NEWS UPDATE

“Perang Bintang” Lestaluhu Klaim MI Ungguli Jeffry

RAKYATMALUKU.COM – AMBON, — Murad Ismail dinilai masih cukup tangguh dalam kontestasi politik Pemilihan Gubernur (Pilgub) yang akan dilangsungkan di tahun 2024 mendatang.

Akademisi Universitas Pattimura Ambon, Said Lestaluhu kepada Rakyat Maluku mengatakan, momentum Pilkada Gubernur Maluku tahun 2024 masih jauh. Namun hal itu telah menjadi perbincangan publik saat ini, baik di media sosial maupun di ruang-ruang publik lainnya.

Saat ini, tengah diwacanakan beberapa figur yang bakal muncul sebagai penantang Murad Ismail yang saat ini menjabat Gubernur Maluku. Salah satunya adalah mantan Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI Jeffry A. Rahawarin.

Menurutnya, bahwa dalam lingkup demokratisasi, setiap orang berhak mencalonkan diri. Munculnya Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Jeffry Apoly Rahawarin justru semakin menarik.

Bahkan, kata dia, ini merupakan kesempatan bagi calon pemimpin di Maluku yang memiliki jejak rekam yang teruji, baik dari kalangan sipil, militer maupun politisi untuk ikut serta dalam pesta demokrasi, sepanjang memenuhi persyaratan demokrasi prosedural, baik lewat parpol maupun jalur independen.

“Pilgub ini kan di tahun 2024, kalaupun sudah ada wacana seperti ini, maka akan menjadi referensi bagi masyarakat dalam menentukan pilihan,” ujar Lestaluhu, Selasa 23 Agustus 2021.

Dia menyebutkan, jika di Pilgub Maluku mendatang betul-betul menjadi perang bintang antara Murad Ismail dengan Jeffry Rahawarin, maka diatas kertas masih diungguli oleh Murad Ismail.

Dari sisi popularitas misalnya, Murad Ismail tentu jauh dikenal oleh masyarakat ketimbang Jeffry, meski keduanya sama-sama putra Maluku. Tapi setidaknya, Murad telah menjabat sebagai Gubernur Maluku saat ini.

Tingkat keterpilihan apalagi, kata dia, Murad telah teruji terpilih sebagai Gubernur pada Pilkada lalu, sehingga dia jauh lebih dikenal masyarakat dan memiliki basis ril. Sedangkan Jeffry, butuh kerja keras, apalagi saat ini tidak lagi berada di Maluku.

“Jeffry harus bekerja keras untuk menaikkan popularitas, lewat sosialisasi dan lainnya. Karena tingkat keterpilihan, popularitas maupun aksesibilitas akan dinilai oleh masyarakat luas,” terangnya.

Dia menilai, meski dalam perjalanan pemerintahan itu akan ada penjabat sementara, namun setidaknya Murad Ismail telah memiliki basis masa di masyarakat, sehingga itu menjadi modal bagi dia.

Sebagai incumbent, kinerja Murad Ismail selama menjabat Gubernur juga akan menjadi ukuran bagi masyarakat dalam menentukan pilihan. Masyarakat akan melihat seberapa jauh keberhasilan yang dilakukan Murad.

“Biasalah, kalau incumbent pasti isunya adalah sudah terbukti. Itu menjadi nilai plus bagi Murad. Entah positif atau negatif, itu berpulang kepada masyarakat luas,” ungkapnya.

Sementara Jeffry, lanjut dia, baru memulai. Jeffry belum punya pengalaman berpolitik. Untuk itu, berbagai upaya perlu dilakukan agar bisa mengimbangi kekuatan yang dimiliki Murad Ismail.

Kalau basis berdasarkan basis kultural sosiologis, Jeffry mewakili masyarakat dari Maluku Tenggara Raya, sementara Murad Ismail, ada pada segmentasi wilayah kota Ambon, Seram dan juga Buru.

Sementara pemilih terbesar ada di Maluku Tengah dan Kota Ambon, sehingga jika di petakan berdasarkan wilayah, tentu juga masih diungguli oleh Murad Ismail.

Untuk mengimbangi kekuatan tersebut, banyak variabel yang harus dilakukan Jeffry untuk meningkatkan elektabilitas. Karena kombinasi berdasarkan basis pemilih, ketokohan dan pertimbangan suku, agama selalu menjadi pertimbangan kandidat.

“Karena di Maluku ini sentimen suku kelompok itu agak kuat. Sehingga Jeffry harus memilih pasangannya dari Ambon, Maluku Tengah atau Seram untuk bisa mengimbangi kekuatan Murad di Pilgub 2024,” tandasnya. (*)

--------------------

Berita Populer

To Top