NEWS UPDATE

Warga Adat Akan Melakukan Pembersihan Di Gunung Botak

RakyatMaluku.com – PEMAKAIAN mercuri dan ciannida di kawasan Gunung Botak, sangat mere­sahkan masyarakat Buru terutama warga adat. Maraknya bahan kimia berbahaya ini sudah memakan korban jiwa. Atas dasar itulah, warga adat Buru hendak menertibkan penambang di daerah emas tersebut. Beruntung aparat kepolisian sigap membubarkan massa yang nyaris naik ke Gunung Botak, Kamis, 19 Juli 2018.

Pantauan koran ini di Dusun Wamsait, Desa Dava, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, ratusan warga baik tua maupun muda, datang dari desa mereka masing-masing dengan membawa alat tajam berupa parang dan tombak, hendak naik Gu­nung Botak. Sebelum menuju sasaran, warga Adat dipimpin pemuka-pemuka adat ini berkumpul di rumah salah satu masyarakat di Jalur H.

Warga pun duduk membicarakan persoalan pencemaran lingkungan. Setiap orang yang berbicara, didengar dan ditampung untuk diambil kesimpulan sebelum naik ke gunung. Waktu berkumpul, sekitar pukul 13.00 WIT, Kapolsek Waeapo Ipda Novit P, bersama anggotanya datang dan rapat bersama mereka. Kapolsek mendengar semua keluhan warga.

Ada yang ngotot agar naik guna membersihkan kolam-kolam rendaman, ada juga yang memberi waktu kepada Kapolsek untuk bagaimana polisi sendiri membersihkan rendaman-rendaman di Gunung Botak yang diduga tercepar bahan kimia. Pada kesempatan itu, Kapolsek dengan tenang melarang karena ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama, Pasalnya, ratusan warga adat membawa barang tajam.

“Bukan saya tidak mau bapak-bapak naik untuk menertibkan para penambang liar, tapi kami khawatir akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan terjadi. Seperti bentrokan. Karena penambang di atas juga banyak,” kata Kapolsek.
Mendengar ungkapan Kapolsek, sejumlah pimpinan adat tidak terima. Bahkan mereka menu­ding polisi melindungi penambang ilegal yang telah jelas melakukan pencemaran yang dapat membahayakan nyawa warga.

“Bapak-bapak kenapa membela orang yang salah (penambang ilegal) Kami ke atas (Gunung Botak) bukan untuk berkonflik atau bentrok. Tapi kami ingin membicarakan secara baik baik dengan penambang. Biar tertib dan ada batas batas yang harus di jaga,” hardik sejumlah pimpinan berpakaian adat.

Sementara usai pertemuan, Ketua Panitia Adat Bersatu, Umar Nurlatu kepada wartawan, men­yayangkan sikap yang dilakukan polisi. Padahal, maksud warga adat hanyalah agar tidak terjadi lagi pencemaran limbah kimia yang berujung kematian, baik dialami warga maupun hewan.

“Kami ke atas juga untuk membuat tapal batas antara Koperasi dan adat. Supaya masyarakat adat bisa tau ini kita punya batas kerja. Tapi kami di cegat oleh kepolisian. Ada apa dibalik semua ini,” ungkapnya.

Ia menduga, pencegatan yang dilakukan kepo­lisian ada sesuatu. Sehingga sebagai masyarakat adat tidak terima. Ia menegaskan, pihaknya akan tetap berjuang kemanapun.

“Walaupun kami tidak punya kepeng (duit), tapi kami akan terus berjuang, bila perlu sampai di pusat,” tegasnya.
Masyarakat adat merasa kecewa dengan H. Umar Nurlatu sebagai ketua panitia adat sebelumnya. Sebab, selama lebih satu tahun, pengelolaan Gunung Botak hanya untuk menafkahi pribadi tanpa melihat kesejahteraan masyarakat adat lainnya.

“Olehnya itu kami masyarakat adat sudah ber­satu dan memberhentikan H. Umar. Tapi sampai saat ini dia masih terus bekerja. Dan masa polisi bela pihak yang salah,” ujarnya.

Menurutnya, di Gunung Botak saat ini, merkuri dan cianida sudah merajalela. “Kemarin (Rabu) ada 1 orang juga meninggal. Orang bugis, gara gara merkuri dan cianida,” aku Nurlatu.

Atas kejadian itu, maka hari ini pihaknya kemarin terpaksa mengambil tindakan sendiri untuk menertibkan Gunung Botak.

“Ini semua untuk memberantas cianida dan merkuri di atas (Gunung Botak). Tapi kami di cegat polisi. Katanya kami akan ciptakan konflik di atas. Padahal kami ingin membenahi agar menjadi baik,” sesalnya. Olehnya itu, tambah Dia, meski kemarin di cegat polisi, namun pihaknya memberikan waktu selama dua hari kepada pihak kepolisian.

Jika belum ada tindakan maka warga adat akan mengerahkan kurang lebih 6000 orang untuk melakukannya sendiri.

“Kami kasih waktu selama dua hari kepada polisi. Jika tidak di benahi, maka kami akan kerahkan kurang lebih 6000 warga adat ke Gunung Botak,” ancamnya. (AAN)

======================
--------------------

Berita Populer

To Top