OPINI

Kesaktian Pancasila yang Rasional dan Suprasional

  • Oleh: Arman Kalean, M.Pd
    | Dosen IAIN Ambon | Alumni GMNI | Kasat Korcab Banser Ambon

IBARAT udara, Pancasila bagi setiap masyarakat Indonesia adalah oksigen. Bernapas akan hidup, tidak bernapas pasti mati. Demikian Pancasila dalam sudut pandang bernegara. Diikuti sama dengan menjaga Indonesia, tidak diikuti seolah menghancurkan Indonesia.

Untuk itu, hasil TWK (Tes Wawasan Kebangsaan) kepada Pegawai KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sejak beberapa bulan lalu, dalam rangka pengalihan status menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara), penting ditelaah.

Apalagi pasca ketidaklulusan 56 Pegawai KPK, Kapolri (Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia) justeru menginginkan agar eks Pegawai KPK itu, dialihkan menjadi ASN Polri. Kalimat senada juga disampaikan Menkopolhukam (Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan), Mahfud MD. (Dikutip dari Tempo.co).

Gambaran eks Pegawai KPK ini, mestinya jangan hanya dilihat dari aspek instrumen evaluasi kinerja semata. Sebaiknya, kita keluar dari proporsional dan profesionalitas perancang instrumen itu. Baik dari sisi Afeksi, Konasi, ataupun Kognisi yang hendak dilihat dari Pegawai KPK.

Sebab, kita malah akan berputar-putar dalam definisi ASN itu sendiri. Boleh jadi, akan muncul pertanyaan. Apakah setelah mundur dari kepolisian seseorang dapat mengikuti Tes CPNS? Apakah ASN itu bukan termasuk Pegawai Non PNS? Atau pertanyaan lain seputar kedalaman dibalik pembuat instrumen, baik terbuka atau setengah terbuka. Apakah divalidasi oleh pakar dengan teliti? Apakah perancang instrument dan validator juga punya kemampuan Pancasila dan Psikologi yang saling komplementer? Mengapa perlu dimunculkan pertanyaan yang dianggap tidak sebanding meskipun ada di dalam ruang khusus yang namanya TWK untuk KPK? Lantas mengapa instrumen itu dapat bebas dibincangkan ke publik padahal Ujian Nasional seperti Tes Kelulusan Sekolah saja terkode sebagai Dokumen Negara Sangat Rahasia?

Dari kesemua kemungkinan pertanyaan yang dapat muncul seperti di atas, mari kita tinggalkan. Lepas dari dinamika TWK dan KPK, simpulannya adalah Pancasila memang sangat penting, sepenting ibarat pada pembuka tulisan ini. Saking pentingnya Pancasila, oleh mereka dengan akar pengetahuan yang berbeda hendak melakukan segala daya dan upaya guna melenyapkan Pancasila itu dari Jiwa masyarakat Indonesia. Puncaknya pada peristiwa sekitar 30 September 1965 dan 1 Oktober 1965 yang hari ini kita peringati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Semoga kita terhindarkan dari semangat “cocoklogi” 56 Pegawai KPK yang tidak dilantik saat Hari Lahir Pancasila, juga dengan tahun yang Ke-56 setelah peristiwa 1 Oktober 1965. Jangan abai terhadap keputusan Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto yang menerbitkan surat agar seluruh pasukan memperingati hari tersebut, dimulai sejak 17 September 1966, satu Tahun setelah peristiwa di Lubang Buaya itu.

Yang harus kita lakukan adalah terus memompa kesadaran kolektif Bangsa Indonesia bahwa Pancasila itu sakti, sakti secara rasional dan sakti secara suprarasional, sekaligus. Maka itu, kita perlu belajar seperti apa Kesaktian Pancasila itu? Dalam ulasan singkat ini, saya akan coba sebagai Pebelajar, untuk tidak merumitkan makna Kesaktian Pancasila di saat dunia semakin terintegrasi menjadi Figital (Akronim: Fisik dan Digital, dari James Emery White).

Memaknai ke-Sakti-an Pancasila

Secara Rasional. Penggali Pancasila, para Founding Fathers, adalah Manusia-manusia yang memiliki pemikiran dan pertimbangan logis, eklektik, dan futuristis. Kelogisan itu dapat dilihat dari berbagai tulisan mereka di situasi sekitar Tahun mendekati Kemerdekaan, bahkan setelahnya, hingga awal Tahun 1975 pun Bung Hatta, Subardjo, Maramis, Sunario, dan Pringgodigdo masih berupaya meluruskan kembali tafsir Pancasila yang diberi judul “Uraian Pancasila”.

Hal itu menegaskan bahwa mereka terus menunjukkan akuntabilitas terhadap Dasar Negara, hendaknya kita juga demikian. Terus merawat Pancasila itu dengan skeptis bukan pada epistemologinya terhadap Penggali Pancasila dan para Founding Fathers yang terus merawatnya selama mereka hidup, tetapi pada aksiologinya yang ada dalam diri kita sendiri. Mengapa penting? Coba lihat saja realitas dinamika intelektual hari ini, Demokrasi dan Pancasila, Ekonomi dan Pancasila, Hukum dan Pancasila, Pendidikan dan Pancasila, Filsafat dan Pancasila, Teologi dan Pancasila, juga Budaya dan Pancasila, masih terus kita dialektikan tanpa ada kepastian titik temu yang ideal dan konsisten. Sementara kalau kita renungkan lebih dalam, bukankah para Founding Fathers telah menyelesaikannya?

Secara Suprarasional. Kata “Suprarasional” ini pertama kali membuat saya serius untuk memikirkannya saat Prof. Quraish Shihab menggunakannya dalam menjabarkan karakter jenius Gus Dur pada peringatan Haul 1000 hari Almarhum. Belakangan, Ridwan Hasan Saputra, seorang Akademisi Matematika, meraih gelar Doktor dengan menggandeng kata itu ke dalam risetnya, menjadi Matematika Suprarasional. Bahkan Ridwan menulis dua buku tentang Suprarasional, pertama; Cara Berpikir Suprarasional. Kedua; Karakter Suprarasional.

Kaitannya dengan ke-Sakti-an Pancasila yaitu terletak pada kata “Sakti” itu sendiri, Sakti dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dapat berarti kuasa, berkaitan dengan hal yang melawan kodrat alam, kuasa gaib, tidak seperti biasa, keramat. Selebihnya, dalam Bidasan Bahasa Sakti, Riko Alfonso (Media Indonesia, 25/08/2019) menjelaskan makna Sakti yang harus terbukti. Alfonso mencontohkan Pancasila itu Sakti karena terbukti tidak bisa tergantikan dan terus bertahan. Mampu melewati uji ketahanan, termasuk saat terjadi pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang mampu digagalkan Rakyat dan TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Pengertian Alfonso memang diarahkan pada budaya saintifik, dengan kata lain Alfonso hendak memberikan reduksi makna terhadap kata Sakti itu sendiri saat ditautkan dengan Pancasila. Begitu juga dengan pemilihan kata “Bidas” pada catatannya, apakah sinonim saja dengan kata “Reaksi”? Ataukah memang ditujukkan untuk mendiskursuskan kata “Sakti” secara lebih serius kepada sejumlah fenomena sosial kemasyarakatan yang lebih kompleks? Hanya Alfonso yang tahu.

Demikian Kesaktian Pancasila, memang dipahami sebagai sebentuk pemertahanan Ideologi semata. Padahal, telah eksplisit, Sila Kesatu sebagai Dasar Moral. Melibatkan kerelaan Tuhan di sana, sebagai pengait bagi Keempat Sila itu menjadi satu rangkaian yang harus konsisten diejewantahkan secara bersamaan dalam setiap manusia Indonesia di setiap aspek kehidupannya.

Yang artinya, Pancasila itu memang Keramat, sulit dibayangkan Pancasila faktanya mampu menyatukan pelbagai perbedaan, banyak para Ulama yang dikenal Kharismatik bangga dengan bendera Merah Putih, termasuk ada yang memberi pujian kepada Bung Karno melalui syair berbahasa Arab (lihat Syair Kemerdekaan dari Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, dikenal dengan Guru Tua). Demikian berbagai pemandangan spiritualitas melihat Indonesia dengan Dasar Negara Pancasila dan dengan warna bendera Merah Putih. Hal ini sudah tentu melampaui rasionalitas, Pancasila bukan Irasional, tetapi “Supra-Rasional”, suatu Dasar Negara yang terberkati. Barangkali tak berlebihan bila kita hubungkan makna keresahan dari Iwan Fals dalam penggalan lirik lagu berjudul “Bangunlah Putera Puteri Pertiwi”; Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut.

Sehingga dalam perspektif suprarasional, Pancasila yang terberkati itu harus terus dijaga kesuciannya. Menjaga kesucian Pancasila itu bukan pada Teks semata, melainkan pada Konteks, pada Pelaku yang menjalankannya dalam konteks. Karena secara rasional, Pancasila sudah selesai di alam Teori, tinggal pengamalannya saja.

Kembali ke perumpamaan sebelumnya, sebagai Udara, Pancasila adalah Udara yang sudah disterilkan, Oksigen yang berkualitas itu sudah selesai oleh Founding Fathers. Saat ini adalah Alat Pernapasan yang memang perlu diperiksa, jangan sampai Aparatur Negara terkena simptom Asma, atau penyakit lain yang berkaitan dengan gangguan Alat Pernapasan.

Pada dunia Keramat, yang sakti itu dilihat Manusianya, bukan Ilmunya saja. Kadang, Ilmu yang dianggap mampu mendatangkan kesaktian, menjadi tidak berguna sama sekali oleh para Penuntut Ilmu. Misalnya, di dalam dunia Mistisisme Islam, meskipun Pesuluk sudah diajarkan wirid tertentu untuk melawan suatu hukum alam, katakanlah gravitasi (bisa melakukan levitasi di alam nyata), tapi tidak pernah bisa levitasi. Bukan Guru Spiritual yang salah, bukan wirid yang salah, tetapi Murid yang salah dalam mengelola hati (Ikhlas, Mujahaddah, Patuh, Yakin Kepada Guru seyakin-yakinnya).

Merawat Pancasila Ala Para Tetua di Kampung

Bukan berarti memistifikasi Pancasila pada aspek penerapan yang lebih teknis, Pancasila memang harus serasional mungkin. Senyata mungkin manfaatnya dalam lapangan Demokrasi dan lapangan Ekonomi. Tapi untuk menerapkan dengan sejati, dibutuhkan penjiwaan Pancasila sebagai suatu ikhtiar dalam menjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara hanya untuk mendapatkan ridha Tuhan Yang Maha Esa. Motif kita harus seperti begitu, kalau tidak, jangan harap Pancasila itu bisa sesakti yang kita peringati setiap Tahun bila kita terus abaikan Tuhan. Di sinilah letak Teologi dalam kamar Ontologi, memang bijak cara berpikir founding fathers melihat realitas masyarakat Indonesia.

Para tetua di Kampung yang terpencil, mereka lebih Pancasilais. Atas nama modernitas, kerap kita beranggapan bahwa mereka masih kental mitos. Bisa jadi, karena kita sering melihat foto Bung Karno yang digantung dan narasi Orang Tua-tua di Kampung tentang fenomena spiritualitas seorang Sukarno. Namun, kita luput dari makna kolektivisme ala Kampung-kampung itu, makna inilah yang justeru menjadi bahan Galian Golongan A yang setelah melalui smelter dalam pabrikasi pemikiran founding fathers, disebut Gotong Royong.

Orang-orang Tua atau para Tetua di Kampung yang mungkin masih dianggap bodoh, faktanya mereka memiliki hati yang bersih. Tidak jarang, orang datang meminta didoakan oleh mereka. Para politikus termasuk salah satunya. Meski setelah dilantik jadi pejabat, mereka (politikus) lupa dengan Pancasila dalam amalan. Orang-orang Tua ini cukup mengucapkan Basmalah alias “Bismillah Kosong-kosong” (Istilah ala Melayu Maluku) saja. Doa mereka malah lekas diijabah. Tuntas suatu urusan. Entah itu penyakit atau hanya remeh-temeh urusan politik.

Para pejabat itu tanpa malu. Masih bangga menyebut Peci Hitam sebagai “Songkok Pejabat”. Padahal, Peci itu simbol Pengayuh Becak yang banyak di Batavia (Jakarta). Asal Melayu saat itu. Lebih mendalam lagi, Peci itu simbol Batu Nisan ala Tarekat Mawlawiyah (Kelompok Sufi pengikut Jalaludin Rumi). Peci juga dimaknai sebagai simbol, “diri Kita yang Lain.” Sebagian pengamal Tarekat Lokal (pengamal Sufi lokal) menganggapnya sebagai “Kakak”.

Pancasila itu memang sakti karena mendasarkan pada Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Bagi mereka yang mengarah kepada Atheis. Atheis Malu-malu, atau Agnostik, tidak patut diberi label sebagai Pancasilais. Sebab, Manusia Indonesia adalah Sosio-Relijius. Selamat mengenang peristiwa 56 Tahun silam. Mari mendoakan para Pahlawan Revolusi dan keutuhan Bangsa Indonesia. semoga kita terus optimistis merawat Pancasila di dalam ruang fisik maupun ruang digital. (***)

--------------------

Berita Populer

To Top