NEWS UPDATE

Perkuat Ketahanan Pangan, Amran Sulaiman Dinilai Layak Dampingi Jokowi

Amran Sulaiman

RakyatMaluku.com – PEMERINTAH Indonesia masih fokus mening­katkan program ketahanan pangan, di antaranya melalui pemberian berbagai insentif bagi petani. Tujuannya agar produksi pangan meningkat sehingga dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebab ketahanan pangan merupakan salah satu tujuan prioritas pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla makanya pemerintah terus memberikan subsidi pupuk, meningkatkan infrastruktur perta­nian, digitalisasi harga, serta meningkatkan anggaran untuk diversifikasi pangan.

“Mengingat selama ini Menteri Pertanian H. Andi Amran Sulaiman memiliki trade record yang cukup baik dan kinerja beliau yang saya amati justeru linier ke atas.sehingga dari perspektif Marhaenisme, PDI-P perlu mempertimbangkan figur seperti Amran Sulaiman untuk mendampingi Jokowi guna memperkuat ketahanan pangan di Indonesia Timur,” ujar aktivis Marhaenisme Maluku Arman Kalean kepada Koran Rakyat Maluku, kemarin.

                                                    Arman Kalean

Penilaian itu, kata dia, tentu karena berdasarkan pertimbangan keilmuan H. Andi Amran Sulaiman di bidang ketahanan pangan. “Selain itu, Amran Sulaiman juga merupakan putra daerah asal Indonesia Timur, yakni Sulawesi Selatan, sehingga layak menggantikan posisi Jusuf Kalla,” ujarnya.

Untuk diketahui, saat ini pemerintah berharap dengan jalan ini kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian juga membesar. Sebab, sekitar 91,8% penduduk Indonesia masih bekerja di sektor ini. Namun, kontribusinya ke Produk Domestik Bruto (PDB) terus turun hingga di bawah 13%.

Adapun untuk menjaga harga pangan terjangkau, yakni pemerintah fokus membangun infrastruktur di setiap daerah. Harapannya, distribusi pangan menjadi lebih lancar sehingga tidak ada komoditas yang mahal di wilayah tertentu namun murah di daerah lainnya. Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah sudah memberikan dampak positif pada ketahanan pangan nasional.

Hal tersebut tercermin dari pe­ringkat Global Food Sustainability Index Indonesia yang naik sangat signifikan dari peringkat 71 pada 2016 menjadi peringkat 21 di tahun 2017. Untuk melanjutkan program ketahanan pangan nasional yang menjadi salah satu tujuan Pemerintah Indonesia untuk lima tahun kedepan, Presiden Jokowi Widodo yang akrab disapa Jokowi telah menyatakan sikapnya maju bertarung dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Melihat kerja Jokowi melalui program nya­tanya selama ini, sejumlah lembaga survei telah menem­patkan posisi Jokowi sebagai calon presiden (capres) teratas. “Namun, kini sejumlah partai pendukung Jokowi maupun pengamat tata negara masih mencari siapa sosok publik figur calon wakil presiden (cawapres) yang layak mendampingi Jokowi untuk melanjutkan program nyatanya dalam membangun perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Adapun nama-nama yang masuk dalam radar cawapres 2019 diantaranya, Menteri Pertanian H. Andi Amran Sulaiman, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Ketua MPR H. Zulkifli Hasan, man­tan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin, mantan Ketua MK Mahfud MD, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Menurut Kalean, dengan keilmuan yang dimiliki, Amran Sulaiman diyakini mampu membangun kesadaran pangan lokal di Indonesia. “Contohnya di Provinsi Maluku. Selain beras, sejauh ini masyarakat Maluku terbukti mampu bertahan hidup dengan makanan lokalnya, yakni sagu dan berbagai jenis ubi-umbian lainnya,” ujarnya.

Selain diyakini mampu membangun kesadaran pangan lokal, Kalean juga percaya Pak Amran Sulaiman mampu memperhatikan hasil pasaran ceng­keh dan pala di Maluku. “Sehingga, petani-petani di Indonesia Timur mampu bangkit dengan tanaman endemik yang ada di daerahnya masing-masing,” katanya.

Dalam Trisila, kata Kelean, sosionasionalisme itu dibagi dua, yakni demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Sehingga, ruang kontestasi bagi figur Indonesia Timur adalah bentuk pengejewantahan demokrasi politik di ranah praksis.

“Sementara dari sisi demokrasi ekonomi, contoh yang saya paparkan di atas adalah upaya taktis yang sangat mungkin hanya dipahami oleh figur asal dari Indonesia Timur, yakni salah satunya Amran Sulaiman,” ucapnya.
Apalagi, tambah Kalean, praktik koperasi yang justeru lebih banyak terlihat sebagai lembaga kreditur skala kecil saja. “Andai koperasi dikerahkan khusus untuk menaikkan taraf petani Maluku maka saya optimis akan sangat mungkin terwujud oleh Amran Sulaiman ketika diberi amanah sebagai wapres nanti,” pungkasnya.

Dikatakan, selama ini kita hanya melihat de­mokrasi politik hanya sebatas kuantitatif, padahal ketersediaan SDA cukup banyak, harusnya dijadikan pertimbangan lain. “Jadi, supaya menekan lajunya isu politik anggaran selaras dengan jumlah penduduk, maka yang dapat dilakukan adalah memilih figur yang layak menaikkan kesejahteraan petani Indo­nesia Timur,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan salah satu maha­siswa se­mester sembilan Fakukatas Pertanian Unpatii Ambon, Usman Bugis. Menurutnya, sosok publik figur seperti Amran Sualaiman telah diakui kualitas dan kuantitasnya dalam membangun negeri, khusunya di bidang ketahanan pangan nasional.

Hal itu dapat dilihat dari berbagai kebijakan yang diambil untuk mensejahterakan kaum buruh di Indonesia. Salah satu contohnya, kesejahteraan kaum buruh di bidang swasembada jagung di Gorontalo.

“Sebagai mahasiswa pertanian tentu saya cinta akan pertumbuhan pertanian di Indonesia. Sehingga, untuk melanjutkan dan mensukseskan program Jokowi, yakni, ketahanan pangan nasional, maka Amran Sulaiman lebih layak dibanding publik figur lainnya,” terang Usman yang juga Ketua Lembaga Namaku Maluku. (RIO)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top