HUKRIM

Korban Disekap Dan Diperkosa Sang Pacar Di Poka

RakyatMaluku.com – PENGADILAN Negeri (PN) Ambon menggelar sidang perdana perkara pemerkosaan yang dilakukan terdakwa TRTL alias Opik (26), warga Kompleks Pemda Tiga, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, kepada pacarnya sendiri, Senin, 30 Juli 2018.

Dalam sidang dengan pembacaan dakwaan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) J.W. Pattiasina, membeberkan kronologis pemerkosaan yang terjadi di kamar kost terdakwa Opik, di Kompleks Pemda Tiga, Desa Poka, Selasa, 27 Maret 2018, sekitar pukul 12.00 Wib.

Awalnya, terdakwa TRTL alias Opik menghubugi saksi korban, kemudian terdakwa menjemput saksi korban di depan Kampus Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, dan membawa saksi korban ke kamar kost terdakwa di Kompleks Pemda Tiga, Desa Poka.

Sesampainya di dalam kamar kost, terdakwa langsung mengunci pintu dan membuka baju. Merasa curiga dan takut, saksi korban berusaha membuka pintu kamar sambil mengatakan kepada terdakwa “kalo ose seng buka pintu, beta bataria”. Terdakwa yang sudah dipengaruhi hawa nafsu dengan santai menjawab “kalo ose bataria, ose yang malu sandiri”.

Saksi korban tetap berusaha membuka pintu kamar, namun terdakwa terus mencegah dan mendorong saksi korban hingga terjatuh di lantai, dan terdakwa langsung menindih tubuh saksi korban. Saat itu, saksi korban sempat melawan namun terdakwa memukul paha saksi korban menggunakan kepal tangan kananannya sambil berkata “ose jang malawang”.

Karena saksi korban masih terus berontak, terdakwa akhirnya mendorong saksi korban hingga kepala saksi korban terbentur di tembok kamar kost. Saat itu saksi korban merasa pusing dan lemas serta tidak bisa berbuat apa-apa.

Terdakwa kemudian melampiaskan nafsu bejatnya dengan memperkosa saksi korban yang adalah pacarnya sendiri.
Setalah itu, saksi korban menggunakan pakaiannya dan pergi meninggalkan terdakwa pulang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, saksi korban menceritakan perbuatan bejat terdakwa kepada orang tua saksi korban. Orang tua saksi korban langsung menuju kantor Polisi dan melaporkan perbuatan terdakwa untuk diproses hukum.

“Perbuatan terdakwa Opik, sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 285 KUHPidana, dengan hukuman pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun,” jelas JPU J.W. Pattiasina.

Usai mendengar pembacaan dakwaan JPU, Ketua Majelis Hakim Hamzah Khailul, didampingi dua hakim anggota, Christina Tetelepta dan R.A. Didi Ismiatun, kemudian menunda persidangan hingga Senin pekan depan, dengan agenda sidang mendengar keterangan saksi-saksi. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top