---------
NEWS UPDATE

Rame Rame Kecam Aksi Teroris Di Surabaya

Penjabat Gubernur Maluku Zeth Sahuburua, ber­sama Walikota Ambon Richard Louhenapessy, Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI ­Suko Pranoto, Waka­polda Maluku Brigjen Pol Hasanuddin, Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku Triyono Haryanto dan sejumlah Forkopimda Maluku berkumpul untuk melakukan deklarasi damai dalam rangka menyikapi situasi nasional di Kantor Gubernur Maluku, Senin 14 Mei 2018.

– Dari Pemprov Maluku, Tokoh Agama, Hingga OKP

RakyatMaluku.com – MENGANTISIPASI terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan pasca aksi kelom­pok teroris yang melakukan serangkaian teror bom bunuh diri di Kota Surabaya, Jawa Timur, yang menewaskan sejumlah warga di kota pahlawan tersebut, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPINDA) Provinsi Maluku bersama para tokoh agama melakukan pertemuan yang dipimpin Plt Gubernur Maluku Zeth Sahuburua dan juga dihadiri perwakilan Polda Maluku, Kodam XVI/Pattimura, Kejak­­saan Tinggi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, para tokoh agama dan sejumlah tokoh masyarakat yang ber­langsung di kantor gubernur Maluku, Senin 14 Mei 2018.

“Menyikapi serangan akai terorisme di Kota Surabaya, selaku pimpinan daerah kami telah me­ngambil inisiatif, melakukan pertemuan dengan pim­pinan daerah, tokoh agama dan tokoh masyarakat,” ujar Plt Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua, kepada pers, usai pertemuan. Sahuburua mengatakan mewakili seluruh masya­rakat Maluku mengutuk keras aksi terorisme tersebut. “Kami mengutuk dengan tegas tindakan terorisme atas nama apapun terutama atas nama agama,” tandas Sahuburua.

Dalam kesepakatan bersama tersebut, kata Sahuburua, Pemprov Maluku juga meminta kepada aparat keamanan untuk mengusut dan menindak tegas pelaku terorisme serta jaringannya sesuai dengan hu­kum dan perundang-undangan yang berlaku. Me­minta aparat keamanan untuk meningkatkan penga­wasannya terhadap pergerakan pelaku dan jaringan teroris. Selain itu juga mengajak seluruh komponen mas­yarakat untuk bersama-sama bersatu dengan TNI/POLRI melawan terorisme dan berbagai bentuk keke­rasan di negeri ini.

“Kami seluruh komponen umat beragama di Maluku dalam spirit orang basudara tidak akan terprovokansi dengan tindakan terorisme ini, kami semua tetap bersatu tidak takut dan siap melawan terorisme,” tegas Sahuburua.
Sikap yang sama juga diutarakan para tokoh agama di Maluku. Dalam pernyataan sikapnya, lima perwakilan umat beragama di Maluku, mengutuk keras peristiwa aksi terorisme yang terjadi di Surabaya.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Maluku I Nyoman Sukadana, katakan bahwa insiden di Surabaya merupakan kejadian yang sa­ngat buruk. Dan sebagai umat beragama, pihaknya me­ngutuk tindakan tersebut dengan alasan apapun. “Semua agama anjarkan cinta kasih,“ ujarnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku Abdullah Latuapo, mengung­kapkan bahwa kejadian bom Surabaya merupakan hal yang sangat keji. Untuk itu, MUI Maluku juga me­ngutuk keras perbuatan yang sudah diluar batas peri kemanusiaan itu.

“Mari menjaga keamanan dan kedaiaman. Jangan terpengaruh, terprovokasi dengan oknum yang tidak bertangungjawab,” imbaunya.

Seruan damai diutarakan Keuskupan Amboina. Melalui juru bicara keuskupan, Fr. Robertus Masliat, mengatakan sikap gereja Katolik, meski kehilangan umat dan merasa dirugikan dalam insiden di Surabaya, namun pihak gereja tetap memaafkan dan mendoakan yang terbaik bagi para korban maupun yang merancang aksi tersebut.

Menurutnya dengan memaafkan dan mendoakan, pihaknya berharap tidak ada lagi kekerasan, balas dendam yang bisa memicu pertikaian.

“Prinsipnya kita kita dukung apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah dan aparat keamanan. Kekerasan itu bukan jalan untuk mencapai kedamaian,” tandasnya.

Ketua Walubi Maluku Wilhemus Jauwerissa, apa kesempatan yang sama mengatakan bahwa apa yang terjadi belakangan ini, sesungguhnya merupakan perbuatan yang tidak bertangungjawab.

“Kami himbau mari bersatu, terutama memerangi terorisme di NKRI. Oleh karena itu, cinta kasih harus kita kembangkan. Saling percaya adalah motto utama bangun NKRI, “ ujarnya.

Sementara itu Ketua Sinode GPM, Ates Werinussa, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas insiden itu. Iapun tekankan kepada warga GPM untuk tetap pelihara kondisi yang aman dan damai. Jaga dan pelihara kehidupan orang basudara di bumi raja-raja ini.

“Tidak boleh ambil langkah sendiri. Ini bukan persoalan agama. Orang-orang yang ledakan Gereja, juga disesali basudara kita dari agama lain. Kita percayakan penanganan ini kepada pemerintah dan aparat keamanan, “ tandasnya.

TIDAK BERAGAMA
Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Maluku Fesal Musaad menegaskan, pelaku bom bunuh diri di Surabaya bukanlah orang beragama. Sebab, agama manapun sangat melarang aksi keji tersebut yang menimbulkan belasan nyawa melayang serta puluhan lainnya terluka. “Pelaku aksi bom bukanlah orang ber­agama. Seluruh umat beragama menyesalkan terjadinya aksi bom di tempat ibadah,” kata Musaad kepada sejumlah media di Kota Ambon, Senin 14 Mei.

Sebagai Kakanwil Kemenag, Musaad menyesalkan aksi bom bunuh diri yang terjadi di tiga lokasi di Surabaya. Apalagi, aksi itu terjadi berdekatan dengan hari besar umat Kristen dan jelang bulan suci Ramadhan bagi umat Islam. “Tindakan teror tersebut sangat bertentangan dengan nilai nilai agama. Pelaku aksi bom itu adalah orang-orang yang tidak memegangi nilai-nilai agama karena tidak ada agama manapun yang ajarkan aksi terorisme, radikalisme dan intoleran,” tegasnya.

Ia menghimbau kepada masyarakat, khususnya di Provinsi Maluku agar dapat menyerahkan sepenuhnya penanganan masalah ini kepada aparat keamanan. Masyarakat harus tetap tenang dalam bersikap serta berpikir positif. “Tetap tenang dan tidak panik karena kepanikan itulah yang diharapkan pelaku terorisme. Mari bersama-sama meningkatkan kewaspadaan lingkungan agar tidak ada ruang bagi teroris untuk melakukan aksinya,” pintanya.

Selain itu, Musaad juga mengajak masyarakat agar bijak menggunakan media sosial. Etis dalam berkomunikasi dan diharapkan tidak memposting gambar para korban ledakan bom. “Saya juga mengajak masyarakat untuk berkomunikasi secara etis di media sosial. Caranya, tidak menyebarkan foto-foto memilukan yang bisa menjadi teror tersendiri. Jangan mengomentari aksi ini dengan perdebatan yang dapat memicu konflik. Sebaliknya, mari saling menguatkan sesama anak bangsa yang ingin Indonesia aman dan damai,” harapnya.

Musaad juga mengajak masyarakat untuk dapat mendoakan korban dan keluarga yang ditinggalkan agar diberi ketabahan dan kesabaran menghadapi semua ujian tersebut. “Untuk pelaku atau dalang aksi bom itu kembali ke jalan yang benar dan lurus sesuai ajaran agama yang memanusiakan manusia. Mari kita doakan pelaku dan dalang aksi ini agar bertobat dan kembali ke jalan yang benar dan jalan yang lurus,” pintanya.

GAMKI AJAK PERANGI TERORISME
Menyikapi kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara beberapa waktu belakangan ini, khususnya terkait kehidupan gereja dan jemaat serta persatuan dan kesatuan bangsa, terkait rentetan aksi-aksi teror yang mengarah kepada tindakan barbarian di Rutan Cabang Salemba, Mako Brimob, penikaman anggota kepolisian oleh simpatisan ISIS, penyerangan bom bunuh diri pada beberapa gereja dan Polrestabes di Surabaya serta terakhir di Duren Sawit, Jakarta.

“Sungguh merupakan peristiwa yang mengoyak rasa kemanusiaan dan kebangsaan kita,” tegas Ketua DPD GAMKI Maluku, Johan Rahantoknam kepada awak media, Senin 14 Mei 2018. GAMKI, kata Rahantoknam, mengutuk dan menge­cam keras tindakan kebiadaban yang tidak berperikamnusiaan ini.

Untuk itu GAMKI Maluku menyerukan bahwa terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apapun, karena semua agama mengajarkan cinta kasih dan kedamaian.

“GAMKI turut berbela rasa bersama keluarga para korban yang meninggal karena aksi bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya. Semoga Roh Kudus memberikan kekuatan dan penghiburan melewati masa-masa kedukaan ini,” katanya.

GAMKI, lanjut Rahantoknam, mengecam tindakan terorisme dan kekerasan atas nama apapun yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa serta menggiring negara ini menjadi sebuah negara yang tidak lagi berdasarkan pancasila serta mengingatkan semua tokoh masyarakat, tokoh publik, tokoh agama, tokoh adat, pejabat, politisi, serta para tenaga pengajar, untuk tidak lagi mengeluarkan ujaran dan doktirn kebencian terhadap suku, agama, ras dan golongan tertentu. Hal ini merupakan benih lahirnya paham-paham radikal yang juga menyebabkan terjadinya tindakan terorisme dan kekerasan.

GAMKI percaya bahwa dengan pertolongan Tuhan, pemerintah dan aparat keamanan mampu bertindak secara cepat dan tepat, mengusut secara tuntas tindakan terorisme dan kekerasan belakangan ini, terkhusus penyerangan bom bunuh diri di beberapa gereja dan Polrestabes Surabaya hingga ke akar-akarnya serta melakukan proses penegakan hukum yang tegas kepada pelaku dan semua kelompok yang terlibat. Olehnya, kami memberikan dukungan moral bagi kepolisian Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas secara profesional berdasarkan peraturan perundang-undangan.

GAMKI juga mendesak pemerintah dan DPR RI agar segera merampungkan pembahasan serta mengesahkan RUU Anti Terorisme dengan pengutamaan pada sistem deteksi dini atau pencegahan yang lebih efektif serta sanksi pidana yang berat bagi para pelaku teror. payung hukum ini sangat penting dan mendesak agar menjadi pegangan bagi aparat keamanan dalam melaksanakan tugasnya dengan baik.

“Kami juga mengajak masyakarat terkhusus basu­dara di Maluku untuk bersama-sama memerangi tero­risme, memerangi radikalisme dan ujaran kebencian serta provokasi SARA sebagai musuh bersama. Bijak da­lam menggunakan media sosial, agar tidak semakin mem­perkeruh suasana,” ajaknya.

Selain itu GAMKI menghimbau seluruh basudara di Maluku agar tetap tenang, menjaga tali persaudaraan dan waspada terhadap upaya-upaya memecah belah kehidupan sebagai sesama anak bangsa. Hal ini menjadi sangat penting karena sebentar lagi basudara yang beragama Islam akan memasuki bulan ramadhan, menjalankan ibadah puasa, sehingga kita semua sebagai orang basudara wajib untuk mendukung terciptanya suasana yang nyaman, tenang dan penuh kedamaian.

“Kita (masyarakat_red) harus tunjukan dan nya­takan bahwa kita berani, kita bersatu dan kuat sehingga kita akan melawan terorisme, kekerasan, ujaran kebencian dan provokasi SARA hingga lenyap dari persada nusantara. Dan bagi kader dan seluruh Pemuda Kristen Indonesia dan Maluku khususnya tetap waspada dan berjaga-jaga di lingkungan masing-masing demi mendukung keamanan dan kenyamanan jemaat dalam beribadah,” tandasnya.
Sementara Pendeta Steven Atihuta menyatakan, terorisme merupakan musuh bersama, sebab tindakan ini telah menodai rasa kemanusiaan.

“Ini tindakan yang melukai rasa kemanusiaan. Kita lawan terorisme dengan menjaga situasi keamanan di Maluku, apalagi saudara-saudara kita sementara mempersiapkan diri menjelang bulan suci Ramadhan,” ajaknya. (YAS/CIK/RM)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top