POLITIK

SA Harus Tepat Pilih Wakil

RAKYATMALUKU.COM – AMBON, – Keinginan Partai Golkar untuk kembali mengusung Gubernur Maluku, periode 2014-2019, Said Assagaff (SA) melawan Petahana Murad Ismail (MI), harus dihitung secara matang. Sebab Mi dinilai masih tangguh saat Pilgub 2024 mendatang.

Setidaknya penilaian itu disampaikan akademisi Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Said Lestaluhu kepada Rakyat Maluku, Senin 12 September 2021.

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik ini, semua orang memiliki hak untuk mencalonkan dan dicalonkan sebagai kepala daerah, sepanjang memenuhi syarat demokrasi.
“Head to head antara MI versus SA, kata dia, bisa saja terulang, asalkan Partai Golkar benar-benar mengusung SA,” harapnya.

Hanya saja, Lestaluhu menyarankan, Partai Golkar mengitung secara matang, jika berkeinginan mengusung SA sebagai penantang MI yang saat ini menjabat Gubernur Maluku.

“Politik itu sangat dinamis, sehingga keduanya punya peluang. Tapi Golkar harus dudukkan itu secara matang, karena pengalaman membuktikan bahwa SA ketika maju sebagai incumbent, kalah dari MI,” kata Lestaluhu.

Pilkada 2018 silam menjadi fakta empirik yang harus dipertimbangkan oleh Golkar Maluku. Dimana saat itu MI tidak punya modal politik dan basis riil di lapangan, namun bisa mengalahkan SA sebagai calon incumbent.

Apalagi saat ini SA tidak memiliki jabatan di Maluku. Memang, penentuannya ada pada pilihan masyarakat, namun dari fakta empirik itu bisa menjadi variabel bagi partai Golkar Maluku.

“Kalau dilihat dari ekspektasi pun, MI masih diunggulkan ketimbang SA,” terangnya.

Menurutnya, kejenuhan masyarakat dengan cara kepemimpinan MI saat ini memang ada, karena memang penilaian politis itu pasti saja ada yang pro dan juga kontra.

Sehingga, bagi pihak yang melihat ekspektasi MI bagus, tentu akan memberikan penilaian buruk kepada SA. begitu juga sebaliknya terhadap MI.

“Tapi itu tidak bisa dijadikan sebagai variabel, karena tidak semua kepemimpinan seseorang dinilai sempurna, pasti ada kekurangannya,” tutur dia.

Dikatakan, MI diunggulkan karena agenda strategis nasional yang mampu diwujudkan, baik terkait Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN) maupun Ambon New Port. Itu menjadi satu pemicu perkembangan ekonomi di Maluku.

“SA juga punya keberhasilan lain. Tapi MI punya kekuatan jaringan di pusat sehingga prosesnya lebih cepat,” tuturnya.

Dosen FISIP Unpatti itu menjelaskan, dinamika politik sangat dinamis. Sehingga jika SA kembali diperhadapkan dengan MI, maka pilihan pasangan wakil harus tepat dan ideal.

Artinya, bakal calon wakil yang disandingkan dengan SA harus betul-betul punya nilai jual, baik dari kapasitasnya, elektabilitasnya maupun tingkat popularitasnya di masyarakat, agar bisa mengimbangi MI.

“Kalau itu benar terjadi, maka akan sangat memberikan ruang penilaian yang luas bagi masyarakat, sehingga rekam jejak bisa menjadi indikator penilaian,” tandas Lestaluhu.

Figur Perempuan

Selain bakal calon Gubernur, belakangan ini ada beberapa Srikandi asal Maluku yang disebut mulai menatap posisi calon Wakil Gubernur Maluku.

Sebut misalnya nama Anggota DPD RI asal Maluku, Ana Latuconsina dan anggota DPR RI, Mercy Barends.
Ana Latuconsina disebut sudah melakukan sosialisasi “terselebung” melalui timnya.

“Dan kami juga mendorong ibu Ana maju sebagai calon wakil gubernur mendampingi Pak Jeffry Rahawarin,” ungkap Isra, seorang pemuda yang mengaku sebagai tim Ana Latuconsina.

Lalu bagaimana dengan Mercy Barends? Politisi PDIP ini disebutkan sedang disiapkan partainya untuk mendampingi Gubernur Maluku, Murad Ismail sebagai calon wakil gubernur pada Pilgub 2024 mendatang.
(*)

--------------------

Berita Populer

To Top