AMBONESIA

Sutopo: Pemerintah Harus Belajar Dari Penanganan DAM Waela

DAM Waela

RakyatMaluku.com – KEPALA Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB RI, Dr Sutopo Pujo Nugroho mengatakan, pemerintah maupun masyarakat Indonesia harus belajar banyak dari penanggulangan bencana dalam peristiwa jembolnya DAM Wai Ela desa Negeri Lima Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah pada 25 Juli 2013 silam.

Pasalnya, penanganan prabencana, mitigasi bencana, latihan kebencanaan dari semua pihak yang melibatkan warga Negeri Lima dilakukan untuk mengurangi resiko bencana. Tak hanya itu, bahkan kesiapsiagaan yang tinggi dari warga Negeri Lima dalam meningkatkan pemahaman warga terhadap bahaya bencana dapat meminimalisir jumlah korban jiwa.

Kata Sutopo, resiko bencana di negeri setempat sangat besar bila di bandingkan dengan jembolnya bendungan buatan di Situ Gintung Tangerang Selatan pada 2009.

Menurutnya, Kalau lihat bencana jebolnya Wai Ela, patut disyukuri karena korban jiwa sangat kecil bila dibandingkan dengan resiko bencana yang begitu besar. Sebab, sudah ada langkah antisipasi penanggulangan bencana dari berbagai pihak sebelumnya. Bahkan, yang terpenting masyarakatnya memiliki kesiapsiagaan yang tinggi atas resiko bencana sehingga korban bisa dihindarkan.

“Karena itu, masyarakat Indonesia belajar banyak dari penanggulangan bencana Wai Ela terutama jumlah korban jiwa,” ujar Sutopo Purwo saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) wartawan dalam penanggulangan bencana di The Natsepa Hotel Ambon, Rabu 18 Juli 2017.

Sutopo menjelaskan, jumlah korban di Bendungan Wai Ela jika dibandingkan dengan bencana jembolnya danau buatan Situ Gintung di Tangerang Selatan pada 2009 jauh berbeda. Tanggul setinggi 6 meter dan lebar 30 meter itu jebol pada 27 Maret 2009 dan menghanyutkan ratusan rumah yang ada di sekitar tanggul maupun di bawah tanggul. “Pada peristiwa itu, sebanyak 99 orang dinyatakan menjadi korban jebolnya danau. Perbandingan yang cukup jauh dengan bencana di Wai Ela,” tandasnya.

Kata dia, volume air yang tumpah dari Situ Gintung hanya sekitar sepersepuluh dari yang terjadi di Wai Ela, Negeri Lima yakni sekitar 1,5 juta meter kubik. “Volumenya itu jauh lebih banyak di Wai Ela Negeri Lima, hanya sepersepuluh. Tapi banyak korban di Situ Gintung.” Dosen pascasarjana Universitas Pertahanan UI dan IPB itu sangat mengapresiasi respon warga di sekitar tanggul Wai Ela. Dua hari sebelum jebol, pihaknya melakukan berbagai kesiapan prosedur penyelamatan diri.

Mulai dari pemasangan sirine dekat tanggul dan lainnya. Sirine akan berbunyi jika tinggi permukaan air ada pada level tertentu. Warga juga dilatih menyelamatkan diri melalui rute menuju lokasi aman, cara mendirikan tenda darurat hingga apa yang harus dilakukan di lokasi pengungsian.

Berdasar pemahaman itu warga pun kompak melakukan langkah awal dengan mengemasi barang-barang. Sehingga saat kejadian bencana, warga langsung bergerak menuju lokasi aman. Air tanggul yang tumpah sebanyak 8,7 juta meter kubik itu pun hanya menghanyutkan sebagian pemukiman Negeri Lima dan pepohonan.

Sementra korban jiwa tercatat hanya dua orang. Jumlah yang sangat kecil dibanding dengan resiko bencana Wai Ela dan kejadian Situ Gintung. “Yang satu itu karena balik ke rumah ambil barang lalu tersapu air yang datang. Satu lagi korbannya tuli, jadi tidak dengar sirine,” bebernya. (R1)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top