BERITA COVID-19

Satgas: Danki Brimob Wafat Bukan karena Vaksin

RAKYATMALUKU.COM – AMBON, – Juru Bicara (Jubir) Satgas Penanganan Covid-19 Bidang Vaksinasi Provinsi Maluku, dr. Adonia Rerung, menegaskan, wafatnya Komandan Kompi (Danki) 4 Batalion A Brimob Polda Maluku Iptu LT, Minggu 4 April 2021, tidak ada kaitannya dengan penerimaan vaksin produksi AstraZeneca.

Sebab, selama ini belum pernah ditemukan di negara-negara lain maupun di Indonesia sendiri, bahwa ada kasus kematian yang diakibatkan oleh vaksin Covid-19 produksi Sinovac maupun produksi AstraZeneca, atau diakibatkan oleh gejala-gejala yang dialami seseorang pasca disuntik vaksin.

“Gejala vaksin itu hanya gejala ringan sampai sedang saja. Seperti badan-badan sakit atau nyilu. Ini yang disebut Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), yang dicatat dan dilaporkan ke Jakarta. Jadi, belum pernah ada kasus kematian akibat vaksin atau gejala vaksin,” tegas dr. Rerung, saat dikonfirmasi koran ini, via selulernya, Senin, 5 April 2021.

Dikatakannya, dari analisa Tim Satgas Penanganan Covid-19 Bidang Vaksinasi Provinsi Maluku, diduga kuat sebelum divaksin almarhum Iptu LT ini sudah terinfeksi Covid-19 yang disertai dengan komorbit hipertensi (tekanan darah tinggi), namun tidak bergejala atau disebut dengan orang tanpa gejala (OTG).

“Kita menyatakan bahwa kematian almarhum diduga besar karena Covid-19 berdasarkan hasil swab test cepat di laboratorium yang membuktikan hasil swabnya positif Covid-19. Dan menurut informasi dari Karumkit bahwa almarhum juga memiliki riwayat penyakit hipertensi,” ungkap dr. Rerung.

Ia menjelaskan, almarhum Iptu LT menerima vaksinasi bersamaan ratusan anggota Brimob Polda Maluku lainnya di Lapangan Letkol. Pol. CHR Tahapary, Kota Ambon pada Minggu, 28 Maret 2021, lalu.

Ketika akan divaksin, lanjut dr. Rerung, Iptu LT menjalani proses penyaringan melalui pertanyaan-pertanyaan kondisi kesehatan oleh petugas medis di meja dua. Diantaranya, pemeriksaan hipertensi yang lebih dari 180 tidak boleh menerima vaksin.

“Karena almarhum sudah disuntik vaksin, menunjukan tekanan darahnya kurang dari 180. Setelah itu, almarhum merasakan gejala vaksin dan masuk rumah sakit. Lalu diberi obat dan almarhum langsung pulang. Beberapa hari kemudian, almarhum masuk rumah sakit lagi dan meninggal dunia,” jelasnya.

“Mungkin karena dasarnya sudah ada corona didalamnya, maka menimbulkan gejala lebih lanjut lagi, sampai menyebabkan kematian itu. Atau bisa saja karena hipertensinya, atau mungkin ada penyakit jantungnya, semua masih dikaji. Untuk mendiagnosa pasti, belum, karena tidak dilakukan otopsi,” tambahnya.

Sebagai bahan evaluasi, kata dr. Rerung, saat ini Tim Satgas Penanganan Covid-19 Bidang Vaksinasi Provinsi Maluku sementara membahas terkait kebijakan pemerintah, apakah orang yang akan divaksin harus diswab terlebih dahulu atau tidak.

“Sebentar ini kita akan melakukan rapat virtual bersama komisi kesehatan pusat untuk membahas keluhan-keluhan masyarakat pasca divaksin. Nanti akan kita laporkan semuanya. Dan nantinya setelah rapat itu baru kita tahu kesimpulannya seperti apa, apakah ada petunjuk dari pusat lagi atau tidak,” terangnya.

Ia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat yang sudah divaksin untuk tetap menerapkan protokol kesehatan (Prokes). Yakni, menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan. Sebab, ketika menerima vaksin pertama, antibody belum terbentuk dengan baik.

“Makanya ada pengulangan vaksin yang berjarak hampir satu bulan. Maka itu setelah divaksin pertama selalu diingatkan pakai masker dan jaga jarak untuk menjaga diri kita sendiri dan menjaga orang disekitar kita,” imbau dr. Rerung. (RIO)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top