OPINI

Selamat Jalan Ramadhan

Oleh : THALHAH, S.Ag., M.A | Dosen IAIN Ambon

Ramadhan tersisa beberapa hari, beberapa waktu. Rasa sedih dan haru mulai terasa dengan munculnya pertanyaan diri akankah bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan? Allahu “alam.

Setiap orang sudah mengisi Ramadhan ini dengan caranya masing masing. Setiap orang sudah melakukan apa yang direncanakannya dalam ramadhan ini. Setiap orang sudah mulai merasakan hasil atau capaian yang dilakukannya. Apakah dia dapat berpuasa secara utuh?. Apakah hari hari dalam puasanya terlewati dengan sarat perbuatan baik?. Apakah sholat tarawih tak terlewati.? Apakah target bacaan al quran tercapai?. Apakah dia mampu memberi dalam kekurangannya?. Apakah dia telah membersihkan kotoran kesombongan dirinya?. Apakah dia telah memperbaiki hubungan terputusnya dengan sesamanya?.

Segenap pertanyaan ini akan bermuara pada satu inti pertanyaan: Apakah Allah swt menerima dirinya dalam semua perbuatan baiknya yang sangat mungkin miskin keikhlasan atau malah tertolak?

Ramadhan masih tersisa beberapa waktu, masih ada kesempatan untuk menjawab pertanyaan diri tersebut bagi orang yang mau bertanya. Bagi orang yang mencari jawaban atas keberadaan dirinya.

Allah SWT memberikan kesempatan kepada setiap orang tanpa batas waktu kehidupannya. Hanya kematian yang menjadi akhir dari kesempatan tersebut.

Tiga hari ke depan masih sangat cukup untuk melakukan ragam kebaikan baik yang tertuju pada pengembangan diri pribadi maupun dalam hubungan dengan sesama.

Hal ini menjadi semakin pasti saat malam Lailatul Qadar terjadi pada deretan tiga malam tersebut. Satu “moment revolusi diri” menjadi lebih baik. Kebaikan yang dilakukan berbanding dengan puluhan tahun kehidupan dapat dipastikan akan berdampak pada sikap dan perilaku yang dirasakan oleh lingkungan sekitar. Orang yang baik memiliki makna adalah orang yang dirasakan kebaikannnya oleh lingkungan sekitarnya. Orang yang telah dapat memberikan kebergunaan dirinya berdasarkan kapasitas yang dimilikinya kepada orang-orang sekitarnya.

Bila dicermati dan diteliti, semua orang menyimpan potensi kebaikan diri. Potensi itu telah diwujudkannya dalam mempertahankan kehidupan yang dijalaninya. Hanya saja, mungkin usaha mewujudkan kebaikan itu yang masih kurang. Mungkin saja tantangan dan hambatan yang dihadapinya membuat potensi itu terbenam. Kala lebih cermat, dan mau jujur dengan diri sendiri, tantangan dan hambatan merupakan kesempatan mengembangkan potensi kebaikan tersebut asalkan tidak mengikuti perasaan panik atau gundah. Perasaan risau, sedih dan gundah gulana dapat menutupi kecerdasan atau kemampuan pikiran untuk memikirkan berbagai kemungkinan solusi dari tantangan yang ada.

Kembali ke suasana Ramadhan saat ini, ketakwaan yang dinukilkan oleh Al Quran akan dimiliki bagi orang yang shaum mengandung makna kebaikan dan kebergunaan diri di mana pun dia berada. Ketakwaan meliputi perkataan yang terucap menebar benih tumbuhnya kebaikan pada orang lain. Ketakwaan tercermin dalam perbuatan positif yang dapat dirasakan oleh lingkungan sekitarnya. Alangkah indah dan damai kehidupan jika kita semua mencapai ketakwaan itu. Rindu Ramadhan, rindu shaum dan rindu mencapai ketakwaan. (***)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
--------------------

Berita Populer

To Top