HUKRIM

Kasus Jual Senpi, Saksi Akui Senjata Ditebus Rp 1 Juta

RAKYATMALUKU.COM – AMBON, – Enam terdakwa penjual senjata api (Senpi) dan amunisi ke Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua disidang di Pengadilan Negeri Ambon, Rabu, 14 April 2021.

Ada dua oknum Polisi yang bertugas di Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, Sam Herma Palijama (34) dan Muhammad Romi Arwanpitu (38) serta empat warga sipil, diantaranya, Sahrul Nurdin (39), Ridwan Mohsen Tahalua (44), Handri Morsalim (43) dan Andi Tanan (50).

Sidang yang dipimpin majelis hakim Pasti Tarigan didampingi dua hakim anggota Jenny Tulak dan Feliks Wiusam itu mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) Eko Nugroho. Turut hadir penasihat hukum para terdakwa Tomas Wattimury cs.

Saksi Salmia mengatakan, senjata tersebut milik bapaknya. Waktu bersih-bersih rumah dia menemukannya dan disimpan di samping kulkas. “La Ade datang ke rumah titip ayam di kulkas. Lalu lihat senjata dan peluru itu langsung diambil. Besoknya La ade balik kasih uang Rp. 1 juta. Waktu ambil itu seng bilang apa-apa,” ungkap saksi.

Jaksa juga menghadirkan saksi yang melakukan penangkapan. Semua keterangan saksi sama dengan BAP.

Usai mendengarkan keterangan saksi majelis hakim menunda sidang hingga Rabu depan dengan agenda pemeriksaan saksi.

JPU dalam surat dakwaanya membeberkan perbuatan para terdakwa terjadi sejak tahun 2020 dan 2021 di beberapa tempat. Yaitu Pangkalan Ojek Desa Batu Merah, Pasar Arombai Mardika, Pasar Mardika Ambon, bawah Jembatan Merah Putih, dan kawasan Kapaha, Kecamatan Sirimau Kota Ambon.

Terungkap, para terdakwa menjual senjata dengan tarif yang bervariasi, mulai dari Rp5 juta hingga Rp20 juta rupiah.
“Para terdakwa kala itu, bersama-sama dengan Welem Taruk (Terdakwa dalam berkas perkara tersendiri yang diajukan penuntutan secara terpisah/ Splitching) dan Atto Murib (DPO) melakukan atau turut serta sengaja menerima, menyerahkan, membawa, menguasai, menyimpan, menyembunyikan, mempergunakan senjata api dan amunisi tanpa hak,” beber JPU.

Berawal ketika Atto Murib yang merupakan pemilik tambang emas di Kilometer 54 Kabupaten Nabire, Provinsi Papua berkenalan dan meminta Welem Taruk yang berasal dari Ambon untuk mencari senjata api dan amunisi untuk dibeli.

Permintaan pencarian senjata api dan amunisi di Ambon diminta oleh Atto karena Ambon merupakan daerah bekas kerusuhan atau konflik. Atas permintaan itu, Welem kemudian berkenal dengan Sam, oknum anggota Polri. “Kalo (kalau) ada yang jual senjata rakitan tolong cari akang dolo (dulu) buat dibawa ke tambang mas di Papua Nabire,”ungkap JPU.

Mendengar permintaan Welem, Sam kemudian menyampaikan dirinya akan mencari senjata api rakitan. Ia kemudian menghubungi Iwan Touhuns, warga Rumahkay yang masih DPO untuk melakukan pencarian senjata rakitan.

Iwan Touhuns menyampaikan kepada Terdakwa 2 (Sam) bahwa ia akan mengecek ke iparnya terlebih dahulu dan apabila ada maka ia akan menghubungi Terdakwa 2.

Oktober 2020, Iwan menghubungi Sam karena ada senjata api rakitan jenis SS1 yang bisa dibeli dengan harga Rp.8 juta. Mengetahui hal tersebut Sam kemudian pergi ke Desa Rumah Kai untuk melihat senjata tersebut.

Setelah memastikan senjata tersebut ada dan berfungsi, Sam langsung menghubungi Welem untuk memberitahukan bahwa dirinya sudah mendapatkan senjata api rakitan seharga Rp.20 juta.

Esok harinya, Welem datang dengan mobil Avansa Veloz hitam. Ia menunggu Sam di ujung Desa Rumah Kai. Sam kemudian menyerahkan senjata api rakitan setelah Welem memberikan uang sebesar Rp.20 juta.

Usai menjual senjata api rakitan kepada Welem, Sam kembali ke Desa Rumah Kai untuk membayar harga senjata tersebut yang dibeli dari Iwan sebesar Rp.8 juta. (MON)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top