GERBANG PENDIDIKAN

Prodi HKI Peringati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

RAKYATMALUKU.COM – AMBON, — Program Studi (Prodi) Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon menggelar Seminar Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Gedung Pusat Kajian Musik Islam IAIN Ambon, Kamis, (25/11/2021).

Seminar dengan tema ‘Harkat dan Martabat Perempuan sebagai Pahlawan di Era Milinieal’, ini diikuti oleh peserta dari IAIN Ambon, Unpatti Ambon dan IAKN Ambon.

Wakil Dekan I FSEI IAIN Ambon, Dr. Nasaruddin Umar, SH., MH., dalam sambutannya menjelaskan, Prodi HKI membidangi ilmu-ilmu tentang kekeluarganya. Dalam konteks ini, lebih dekat dengan perempuan. Sebabnya, Seminar ini menjadi sangat tepat untuk diadakan sebagai bentuk respon Prodi, dalam melihat fenomena kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, dan khususnya di Kota Ambon, Provinsi Maluku.

Wadek yang juga Pakar Hukum Tata Negara (HTN) IAIN Ambon ini menjelaskan, perlindungan terhadap perempuan di Indonesia, telah diatur dalam undang-undang. Olehnya itu, setiap orang yang melakukan kekerasan terhadap perempuan, maka akan diberikan sanksi sebagaimana amanat undang-undang. Namun, aksi kekerasan terhadap perempuan masih tetap terjadi.

Hal ini, kata dia, disebabkan karena perempuan sering ditempatkan sebagai kelompok lemah dalam status gender. Padahal, dalam undang-undang memberikan hak perempuan cukup besar, termasuk dalam perlindungan.

Ia berharap, Seminar ini dapat memberikan pemahaman dan penjelasan kepada para peserta, untuk sama-sama melindungi perempuan dari aksi-aksi kekerasan. Terpenting, memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang pentingnya melindungi kaum perempuan.

Seminar dengan latar se-Kota Ambon ini menghadirkan narasumber di antaranya, Koordinator JAKFI Nusantara, Pengkaji Isu Perempuan, Nurlaila Ibrahim, M.Pd.

Nurlaila mengawali materinya dengan mengajar seluruh peserta untuk sama-sama melawan aksi kekerasan terhadap perempuan.

Ia menyayangkan isu perempuan masih jarang dibahas di dunia akademik. Padahal, kasus ini sangat fenomena di Indonesia, bahkan seperti gunung es. Harusnya, dunia pendidikan menjadikan isu perempuan sebagai topik-topik utama untuk dibahas lebih rinci. Masalah lainnya, perempuan merupakan masalah sosial yang sudah tidak dapat dihindarkan dari perkembangan zaman sejak dulu hingga kini.

Ia juga menyinggung persoalan kesetaraan perempuan dengan laki-laki, yang kerap perempuan dipandang pada bagian terlemah. Atau, perempuan yang lebih dihubung-hubungkan dengan urusan rumah tangga. Padahal, mestinya status kesetaraan perempuan dengan laki-laki sama dalam sejumlah aspek. Misalnya, soal politik, soal pekerjaan dan sebagainya. Kecuali, berkaitan dengan kodrat yang sudah ditakdirkan. (M19)

--------------------

Berita Populer

To Top