---------
NEWS UPDATE

Saling ‘Jegal’ Di Internal PPP Kota Ambon

RakyatMaluku.com – RIUH Pemilihan Legislatif (Pileg) mulai terasa. Agenda lima tahunan ini benar-benar menjadi ajang ‘ambisi’ bagi banyak kalangan baik yang aktif sebagai politisi maupun masyarakat yang tidak memiliki latar belakang dan pengalaman di dunia politik.

Nama Thaha Abubakar, Anggota DPRD Kota Ambon, Dapil Bagula, misalnya, kini ramai menjadi bahan perbincangan di media sosial usai pendaftaran bakal calon legislatif (Bacaleg) di KPU Kota Ambon pada 17 Juli 2018 lalu, menyusul adanya dugaan konflik kepentingan. Sejumlah pihak menilai ada upaya mengganjal Thaha karena adanya dendam politik di internal partai berlambang Kabah itu.

“Bisa jadi, insiden saling sikut di internal DPC PPP Kota Ambon ini adalah merupakan bagian dari dendam politik lama yang kembali dipertajam. Hal itu tampak dari konfirgurasi bakal caleg yang disusun dan dimasukkan ke KPU Kota Ambon,” kata Direktur Indonesia Research and Strategy (ARS), Djali Gafur saat dikonfirmsi, kemarin.
Menurut Gafur, Pileg kini menjadi ajang adu ‘nasib’ dan perun­tungan bagi bakal calon anggota legislatif yang telah direkrut Parpol peserta pemilu. Bagi Parpol yang tidak memiliki kursi baik pada level kabupaten/kota, provinsi dan DPR-RI, harus memiliki strategi jitu merebut simpati rakyat.

‘‘Mendongrak elektoral dan mempertebal Parti ID. Sementara yang sudah memiliki kursi sebagai buah dari pileg 2014 lalu konsekuensinya harus memperkuat konsolidasi jika mereka tidak ingin tempat ‘empuk’ tersebut direbut,’’ ujarnya.

Lantas apa alasan PPP Kota Ambon harus mem­pertajam polemik di internal di tengah upaya mempertahankan kursi di DPRD Kota Ambon?

Djai menilai, faktor internal partai saja mungkin belum bisa dijadikan sebagai asumsi dalam menjadge keputusan internal PPP Kota Ambon yang enggan mengakomodir caleg aktif tersebut untuk kembali bertarung di Pileg 2019.

“Saya kira itu bisa menjadi salah satu point di antara sejumlah faktor interest lainnya yang mendorong adanya keputusan politik yang cukup mencengangkan itu. Bisanya kader incumbent menjadi prioritas untuk mempertahankan kursi dari dapil yang diperoleh justeru diabaikan,” sebutnya.

Dia menuturkan, konflik ini akan berpeluang panjang bahkan berdampak terhadap stabilitas politik internal PPP Kota Ambon. Upaya mediasi sangat penting pada level atas baik itu DPW atau DPP. Tapi parahnya jika ada keterlibatan atau intervensi dari elit partai di Maluku.

“Jurang konflik semakin melebar dengan kasus ini. Publik punya rekam jejak PPP mulai dari Pilwalkot sampai dengan Pilgub Maluku. Dimana ada dua kutub politik yang saling tolak menolak. Dan, itu berdampak terhadap stabilitas internal PPP di Maluku dan Kota Ambon,” nilainya.

Untuk diketahui, beredar kabar jika Thaha tidak mendapatkan berkas pencalonan dari DPC PPP Kota Ambon. Atas dasar itu, upaya yang ditempuh Thaha dan gerbong politiknya adalah mengajukan keberatan ke DPP PPP dan diterbitkan surat perintah kepada DPC PPP untuk mengakomodir Thaha dalam konfigurasi pencalonan Anggota DPRD Kota Ambon 2019 namun sayang diabaikan. (ASI)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top