisa menjadi media pembelajaran. Sejak zaman Nabi Nuh AS hingga zaman modern saat ini fungsi laut adalah sebagai salah satu jalur transportasi yang sangat populer bagi manusia setelah jalur darat.

Laut memberikan kontribusi yang sangat luas bagi kemakmuran hidup manusia. Ini bisa dimaklumi karena secara geografis komposisi laut jauh lebih besar dari pada daratan sehingga manusia senantiasa berusaha dengan segala upaya agar mampu memanfaatkan jalur ini untuk kepentingan perdagangan mereka.

Dalam Tafsir Al-Munir karya Ibnu Katsir disebutkan bahwa Allah memudahkan bagi manusia sarana perjalanan serta transportasi barang-barang perdagangan dan benda-benda berat antarnegara dengan kapal layar, kapal api dan kapal bertenaga atom baik dalam situasi damai maupun perang.

“Ini bukti Keesaan Tuhan terlihat ketika dikaji cara pembuatannya, muatan dan desainnya. Misalnya pengetahuan tentang tabiat air, hukum massa benda, serta tabiat udara, uap dan listrik,” ujarnya.

Hal itu hanya diketahui oleh para ilmuan spesialis yang menemukan potensi-potensi ini dan mengendalikannya untuk pemanfaatan manusia. Kapal-kapal itu termasuk bagian dari ciptaan Allah SWT sesuai kodrat-Nya meliputi segala sesuatu. “Inilah oleh Ibnu Katsir mengatakan manfaat bahtera di lautan adalah dapat memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang lain,” ujarnya.
*
Lahir di Ambon, 29 Maret 1971, Dr.H.Muhammad Thaib Hansouw adalah seorang yang sejak lama bergelut dalam kajian tafsir Al-Quran saat masih menjadi santri pada Pondok Pesantren Gombara, Makassar, 1991, hingga S3.

Setamat dari pesantren ia melanjutkan pendidikan S1 (1999) dan S2 (2009) pada PTIQ Jakarta. “Tesis S2 saya berjudul: Fi Zilalil Quran. Yakni pembahasan tentang Ayat-ayat Ulul Albab,” ujarnya.

Beranak tiga, Ustad H.Thaib beristrikan Umi Talha Al-Jufri yang juga dosen yang sama pada Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam pada IAIN Ambon.

Untuk mengakhiri studi S3-nya itu ia menghabiskan waktu tidak kurang empat tahun atas biaya beasiswa dari Kementerian Agama (Kemenang) RI.

Ia mengaku bersyukur atas pemberian beasiswa S3 yang diperolehnya tahun 2017 itu. Saat itu ada beberapa yang tes melalui Kemenag Pusat tapi yang dari Maluku hanya ada dua orang yang lolos yakni dirinya dan rekannya Dr.Hanafi Holle.

“Saya sendiri dapat di UIN Makassar dengan spesifikasi Perspektif Al-Quran Tentang Kelautan Modern, sedangkan sobat saya Pak Hanafi Holle di UIN Sunan Ampel Surabaya dengan studi khusus Ekonomi Syariah,” ujarnya.

Nama keluarga Hansouw bagi warga Ambon tentu sudah tak asing. Sebab, dalam struktur rumpun keluarga ini termasuk salah satu dari sembilan Dati di Desa Batu Merah. “Nama Pondok Pesantren Ishaka yang kami abadikan di Dusun Ahuru Kota Ambon itu tidak lain kami ambil dari nama datuk kami. Hansouw sendiri adalah salah satu Dati di Batu Merah pemilik tanah di Ahuru sejak 1814,” ujarnya.

Dari studi S3 yang dilakukannya itu, ia mengaku sangat tertantang. Sebagai seorang akademisi ia telah berobsesi agar kedepan IAIN Ambon sudah harus punya program studi S1 tentang pengembangan Ilmu Al-Quran dan Tafsir Al-Quran.

Diakui pada Fakultas Ushuluddin IAIN Ambon memang ada Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir Al-Quran. Tapi karena peminat dan soal SDM dosen di bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir Al-Quran yang terbatas program tersebut belum terlaksana.
“Sampai sekarang IAIN Ambon baru punya tiga doktor di bidang tafsir Al-Quran. Yakni Dr. Rosmawati Nurdin, Dr. Didin, dan saya,” ujarnya.

Tapi kedepan anak ketujuh dari tujuh bersaudara putera kesayangan H. Umar Hunsouw (alm) dan Ny. Sa’adiyah Nurlette (almh) itu, mengaku sudah waktunya dipikirkan untuk dibuka. “Mengingat tantangan pendidikan dan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi maka IAIN Ambon sudah perlu berbenah memikirkan pengembangan studi di bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir Al-Quran,” ujarnya.(*)

--------------------

Berita Populer

To Top