GERBANG PENDIDIKAN

Prof. Sulaeman Resmi Dikukuhkan jadi Guru Besar Ilmu Komunikasi IAIN Ambon

RAKYATMALUKU.COM – AMBON, – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon resmi memiliki guru besar di Bidang Ilmu Komunikasi. Hal ini ditandai dengan adanya pengukuhan terhadap Prof. Dr. H. Sulaeman, Drs., M.Si sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi, yang digelar dalam Sidang Senat Terbuka, di Aula Lt III Gedung Rektorat IAIN Ambon, Selasa, 27 April 2021.

Pengukuhan terhadap Prof. Dr. H. Sulaeman sebagai Guru Besar dilakukan oleh Ketua Senat IAIN Ambon, Dr. Abdullah Latuapo, M.Pd.I, yang digelar dalam Sidang Senat dengan dihadiri para pimpinan dan dosen di lingkup IAIN Ambon. Prof. Sulaeman merupakan dosen di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon.

Ia menamatkan SD Negeri 1 Watampone Tahun 1980, kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Watampone dan selesai tahun 1983. Setelah selesai SMP, Prof Sulaeman melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Watampone dan selesai 1986.

Setelah tamat dari MAN 1 Watampone, Prof Sulaeman melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dengan mengambil Jurusan Syariah di Institut Agama Islam Negeri Alauddin, Makassar dan berhasil meraih gelar S1 tahun 1991. Tak menunggu lama, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon ini terus memacu diri dalam dunia pendidikan formal dengan membawanya untuk meraih gelar magister Sains Ilmu Komunikasi di Univeritas Hasanuddin, Makassar, tepat pada tahun 2001.

Prof. Dr. H. Sulaeman, Drs., M.Si saat menyampaikan Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar dalam Sidang Senat Terbuka IAIN Ambon, yang berlangsung di Aula Lt III IAIN Ambon, Selasa, 27 April 2021.

Seiring perkembangan waktu dan tuntutan pendidikan di dunia perguruan tinggi, Prof Sulaeman, yang awalnya merupakan dosen di Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Ambon tersebut, berhasil mencapai puncak tertinggi jenjang pendidikan formal dengan meraih gelar doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran, Bandung.

Usai menamatkan pendidikan formal terakhir, Prof Sulaeman kembali ke kampus IAIN Ambon untuk mengabdi sebagaimana halnya dosen PNS lain. Setelah melalui banyak rintangan di dunia pendidikan, Prof Sulaeman dikenal di kalangan koleganya sangat aktif dalam penelitian. Keberhasilannya dalam penelitian itu, kerap membawa Prof Sulaeman yang akrab dengan mahasiswa ini, berkunjung ke beberapa negara untuk tujuan penelitian.

Prof Sulaeman resmi tercatat sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi Program Studi Jurnalistik Islam, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IAIN Ambon pada bulan November 2020.
Tercatat sejak tahun 2017 hingga 2020, ia berhasil menembus tugas sebagai editor dan reviewer berbagai jurnal nasional. Di antaranya “Editorial advisory board, JAHIDIK: Jurnal humaniora dan ilmu pendidikan, Cooperates with Goodwood publishing. (indexed by PKP index, Garuda, Crossref, DRJI, Nelti, and Google Scholar)”.

Sementara dalam rekam jejak penulisan ilmiah Internasional, ia tercatat sebagai salah satu Peer-Reviewers, Journal of international migration and integration, Springer Netherlands, sejak tahun 2020 hingga sekarang. Atas kepiawaian, kecerdasan dan kemampuannya itu, Prof Sulaeman berhasil menyandang gelar Profesor dengan cum tertinggi rata-rata nasional. Puluhan karya lainnya berhasil disumbangkan dalam dunia akademik mulai dari level lokal, nasional hingga internasional, hingga akhirnya membawa Profesor Kelahiran Bone, 16-03-1967 dikukuhkan secara resmi sebagai Guru Besar di lingkup IAIN Ambon.

Hadirnya Profesor Sulaeman sebagai Guru Besar di lingkup IAIN Ambon secara resmi menambah jumlah guru besar di kampus hijau tersebut menjadi lima orang. Empat guru besar lainnya itu; Prof. Dr. Abd. Khalik Latuconsina, Prof. Dr. H. M. Attamimy, Prof. Dr. La Jamaa, dan Prof. Dr. Idrus Sere.

Rektor IAIN Ambon, Dr. Zainal Abidin Rahawarin, M.Si dalam sambutannya menjelaskan, pengukuhan Profesor Sulaeman sebagai guru besar di lingkup IAIN Ambon menjadi penyemangat untuk meningkatkan SDM di lingkup IAIN Ambon dalam program guru besar. Di mana, saat ini tengah diprogramkan kepada beberapa dosen agar segera mendapatkan gelaran serupa. Beberapa di antaranya itu, Ketua Senat IAIN Ambon, Dr. Abdullah Latuapo, mantan Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta, mantan Wakil Rektor I, Dr. Mohdar Yanlua, dan termasuk dirinya.

Ia berharap, momentum pengukuhan guru besar yang digelar kemarin dapat dijadikan sebagai lompatan untuk membangun IAIN Ambon dari aspek mutu. Sebab, lembaga pendidikan tinggi apapun, terutama IAIN Ambon, sangat membutuhkan guru besar. Apalagi, IAIN Ambon kini tengah berbenah untuk menyambut transformasi menjadi Universitas Islam Negeri. Secara sistem, guru besar menjadi sangat dibutuhkan baik dari sekarang maupun setelah kampus tersebut menjadi Universitas.

Rektor juga menyinggung tentang kelengkapan administrasi untuk menjadi universitas sebagaimana disyaratkan oleh Pempus. Di mana, pada periode kepemimpinannya ini, IAIN Ambon semakin terbuka jalannya menuju universitas, setelah kampus hijau itu mengkantongi tiga program studi dengan status akreditasi A dari BAN-PT, sebagaimana disyaratkan dalam PMA untuk alih bentuk UIN.

Sebelumnya, Profesor Sulaeman dalam pidato pengukuhan mengangkat topik “Pemodelan Induktif Komunikasi Ritual Masyarakat Adat Maluku, Indonesia”. Di antara subjek yang dibahas dalam topik utama itu di antara; Signifikansi Akademik Komunikasi Ritual, Perspektif Komunikasi Ritual, Tipologi Pemodelan Induktif Komunikasi Ritual yang mencakup; Pemodelan Induktif, Paradigma Pemodelan Induktif, dan Tipologi Pendekatan Pemodelan Induktif. Pada Tipologi Pendekatan Pemodelan Induktif, Prof Sulaeman membaginya menjadi; Etnografi Komunikasi dan Fenomenologi Komunikasi.

Ia juga menjelaskan soal Review Pemodelan Induktif Penelitian Komunikasi Ritual. Di mana, dalam ruang objek ini, dijelaskan bahwa, komunikasi ritual memerlukan pengembangan pemodelan induktif dengan paradigma interpretatif, menggunakan pendekatan etnografi dan fenomenologi komunikasi. Dengan merujuk pada review induktif komunikasi ritual masyarakat Maluku akan tersajikan dalam empat review pemodelan. Pertama membahas komunikasi ritual Pela Gandong; Kedua memaparkan komunikasi ritual Ukuwala Mahiate; sajian ketiga dengan pemodelan komunikasi ritual Abda’u, dan terakhir pemaparan komunikasi ritual Ma’atenu.

Prof Sulaeman kemudian mengakhiri pidatonya dengan menggarisbawahi keyakinannya, bahwa review pemodelan induktif komunikasi ritual di Maluku telah mengalami “transformasi parsial”. Namun, tetap ada sepanjang zaman, karena kebutuhan masyarakat, meskipun bentuknya berubah-ubah demi pemenuhan diri masyarakat sebagai bentuk identitas individu, kolektif, dan sebagai bagian dari alam semesta. Tradisi lokal memungkinkan para pelaku berbagi komitmen emosional dan perekat bagi keterpaduan sesama dan lintas masyarakat. Esensinya bukan peristiwa komunikasi ritual, namun adanya perasaan senasib sepenanggungan menyertainya, dimaknai adanya perasaan bahwa masyarakat terlibat dalam ritual. (*)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top