NEWS UPDATE

Figur Gubernur Maluku Harus Seperti Erdogan

Presiden Turki - Recep Tayyib Erdogan

RakyatMaluku.com – FIGUR  gubernur Maluku kedepan seharusnya mencontohi Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan yakni figur yang memiliki visi yang cemerlang dalam hal memperbaiki kualitas hidup rakyatnya dari tepian jalan, dari desa, kemudian menata kota. Pemimpin Maluku nantinya haruslah membuat lompatan-lompatan sejarah yang bermanfaat untuk daerah ini.

Amir Kotaromalus

“Kita harus belajar dari seorang Erdogan, Presiden Turki. Dia membuat lompatan yang bermanfaat untuk rakyatnya. Dia mengubah Turki dari tadinya seorang walikota Ankara dari tepian jalan, desa kemudian menata kota,” ujar dosen Ilmu Sosial dan Politik Fakultas Sospol Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon Amir Kotaromalus kepada Rakyat Maluku, Selasa 19 Juni 2018, menanggapi Debat Kandidat Pasangan Calon Gubernur Maluku yang akan ditayangkan telivisi Rabu, 20 Juni 2018.

Dikatakan, pemimpin Maluku kedepan harus memiliki visi yang cemerlang dan memiliki link atau jaringan yang kuat baik di dalam maupun luar negeri.

“Gubernur dambaan rakyat itu adalah gubernur yang dengan kebijakannya mampu mengenyangkan rakyatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Pasangan SANTUN Chairuddin Tuarita menilai sosok gubernur Maluku kedepan yang layak dipilih adalah sosok gubernur yang telah berpengalaman dan memiliki rekam jejak dan kualitas yang telah teruji.

Chairuddin Tuarita

Menurut Tuarita, rakyat Maluku yang akan memilih gubernur Maluku tanggal 27 Juni 2018 nanti harus memilih figur yang memiliki rekam jejak yang jelas. Di situlah kita bisa mengukur kualitas serta kapabilitas sosok seorang gubernur Maluku. Ini adalah sebuah keharusan yang dapat dicermati dalam visi-misi serta panggung kampanye dan debat kandidat.

“Dari sini barulah kita bisa mengetahui sampai sejauh mana figuritas sang pemimpin tersebut,” ujar Tuarita yang juga politisi Golkar, itu.

Menyinggung soal kualitas Pilgub nanti dia berharap semoga menghasilkan Pilgub yang bermartabat karena kita tahu bahwa terbelakangnya proses berdemokrasi dalam Pilgub di Maluku dalam menggapai kekuasaan akibat tidak netralnya pihak-pihak yang seharusnya netral.

Tuarita tidak menyebutkan siapa yang dimaksud pihak-pihak tersebut, namun dari sinyalemen yang terungkap sebelumnya disebutkan bahwa adanya indikasi yang dilakukan pihak tertentu dimana hukum dijadikan sebagai alat untuk mengintimidasi membenarkan sinyalemen dimaksud.

“Kita berharap proses Pilgub nanti bisa mela­hirkan sosok pemimpin yang teruji dan ber­martabat,” ujarnya.

TAK PERLU BERDARAH-DARAH
Menyinggung sampai sejauh mana proses demokrasi ini, baik Amir Kotaromalus maupun Chairuddin Tuarita keduanya menilai relatif baik meski diakui kalau dalam pergumulan itu ada intrik politik.

“Kalau ada gejolak kepentingan di kalangan elite ya itu lumrah. Namun saya hanya bisa berdoa agar tidak ada gejolak. Kalau kemudian karena ada kepentingan elite kekuasaan menjelang Pilpres 2019 kemudian ada gesekan kepentingan dengan Pilgub Maluku saya harap itu tidak terjadi,” ujar Tuarita.

Dia mengingatkan agar rakyat tidak lagi diberi tekanan hanya karena proses politik penguasa. “Rakyat harus sadar bahwa mereka adalah penentu kekuasaan dalam demokrasi. Sedapat mungkin kita hindari gesekan kepentingan. Rakyat jangan lagi diberi beban dengan tekanan,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Amir Kotaromalus, kondisi Kota Ambon saat ini telah berbeda jika dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Saat ini kita telah memiliki aparat TNI/Polri yang tetap siaga setiap saat. Juga telah ada perangkat UU Terorisme dan ketahanan masyarakat telah kuat.

“Lagian jarak kepentingan Pilpres 2019 masih agak jauh dengan Pilgub Maluku ini. Di samping itu Maluku tidak punya sejarah yang berdarah-darah dan berapi-api tentang Pilgub,” ujar Kotaromalus. (IQI)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top