INTERNASIONAL

Keluarga Wandan Tolak Jan Pieterszoon Coen sebagai Pahlawan Nasional

RAKYATMALUKU.COM – MALUKU, — Keluarga Besar Keturunan Leluhur Wandan (Banda Asli) Banda Ely – Elat, seuruh Indonesia menolak secara tegas keinginan pemerintah Belanda, di Kota Hoorn untuk memberikan penghargaan kepada Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen sebagai Pahlawan Nasional.

Pasalnya, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen merupakan orang yang bertanggungjawab terhadap pembantaian secara sadis (genocide) leluhur Wandan di Pulau Banda pada tahun 1621 silam. Atas dasar itu, dan atas nama Hak Azasi Manusia (HAM), maka Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen tidak pantas dan berhak diberikan penghargaan tersebut, sebaliknya Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen harus diberikan hukuman atas perbuatannya.

Demikian pernyataan sikap Keluarga Besar Keturunan Leluhur Wandan (Banda Asli) Banda Ely – Elat, Seluruh Indonesia yang disampaikan lewat kegiatan Diskusi dan Pernyataan Sikap Peristiwa Genoside 8 Mei 1621 atau Mengenang 400 tahun Pembantaian Leluhur Wandan, yang digelar secara virtual Zoom, Sabtu, 8 Mei 2021.

Dalam pernyataan sikap tersebut diuraikan, bahwa kolonialisme Hindia Belanda-VOC sejak dibawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen di Wandan (Banda) sejak Tahun 1609 dan puncaknya pada tanggal 8 Mei 1621, telah melakukan serangkaian tindakan secara terstruktur, sistematis dan sporadis, sehingga menghilangkan puluhan ribu nyawa manusia karena dibunuh, dibantai, dibiarkan kelaparan, dianiaya dan diusir dari tanah tumpah darahnya, serta menghilangkan peradabannya dari aspek ekonomi, sosial budaya, bahasa dan agama.

Pernyataan Sikap Penolakan yang dibacakan tokoh Wandan asal Ambon, Abdul Azis Latar itu ditandatangani 21 tokoh Wandan tersebut juga menegaskan bahwa, tindakan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen yang puncaknya pada tanggal 8 Mei 1621, merupakan Peristiwa Kejahatan Kemanusiaan dan Kejahatan Monopoli Perdagangan yang sekarang disebut sebagai Peristiwa Genocide atau genosida.

Dijelaskan bahwa, dengan rangkaian singkat peristiwa tindakan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen tersebut, maka nyawa yang selamat menurut Leluhur Wandan, berkisar 400 orang, dan yang berhijrah untuk menyelamatkan martabat, mempertahankan aqidah dan hak hidupnya sebagai manusia yang terorganisir ke Tanah Kei . Warga Banda Ely-Elat, hingga kini hidup berdampingan secara harmonis, rukun dan damai dengan sesama masyarakat Kepulauan Kei Maluku Tenggara, sejak Tahun 1621 hingga sekarang.

Olehnya itu, sangat tidak relevan dengan kenyataan, kalau penghargaan Pahlawan Nasional ini diberikan kepada Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, yang sesungguhnya merupakan otak dan dalang di balik pembantaian sadis keluarga Wandan di Banda kalah itu. Sebagai keturunan asli Wandan dan atas nama hak azasi manusia selamanya tidak menerima kebijakan tersebut.

Kegiatan tersebut dimulai dengan mendengarkan pemaparan anak wandan DR Nur Ida Kubangun, yang juga sejarawan asal Universitas Pattimura terkait peristiwa Genoside 1621 dan kebengisan Jan Pieterzoon Coon.

Pegiat Hukum, Sam Borut, juga ikut memboboti secara hukum peristiwa genoside 1621 tersebut.

Selain dihadiri oleh keluarga besar Wandan, kegiatan yang dipandu Peneliti Wisnu Prayuda itu juga diikuti langsung sejarawan asal Belanda Ron Habiboe, dan perwakilan Museum Nederland, Cristian di Belanda.

Sejarawan Belanda berdarah Maluku, Ron Habiboe mengaku akan meneruskan aspiras masyarakat Wandan atau keturunan Banda Asli kepada pihak-pihak terkait di Belanda.

Penolakan Jan Pieterszoon Coon sebagai pahlawan nasional juga dilakukan sejumlah pegiat Hak Azasi Manusia di Belanda. (*)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top