I Like MONDAY

DR.Maail, Sukun, dan Mitigasi Bencana

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

Gagasan menjadikan pohon sukun sebagai tanaman endemik untuk mitigasi bencana terbilang baru. Selain pohon bakau, pohon sukun ternyata memiliki daya tahan lebih kuat bila sewaktu-waktu terjadi tsunami. Lebar akarnya yang mencapai 20 meter memiliki daya cengkram ke dalam tanah lebih tangguh dan bisa menahan abrasi dan erosi bila terjadi banjir.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Dosen Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Unpatti, Ambon, diperoleh kesimpulan pohon sukun bisa dimasukkan sebagai salah satu varian tanaman untuk mitigasi vegetatif menghadapi bencana.

Sosok dibalik ide ini datang dari DR.Rohny Maail. Bersama teman-temannya, mereka bekerjasama dengan NGO Internasional-Andarinyo Go Earth mencoba menggelar sebuah program melalui Sosialisasi dan Pelatihan dengan Tema: “Pengembangan Mitigasi Vegetatif Sukun (artocarpus altilis) dalam Upaya Peningkatan Ketahanan Pangan dan Pengurangan Resiko Bencana di Maluku,” di Ronawiska Beach, Latuhalat, Ambon, Sabtu, (24/4/21).

Doktor pertanian jebolan Universitas Kyoto, Jepang itu telah memulai langkah awal “mengampanyekan” pentingnya pohon sukun sebagai tanaman vegetatif untuk menangkal bencana dengan mengambil sampel pohon sukun Desa Latuhalat, Pulau Ambon, sebagai objek kajian.

Mengapa harus pohon sukun Negeri Latuhalat? “Dari studi yang kami lakukan ternyata pohon sukun Latuhalat memiliki kekhasan. Selain akarnya lebar mencapai 20 meter juga mempunyai.daya tahan yang kuat. Ia bisa hidup di pantai juga di bebatuan,” kata Dr.Rohny Mail.

Pohon sukun Latuhalat termasuk jenis tanaman endemik mempunyai kandungan gizi pada buahnya dan memiliki sumber pangan potensial. Beda dengan jenis sukun lainnya pohon sukun Latuhalat mempunyai akar yang panjang dan kualitas buah jenis kapas yang gurih.

DR.Rohny Maail dkk mengampanyekan pohon sukun Latuhalat sebagai objek penelitian untuk pengembangan pembibitan agar bisa dikembangkan di tempat lain selain di Kota Ambon.

Akar pohon sukun juga bisa menyerap banyak air. Ketika usianya mencapai 30 sampai 40 tahun di sekeliling pohon sukun akan muncul banyak sumber air. “Hal ini bisa menjadi salah satu langkah mitigasi saat terjadi kekeringan,” ujarnya.

Tanaman tropis ini banyak tumbuh di Negeri Latuhalat dengan jenis yang unggul yakni “sukun kapas” bisa menjadi solusi dari masalah krisis pangan di Tanah Air.

Dengan kandungan karbohidrat di dalam buahnya, sukun dapat menggantikan nasi sebagai makanan pokok apabila terjadi gagal panen padi.

Dari catatan yang didapat DR.Rohny Maail ddk diperoleh data trend bencana di Indonesia dari tahun 2003 sampai 2020 mengalami kenaikan dari 366 kasus menjadi 3814 kasus bencana.

Dan sampai 28 Maret 2021 tercatat jumlah bencana di Indonesia sebanyak 89. Peristiwa bencana alam yang mendominasi adalah bencana banjir diikuti puting beliung dan tanah longsor.

Bencana alam menimbulkan dampak sosial dimana terjadinya pengungsian sebanyak 4.142.392 jiwa, 277 jiwa meninggal dunia, 12 hilang serta 12.422 jiwa luka-luka. Selain bencana alam, pada tanggal 13 April 2020, pemerintah menetapkan penyebaran Covid-19 sebagai Bencana Nasional Non Alam.

Kita tentu patut berbangga atas inisiasi para ilmuwan Unpatti yang telah melakukan pengembangan melalui kegiatan ilmiah semacam ini.

Semakin banyak para ilmuwan kita menemukan kerja-kerja ilmiah seperti ini semakin hidup pula pengembangan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan manusia, tentu.

Kita berharap langkah awal yang dilakukan DR.Rohny Maail dkk tersebut dapat dikembangkan dan diikuti pula oleh para akademisi kita yang lain. Tentu tidak saja dalam teori tentang pemanfataan sukun Latuhalat tersebut tapi juga perlu diikuti oleh studi-studi ilmiah yang lain.

Semakin banyak gagasan-gagasan semacam ini dimunculkan menandakan semakin hidup pula pengembangan ilmu pengetahuan yang dicetuskan oleh para ilmuwan dari kampus kita.

Unpatti dalam hal ini tentu memiliki peran penting sebagai pelopor dan sarana pengembangan ilmu pengetahuan (intelectual exercise) di Maluku.

Kita tentu patut berbangga dari Kampus Orang Basudara yang dipelopori DR Rohny Maiil dkk membuat kiprah pengembangan ilmu dari kampus ini bisa menjadi starting point untuk bisa lebih sejajar dengan kampus lain di Tanah Air.

Tidak diragukan selama ini banyak ilmuwan kita dari Unpatti telah banyak melahirkan karya-karya ilmiah berkualitas. Dari tangan-tangan terampil merekalah kita berharap reputasi Unpatti bisa menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dan karya-karya tersebut tentu harus diikuti pula oleh publikasi yang lebih luas melalui media massa dan jurnal-jurnal ilmiah sangatlah penting dilakukan. Tak saja dalam konteks nasional tapi juga melalui jurnal-jurnal ilmiah pada level internasional agar semakin banyak diketahui khalayak luas.

Boleh jadi tesis yang dikembangkan DR.Rohny Maail dkk barulah segelintir orang yang tahu, padahal melihat besarnya fungsi dan manfaat pohon sukun ini — tak saja dari sisi ekonomis sebagai bahan pangan — tapi sebagai tanaman endemik ini bisa menjadi langkah awal yang patut dibanggakan bagi kita untuk menjadikan pohon sukun sebagai barriel (penahan) untuk mitigasi bencana berupa tsunami akibat gempa bumi, banjir dan tanah longsor yang setiap saat mengancam kita.(*)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top