I Like MONDAY

Ilmuwan Terbaik, Itu Telah Tiada

Kepergiannya begitu mendadak. Di tengah perjuangannya meriset obat penangkal COVID-19 itu ia tiba-tiba terkena serangan jantung, 12 Nopember 2020. Dia tak lain adalah almarhum DR.dr. Arend Mapanawang, Sp.PD.FINASIM.

AHMAD IBRAHIM | Komisaris Utama Hr. Rakyat Maluku

Sehari-hari beliau adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam yang juga sebagai Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Kesehatan dan Kebidanan Makariwo Halmahera (STIKMAH) di Kota Tobelo, ibukota Kabupaten Halmahera Utara.

Semasa virus ini merebak di Indonesia Maret 2020 lalu, lembaga yang dipimpin dr.Arend Mapinawang itu mendapat kepercayaan dari pemerintah pusat menjadi periset bersama dua perguruan tinggi lainnya yakni Universitas Hasanudin (UNHAS) Makassar dan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado.

“Jadi, STIKMAH Halmahera Utara yang dibidani almarhum dan berdiri 2007 termasuk salah satu lembaga perguruan tinggi di Indonesia Timur yang mendapat kepercayaan dari Presiden Jokowi guna melakukan riset obat penangkal COVID-19 untuk jenis herbal. Kami bangga dan bersyukur karena lembaga kami mendapat kepercayaan tersebut,” ujar Frangki Mapinawang, Skep Ns, adik kandung Dr.dr. Arend Mapinawang, Minggu kemarin, (15/11/20).

Nama dokter Arend Mapinawang di kalangan akademisi di bidang kesehatan sudah banyak dikenal. Melalui lembaga yang dipimpinnya itu sudah 18 tahun terakhir telah melakukan penelitian untuk obat-obat kesehatan.

Sebelum melakukan riset untuk penangkal COVID-19, jauh sebelum itu dokter Arend Mapanawang yang asli Pulau Halmahera ini juga pernah bergelut dan sukses menemukan obat herbal untuk antivirus HIV/AIDS dari tanaman khas golobe dan dibuat menjadi herbal bernama: Golarend.

Penemuan mana yang dia dapatkannya itu diperoleh dari sebuah tanaman sejenis jahe yang oleh orang Ambon biasa dinamakan goloba. Jenis tanaman ini banyak ditemukan di Pulau Halmahera.

Atas temuannya itu, dr. Arend banyak diundang ke berbagai tempat di Indonesia termasuk ke luar negeri untuk menjadi pembicara guna memberikan penjelasan seputar gagasannya menemukan obat herbal tersebut.

Atas penemuannya itu dia menjadi salah satu ilmuwan terbaik untuk menjadi pemateri pada level internasional hingga melakukan MOU atau kerjasama dengan lembaga-lembaga riset pada sejumlah perguruan tinggi seperti Cina, Jepang, Malaysia, Singapura, Inggris, dan New York.

Kepergian dr. Arend Mapinawang ini tentu sangat memukul bagi segenap akademika STIKMAH juga masyarakat yang selama ini dikenal sebagai sosok dokter yang mengakar. Pun di mata adiknya Frangki Mapinawang yang juga ikut dalam tim periset itu ikut merasa terpukul.

Kepergian almarhum yang tiba-tiba ini tentu tidak saja membuat dunia akademik kehilangan ilmuwan terbaiknya, tapi juga sekaligus kehilangan seorang peneliti hebat.

“Sebagai saudara, juga sebagai periset yang berada di bawah binaan beliau kami tentu merasa sangat kehilangan atas kepergian orang terbaik itu,” ujar Frangki Mapinawang, Skep Ns.

Kepergian almarhum ini juga bertepatan Hari Kesehatan yang jatuh tanggal 12 Nopember 2020. “Kita kehilangan salah satu dokter langka. Sebagai orang Loloda, saya bangga atas kinerja dan prestasinya. Secara akademik ia sukses sebagai seorang penemu untuk bidang kesehatan,” ujar Rizal Hamanur, sahabat dekat almarhum.

Sebagai dokter dia juga seorang penulis buku sejarah lokal Maluku Utara dan medis. “Sayang sampai sejauh ini bukunya belum pernah dibedah. Saya pernah kritik ke beliau soal bukunya itu. Saya tadinya bersama DR. Syaiful Ruray maunya karya itu dibedah. Sayangnya, belum sempat niat baik itu disampaikan beliau sudah dipanggil Yang Maha Kuasa,” ujar lelaki asal Desa Dama, Loloda Kepulauan.

Nama dokter Arend Mapinawang adalah seorang yang low profile. Ia seorang dokter yang jauh dari hiruk-pikuk nasional. Tapi sebagai ilmuwan namanya kelak akan tercatat oleh sejarah khususnya di bidang medis di tengah masa pandemi COVID-19 ini.

Sebab, walau di level nasional tidak populer, namun namanya sempat disebut-sebut di tengah mewabahnya virus corona nun jauh di Maluku Utara.

Dokter yang juga peneliti kelahiran Desa Asimiro 15 April 1965 di sebuah desa di pesisir, Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, juga dikenal sangat peduli dengan masyarakat.

“Sebagai dokter ia juga seorang aktivis. Setiap masalah yang terjadi di lapangan kerab almarhum acapkali meminta pendapat dari saya. Termasuk soal penguasaan tanah oleh perusahaan tambang di kampung halaman beliau juga ikut mengadvokasi,” ujar Rizal Hamanur.

*
Bermula dari keberhasilan atas penelitian untuk herbal antivirus HIV/AIDS atas tanaman Golobe itu, selain diundang ke mancanegara oleh pemerintah pusat kemudian dia diberi amanat untuk meriset herbal antivirus COVID-19.

Gara-gara virus mematikan itulah almarhum bersama timnya melakukan riset. Dari hasil risetnya ditemukanlah obat herbal antivirus corona yang didapatinya pada makhluk laut bernama Bintang Laut Merah atau dalam bahasa latin disebut asteroida.

Dari hasil risetnya itu, dokter jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini pun diundang oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menjadi pembicara pada seminar nasional bertema: Peran Herbal untuk Antivirus HIV/AIDS dan Corona, Juni 2020, lalu.

Ia tidak sendiri tapi bersama 11 pembicara dan para dokter terbaik Indonesia ikut tampil menjadi pemateri.

Dari hasil laboratorium atas penemuannya tersebut sudah berhasil diujicoba kepada sejumlah pasien corona nun jauh di Maluku Utara dan berhasil. Untuk bisa mempertanggungjawabkan secara medis, pihaknya kini sedang mempersiapkan untum tahap uji klinis.

“Sayang, sambil menunggu tahap ini beliau meninggal dunia. Walau demikian, sebagai orang yang ikut dalam tim riset ini kami akan teruskan berjuang. Mudah-mudahan setelah uji klinis ini selesai sudah bisa dipasarkan,” ujarnya.

Tadinya, sebelum memasuki uji klinis metode yang dilakukan dokter Arend pada laboratorium itu masih memiliki taraf standar. Namun demikian, mereka tidak ragu sebab mereka mempunyai 13 laboratorium nasional di Indonesia yang bisa dikolaborasi.

Karena mereka belum memiliki laboratorium lengkap maka pada hasil penelitiannya itu coba dihubungkan dengan bekerjasama Lab DKI Jakarta.

“Dan, hasilnya positif. Senyawa Piperidone pada hewan ini mencapai 27.24 persen yang merupakan senyawa terbesar dari beberapa kandungan senyawa pada binatang laut berwarna merah itu,” kata dr. Arend kala itu.

Sayang, penemuan akademisi yang telah lama bergelut di bidang riset untuk kesehatan itu jauh kalah populer di tingkat nasional ketimbang ujicoba herbal minyak kayu putih ala Guru Besar Unhas Makassar Prof Dr Idrus Patturusi, itu. Atau ujicoba gelang/kalung ala Mentan Syahrul Yasin Limpo.

Walau demikian, diam-diam penemuan herbal marine asteroid ala dokter Arend Mapanawang ini ternyata menjadi pembicaraan di kalangan akademisi khususnya di bidang riset kesehatan.

Atas peran di bidang herbal sebagai antiinflamasi dan antivirus pada HIV/AIDS dan corona melalui riset pada hewan laut bernama asterodia itulah nama dr.Arend Mapanawang menjadi topik pembicaraan di kalangan akademisi kesehatan.

Itulah yang membuat mengapa universitas sekelas UII Jogya mengundang yang bersangkutan menjadi pembicara terkait penemuan obat antivirus corona ala dr.Arend Mapanawang pada seminar nasional obat herbal Indonesia bertajuk: Menuju Revolusi Industri di Tengah Globalisasi Virus dan Antivirus HIV/AIDS dan Corona tersebut.

Selama riset ini dilakukan dr.Arend Mapanawang tidak sendiri. Tapi sebagai ketua peneliti, dia didampingi oleh koleganya yang lain yakni Ismail Apt, Fernandes Sambode Farmasi, Silvestre Wungow S.Farmasi, Philip Jemy Maengkom, Giovany Mapanawang, Sked, Frangki Mapanawang, Skep Ns, Mkes, Dolfina Galela M.Hum, dr Sarah G Mapanawang, Mkes, dan Amanda Manitik, Mkes.

Rest in peace. Selamat jalan untuk dr.Arend Mapanawang. Semoga tenang di sisiNya.(*)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top